Kamis 06 Oktober 2016, 23:18 WIB

Industri Sawit Harus Siap Hadapi Tekanan LSM Asing

Administrator | Ekonomi
Industri Sawit Harus Siap Hadapi Tekanan LSM Asing

ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo

 

TEKANAN dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) atau NGO asing kepada industri kelapa sawit Indonesia semakin meningkat, sehingga praktisi industri kelapa sawit diminta semakin siap menghadapi tekanan tersebut, demikian dikatakan Direktur Utama Badan Pengelolaan Dana Perkebunan (BPBD) Bayu Krisnamurthi, di Jakarta, Kamis (6/10).

Bayu mengungkapkan, gangguan yang dilakukan LSM asing terhadap pengelolaan perkebunan kelapa sawit nasional dengan 'kampanye hitam' meski belum banyak berpengaruh, tetapi tetap harus diwaspadai oleh Indonesia. Meski demikian, produksi dan kualitas sawit Indonesia terus mengalami perkembangan pesat di kancah perdagangan global.

"Terbukti sejak Januari hingga Agustus 2016, ekspor kelapa sawit Indonesia mencapai 28 juta ton," ujar Bayu.

Ia menduga, pernyataan negatif yang kerap dikampanyekan LSM asing terhadap pengelolaan kelapa sawit Indonesia mempunyai motif lain yaitu sebab persaingan usaha dari negara lain.

"Banyak yang menduga demikian. Kampanye negatif LSM asing ke industri kelapa sawit Indonesia diduga persaingan usaha dari negara lain," ucap Bayu.

Menurut dia, hal tersebut dapat dilihat dari pengelolaan kelapa sawit Indonesia yang memiliki keunggulan dari negara-negara asing, sehingga cukup membuat mereka kelabakan.

Bayu menyebutkan, secara produktivitas dan produksi, kelapa sawit nasional amat berkualiatas jika dibandingkan dengan negara asing.

"Kelapa sawit Indonesia memiliki produktivitas yang tinggi dan produksi yang efisien," kata dia.

Saat ini, ujar Bayu, ekspor kelapa sawit Indonesia di perdagangan global hanya bersaing dengan Malaysia. Ekspor minyak kelapa sawit juga terus bersaing dengan minyak nabati lain dan minyak kedelai yang diproduksi Brasil, Argentina, dan beberapa negara lain.

Berdasarkan data yang dirilis BPBD, ekspor kelapa sawit Indonesia pada tahun ini per Januari sampai Agustus mampu menembus ke 26 negara. Kondisi tersebut tentu saja mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2015 yaitu ke 13 negara saja.

"Kondisi tersebut bukan hal yang baru untuk Indonesia dan menunjukkan daya saing minyak kelapa sawit nasional yang tinggi," ucap Bayu. (RO/OL-4)

Baca Juga

ANTARA/NOVA WAHYUDI

​​​​​​​31 Juta Warga Rasakan Keringanan Tarif Listrik

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 01 April 2020, 19:12 WIB
Masyarakat dapat menikmati keringanan tarif listrik tersebut selama tiga bulan yang dimulai April-Juni...
Antara/Syaiful Arif

BKPM Minta Investor di Industri Alkes Naikkan Kapasitas Produksi

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 01 April 2020, 18:35 WIB
Bahlil menegaskan, pihaknya akan mengerahkan industri alkes untuk meningkatkan produksi secara besar-besaran....
Ilustrasi

3 Tips Atur Keuangan Rumah Tangga di Tengah Pandemi Covid-19

👤Fetry Wuryasti 🕔Rabu 01 April 2020, 18:16 WIB
Ini beberapa tips agar pengeluaran ekstra bisa...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya