Selasa 11 Oktober 2016, 20:40 WIB

Polisi Panggil Enam Pelaku Karhutla di Limapuluh Kota

Antara | Nusantara
Polisi Panggil Enam Pelaku Karhutla di Limapuluh Kota

ANTARA FOTO/Irwansyah Putra

 

KEPOLISIAN Resor (Polres) Limapuluh Kota, Sumatra Barat, memanggil enam pelaku yang diduga mengetahui penyebab kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah itu.

Kapolres Limapuluh Kota, AKBP Bagus Suropratomo Oktobrianto, di Sarilamak, Selasa (11/10), mengatakan, pemanggilan tersebut untuk menyelidiki apakah peristiwa tersebut terbakar atau sengaja dibakar.

Hal itu dikatakannya saat memberikan keterangan pers terkait penganganan bencana karhutla di Kabupaten Limapuluh Kota bersama pemerintah setempat, serta beberapa instansi terkait.

Ia mengatakan, jika saat pemeriksaan ditemukan adanya indikasi kesengajaan serta barang bukti, prosesnya akan ditingkatkan ke penyidikan.

Bagus menambahkan, hal itu untuk memberikan efek jera terhadap masyarakat yang lain, sehingga mereka tidak menyepelekan percikan api, apalagi kondisi saat ini dilanda kemarau panjang.

Bupati Limapuluh Kota, Irfendi Arbi, menyebutkan, saat ini ada 30 titik api di kabupaten tersebut, di mana lokasinya tersebar di lima kecamatan, yakni Harau, Luar, Lareh Sago Halaban, Pangkalan Koto Baru, dan Kapur IX.

Ia merincikan, untuk Kecamatan Harau ada 16 titik, yakni di Lembah Harau enam titik, Ketinggian dua titik, Gurun dua titik, Taram empat titik, Bukit Limbuku satu titik, dan Solok Bio-Bio satu titik.

Kemudian di Kecamatan Luak, tepatnya di Nagari Andaleh dua titik, serta Nagari Subarang Aia Kecamatan Lareh Sago Halaban tiga titik.

Sementara di Pangkalan Koto Baru lima titik dan kapur IX tiga titik. Pihaknya mengapresiasi kecepatan tim dari Kementerian Lingkungan Hidup, Lanud Padang, BKSDA Sumbar, BPBD Sumbar, serta Dinas Kehutanan dalam memadamkan api sehingga bencana kebakara di daerah itu tidak separah yang terjadi di Riau.

Ia mengimbau semua masyarakat agar lebih berhati-hati dengan api serta tidak membuangnya di sembarang tempat, hal itu mengingat musim kemarau yang melanda daerah itu sejak beberapa bulan terakhir.

"Jika kemarau dan kebakaran terus berlanjut, maka kami akan menyelenggarakan salat istisqa atau salat minta hujan," kata dia. (OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More