Sabtu 12 September 2015, 00:00 WIB

Berlomba Memanusiakan Sesama yang Papa

Berlomba Memanusiakan Sesama yang Papa

AP/MICHAEL SOHN

 
AKTIVITAS Frank Dittrich, pensiunan warga Jerman, kini tak lagi membosankan. Setiap hari mulai pukul 08.00 hingga pukul 19.00 selama empat minggu terakhir, ia menyambangi pusat registrasi migran untuk mendistribusikan air bagi mereka.

"Jauh lebih baik jika saya memanfaatkan waktu saya daripada berdiam diri di rumah di depan televisi," kata dia.

Dittrich turun tangan membantu migran mengingat terlalu banyak orang yang menunggu mendaftar, sedangkan tidak ada jalan bagi pemerintah untuk mengatasi hal ini bersamaan. "Mereka (migran) membutuhkan bantuan."

Bukan hanya Dittrich, ribuan warga Jerman secara sukarela bergabung membantu. Beberapa di antara mereka berjalan ke stasiun kereta memberikan boneka beruang, sebagai hiburan, kepada anak-anak yang kelelahan begitu turun dari kereta.

Warga lainnya memberikan pelajaran bahasa Jerman, membantu menerjemahkan bahasa, bahkan mempersilakan migran tinggal sementara di rumah mereka. Salah seorang sukarelawan membawa perlengkapan bayi seperti popok bayi dan selimut sampai pakaian musim dingin.

"Setiap akhir pekan atau malam, Anda akan melihat mobil satu per satu datang dengan penuh barang untuk pengungsi," kata Anderl Kammermeier, sukarelawan.

Lebih dari sekadar rasa simpati, kedatangan migran yang memprihatinkan ini mengingatkan Jerman pada era Nazi, di saat warganya juga terpaksa bermigrasi. Kammermeier mengatakan warga Jerman memiliki setidaknya anggota keluarga yang juga merupakan pengungsi.

Dalam kolom editorial berjudul 'Saya juga Seorang Pengungsi', penulis pemenang Nobel Herta Mueller mengingat bagaimana ratusan dari ribuan warga Jerman meninggalkan negara mereka selama Era Nazi dan bagaimana ribuan lainnya melarikan diri dari partai komunis Eropa Timur dan Jerman Timur.

"Saya juga pengungsi dari Rumania. Di Rumania orang-orang berbicara mengenai penyakit pengungsi. Alasannya, mereka ragu, takut mati, dan tidak punya harapan," kenangnya.

Dengan rasa sepenanggungan tersebut, Jerman sudah seharusnya memiliki tanggung jawab kepada migran. Mueller menyebut simpati merupakan wujud dari kemanusiaan. Berdasarkan survei Yougov, seperti dilansir Agensi Pers Jerman (DPA), satu dari lima warga Jerman telah membantu pengungsi.

"Orang berpikir bahwa Jerman itu dingin dengan masyarakat yang rasional. Padahal, sebenarnya mereka orang yang sangat emosional. Mereka tidak tahan melihat orang menderita seperti ini," kata Bruhn, sukarelawan. (AFP/Yanurisa Ananta/X-5)

Baca Juga

Medcom

Serangan terhadap Sekolah di Kamerun, 8 Siswa Tewas

👤Faustinus Nua 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:24 WIB
PBB mengatakan serangan itu merupakan salah satu yang terburuk di wilayah tersebut hingga saat...
Dok : Reuters/Medcom.id

Kasus Covid-19 Prancis Lampaui 1 Juta

👤Nur/AFP/I-1 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:10 WIB
Pada Kamis, Prancis melaporkan rekor harian kasus baru sebanyak 41.622 dan jumlah pasien dalam perawatan intensif berada pada level...
AFP/Medcom.id

Jika Terpilih, Biden Janjikan Vaksin Covid-19 Gratis di AS

👤Nur/AFP/I-1 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 06:03 WIB
Lonjakan kasus terjadi kurang dari dua minggu sebelum pemilihan presiden yang akan berlangsung pada 3 November. Virus menghantam sejumlah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya