Senin 17 Oktober 2016, 07:30 WIB

Menjadi Kreatif saat Sakit

Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta | Opini
Menjadi Kreatif saat Sakit

Ahmad Baedowi, Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Ahmad Baedowi---MI/ADAM DWI

MESKIPUN badan saya lunglai tak berdaya karena menahan dan merasakan sakit yang tak pernah diharapkan, ada yang aneh dengan pikiran saya. Tetap mencoba mencari ide dasar apa yang akan saya tulis dalam kolom Calak Edu minggu ini merupakan imajinasi yang tak bisa dikekang.

Dalam rintihan rasa sakit yang luar biasa, saya tetap mencoba berpikir tentang pendidikan, tentang sekolah, tentang rekan-rekan guru, terutama tentang anak-anak yang setiap hari pergi ke sekolah.

Pendek kata, badan bisa sakit, tetapi pikiran harus tetap memiliki semangat untuk menuntun tubuh ini berpikir positif dan kreatif, dengan harapan tubuh akan terpengaruh oleh pikiran yang tetap sehat.

Seperti halnya mengajar, kadang kala setiap guru dihinggapi perasaan bosan, padahal badannya sehat. Saya lebih memilih punya pikiran yang sehat daripada memiliki badan sehat, tetapi kerap menghadapi gangguan psikologis seperti rasa malas dan tidak kreatif.

Alasannya sangat sederhana, menjadi guru kreatif ialah idaman setiap siswa, di mana pun guru itu mengajar. Namun, untuk menjadi kreatif, dibutuhkan banyak sekali latihan kebiasaan, termasuk salah satunya melatih kebiasaan cara berpikir.

Jika kreativitas merupakan harapan capaian tertinggi dari taksonomi Bloom di ranah psikomotorik, sebelum guru mencobanya terhadap siswa-siswi mereka, ada baiknya guru melatih cara berpikir kreatif sesuai dengan mata ajar yang diasuhnya.

Bagaimana caranya? Sebuah buku apik berjudul Habits of Mind Accross the Curriculum: Practical and Creative Strategies for Teachers (Arthur L Costa and Benna Kallick, Ed, 2009) mungkin bisa jadi pemandu bagi setiap guru yang hendak lebih kreatif dalam mengajar.

Buku itu merupakan sebuah entry point untuk melihat sejauh mana kebiasaan berpikir guru dituangkan dalam sebuah lembar rencana belajar (lesson plan). Perilaku berpikir guru yang tidak terlatih akan menyebabkan cara mengajar guru sulit berkembang dan menjadi sulit diserap siswa.

Kisah-kisah yang ada di dalam buku ini menunjukkan kebiasaan berpikir guru yang dituangkan dalam gagasan ketika membuka pelajaran dan mengintegrasikannya ke dalam kurikulum sesungguhnya akan membuat guru lebih kreatif dan daya serap pemahaman siswa lebih maksimal.

Untuk membantu dan melatih komunikasi dalam ruang belajar agar berjalan dengan lebih kondusif, penggunaan visualisasi seperti gambar dan film merupakan salah satu cara untuk membuat guru dan siswa lebih familier dengan habits of mind.

Lima kebiasaan
Meskipun para guru sering menganggap dan mengasumsikan kebiasaan sebagai sekumpulan perilaku yang diinginkan dari setiap siswa, dalam praktik, itu tidak mudah dilakukan. Kebiasaan hanya mungkin tumbuh melalui sebuah praktik secara berkesinambungan.

Namun, sering ditemukan guru yang tak cukup mempunyai daya jelajah imajinasi agar kebiasaan tersebut terus berlangsung. Jika banyak guru menginginkan siswa-siswi mereka memiliki pendirian yang teguh (persistence), mereka perlu menyediakan ragam masalah dan pengayaan tugas untuk jangka waktu yang lama dan terpantau dengan baik dalam proses belajar mengajarnya. Apa saja kebiasaan-kebiasan pikiran yang perlu diketahui dan dilatih para guru?

Ada lima kebiasaan yang jika dilatihkan secara rutin oleh para guru terhadap siswa, kemungkinan pembelajaran yang berlangsung lebih kreatif akan diperoleh.

Pertama ialah persisting, yaitu melatih pikiran untuk tidak mudah menyerah dalam melakukan sesuatu, belajar fokus, dan selalu mencari cara untuk menggapai tujuan pembelajaran yang ideal. Determinasi guru akan tampak pada penerimaan sikap siswa yang melebur dalam proses belajar-mengajar yang pantang menyerah.

Kedua, belajarlah menjadi pendengar yang baik dengan memahami sekaligus berempati (Listening with understanding and empathy). Guru hendaknya selalu menyediakan energi untuk mengetahui pikiran, ide, dan emosi para siswa.

Ketiga, cobalah juga berlatih untuk memikirkan apa yang Anda pikirkan (metacognition). Prinsip mengetahui apa yang kita ketahui akan menuntun guru untuk selalu berhati-hati dengan strategi, cara berpikir, perasaan, dan tindakan yang berakibat terhadap orang lain.

Kemampuan metacognition sangat penting untuk dilatih setiap saat karena prinsip kehati-hatian dalam memandang pikiran dan emosi siswa akan menjadi kebiasaan yang baik dan guru pada akhirnya akan mampu dan terbiasa, baik dalam membuat perencanaan pembelajaran maupun ketika mengajar.

Kemampuan keempat yang juga penting untuk dilatih ialah mengembangkan strategi bertanya kepada murid dalam rangka memosisikan setiap masalah pada tempatnya (questioning and posing problem). Melatih dan memiliki sikap yang baik dalam bertanya akan menuntun guru dan siswa untuk memecahkan setiap persoalan berdasarkan fakta dan data yang ada.

Kebiasaan itu juga akan mengembangkan sikap dasar guru dan siswa untuk terbiasa berpikir kritis dan rasional. Kelima, guru juga perlu melatih kebiasaan berpikir dan berkomunikasi dengan jelas dan terukur (thinking and communicating with clarity and precision).

Dalam mengajar, kejujuran dalam menyampaikan sebuah ide, gagasan, dan konsep secara jelas dan terukur ialah kebutuhan guru dan siswa sekaligus. Guru selayaknya selalu berusaha untuk mengomunikasikan gagasan, ide, dan konsep dengan akurat, baik secara lisan maupun tertulis. Hindari kebiasaan melakukan generalisasi secara berlebihan, memutarbalikkan fakta, dan terlalu membesar-besarkan masalah sehingga informasi (gagasan, ide, konsep) menjadi tidak jelas dan kurang akurat.

Semua kebiasaan itu dapat terjadi jika seorang guru terbiasa membaca dan menulis, dan dalam benaknya memiliki jutaan vocabulary tanpa batas. Itulah penanda mengapa seseorang yang kuat secara bahasa akan sanggup memengaruhi orang lain dengan cara yang tidak biasa, misalnya melalui proses belajar yang penuh imajinasi dan tanda tanya.

Selain itu, kekuatan kata dari seorang guru juga menunjukkan akal sehat dan logika yang kuat. Di tengah kepercayaan guru, para pendidik, menteri, hingga masyarakat luas tentang pentingnya sebuah ujian nasional untuk menguji standar kognitif atau pengetahuan seorang siswa, saya justru malah bertambah yakin tujuan pendidikan bukanlah semata pengetahuan, melainkan menumbuhkan rasa kemanusiaan terhadap diri seorang siswa agar mau menjadi manusia yang menghargai sesamanya secara beradab (wellbeing).

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More