Minggu 16 Oktober 2016, 04:01 WIB

Membuncah Lagi

Meirisa Isnaeni | Opini
Membuncah Lagi

ANTARA/Rivan Awal Lingga

LIHAT Ahok, Emosi Novel Membuncah. Itu judul berita sebuah media daring. Isinya pun menceritakan kemarahan Habib Novel Bamukmin soal kesalahpahamannya tentang video Ahok menyinggung Alquran. Sebagai bentuk luapan kemarahan itu, Novel berteriak kepada Ahok. Jarak Ahok dan Novel yang tak lebih dari 10 meter pun membuat orang-orang di sekitar sontak kaget. Judul berita itu rupanya mengusik penulis. Kata membuncah bertentangan dengan isi berita yang menceritakan kemarahan.

Dalam berita itu, kata membuncah seolah-olah bersinonim dengan kata 'meluap, menggebu-gebu, dan ambisius'. Selama ini penggunaan kata membuncah yang seolah bersinonim dengan kata-kata tersebut pun banyak ditemukan. Misalnya, gairahnya membuncah saat bertemu dengan sang kekasih. Namun, benarkah kata membuncah mempunyai arti yang sama dengan 'meluap, menggebu-gebu', dan 'ambisius'? Sebenarnya, kata membuncah mempunyai arti yang bertolak belakang dengan yang dimaksud.

Dalam KBBI IV, kata buncah yang berkelas kata sifat itu berarti 'keruh (tentang air) atau gelisah dan kacau (tentang pikiran dan hati)'. Jadi, jika ditambah afi ks me(N)-, kata itu menjadi membuncah dan berarti 'menjadi gelisah'. Dengan demikian, penggunaan kata itu tidaklah pas dengan konteks berita karena maknanya akan berubah, yaitu emosi Novel menjadi keruh/ gelisah. Padahal, yang dimaksud ialah emosinya meluap. Tentunya sangat tidak pas jika kata tersebut digunakan dalam konteks berita itu.

Kesalahkaprahan itu tidak hanya terjadi pada kata membuncah, tetapi juga pada kata lain, misalnya, kata nyinyir, acuh, dan entas. Kesalahan kata nyinyir banyak terjadi di media sosial. Nyinyir kerap diartikan 'sinis, mencela, atau menyindir'. Namun, jika diselisik lebih lanjut, kata nyinyir berbeda dengan arti dengan yang dituju. Dalam KBBI IV, kata nyinyir sebenarnya bermakna 'mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet'.

Dapat kita lihat pada kalimat (1) Nenekku kadang-kadang nyinyir, bo san aku mendengarkannya, Tentu kata itu sangat berbeda dengan kata menyindir yang berasal dari kata dasar sindir. Kata sindir mempunyai arti 1n celaan; ejekan; 2 v menyindir, sedangkan menyindir berarti mengkritik (mencela, mengejek, dsb) seseorang secara tidak langsung atau terus terang. Selain itu, ada kata acuh dan entas. Khalayak umum memaknai kata acuh sebagai sikap ti dak peduli. Padahal, sejati nya kata acuh justru bermakna 'pe duli'. Pun demikian dengan kata entas, yang bermakna 'memperbaiki' sehingga tidak dapat dipasangkan dengan kata miskin.

Mengapa terjadi salah kaprah? Menurut pakar linguistik Harimurti Kridalaksana, salah kaprah merupakan pemakaian bahasa yang secara gra matikal atau historis dianggap salah, tetapi karena lazim, diterima umum, tidak bisa 'diperbaiki lagi'. Hal itu terjadi karena masyarakat se lalu menggunakan kata yang salah kaprah itu se hingga seolah-olah menjadi benar. Karena itu, pemakai hendaknya lebih berhatihati dalam berbahasa. Kasus seperti itu paling tidak harus bisa dikurangi, jika tidak bisa dihilangkan sama sekali.

MEIRISA ISNAENI

Staf Bahasa Media Indonesia

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More