Rabu 12 Oktober 2016, 00:45 WIB

Peradaban di Jantung Karst Sangkulirang

Briyan B Hendro | Nusantara
Peradaban di Jantung Karst Sangkulirang

METRO TV/WILDAN INDRAWAN

 

DEBU-DEBU beterbangan menutup jarak pandang di belakang mobil empat gardan yang saya tumpangi untuk menuju basecamp induk tim Black Borneo Expedition 2016 di Desa Karangan, desa terakhir yang ditempuh selama dua jam perjalanan menggunakan kendaraan roda empat. Sebelumnya, saya harus menempuh perjalanan dua hari dari Balikpapan dan Sangatta sepanjang 48 km. Sesampai di basecamp pada Selasa (6/9), saya bersama tim beristirahat di tiga rumah panggung dari kayu yang biasa digunakan para karyawan PT Segara Indochem untuk beristirahat. Wilayah itu merupakan titik terakhir yang bisa dilalui kendaraan.

Rencananya pada Kamis (8/9), tim ekspedisi akan mendaki Gunung Beriun. Akhirnya, pada hari H, seluruh tim bergerak menuju Gunung Beriun dengan mendaki dan menuruni punggung hutan serta beberapa kali menyeberangi Sungai Marak. Setelah dua jam perjalanan, tim menemukan jalur khusus untuk membawa kayu. Jalur logging ini sengaja dibuat perusahaan penebangan kayu. "Jalur logging ini memanjang sampai ke atas Gunung Beriun. Mereka mengincar kayu-kayu yang kualitasnya bagus dan berusia tua," kata Ketua Pertahanan Adat Dayak Basap, Firmansyah.

Untuk membawa kayu-kayu hasil tebangan di hutan Gunung Beriun, perlu jalan khusus dengan lebar sekitar 5 meter agar kendaraan bisa melintas. "Kayu yang tidak masuk produksi pun terkena dampaknya. Ikut ditebang," ujar pria yang mengaku lahir di gua batu karst sekitar Gunung Beriun 47 silam.

Dalam perjalanan dari basecamp induk menuju kamp 1, tim menemukan jamur hutan yang bersembunyi di balik lumut yang menghampar di tanah. Di sekitar hamparan jamur ada banyak ditemukan kantung semar (Nephentes spp.) Bentuk jamur seperti telur mata sapi. Masyarakat setempat menamainya jamur mata sapi. Jamur tersebut digunakan untuk pengobatan menurunkan kolesterol, meningkatkan stamina, mengobati diabetes, asma, hingga jantung.

Flora lainnya ialah anggrek hutan yang menjadi primadona hutan Gunung Beriun. Anggrek kuping gajah dan anggrek gurun merupakan tanaman hias primadona khas di wilayah itu. Ada juga anggrek hitam yang menjadi maskot flora Provinsi Kalimantan Timur. Namun, anggrek hitam saat ini mengalami penurunan populasi yang cukup signifikan, seiring dengan berkurangnya luas hutan di wilayah itu.

"Dahulu anggrek hitam banyak tersebar di Gunung Beriun. Sekarang populasinya makin jarang," ujar Firmansyah yang juga anggota Perhimpunan Pelestari Anggrek Kalimantan. Selain flora yang eksotis, juga banyak dijumpai satwa seperti ayam hutan, bekantan, payau, pelanduk, berbagai jenis tupai seperti tupai mangas, tupai nyakit, tupai tabu, tupai buki, dan tupai rang merah.

Warisan dunia
Melihat keindahan alam Gunung Beriun sangat cocok dijadikan tempat wisata alam. Apalagi, di wilayah itu terdapat bebatuan karst dengan gua yang memiliki aneka gambar peninggalan era prasejarah. "Kalau saya menganalogkan Beriun itu jantungnya karst. Posisi Beriun mampu memberi kelembapan alam bagi karst, memberi sumber air baik untuk karst maupun penduduk di desa," ujar Pindi Setiawan, peneliti dari Institut Teknologi Bandung yang turut dalam ekspedisi.

Lebatnya hutan Beriun mampu menjadi sumber pangan bagi satwa yang hidup di karst, terutama kelelawar dan walet. Pindi menambahkan, gambar cadas di karst Sangkulirang merupakan salah satu yang tertua di dunia. Usianya diperkirakan sudah 40 ribu tahun. "Jika dikelola dengan baik, wisata alam di Gunung Beriun bersanding dengan 'wisata 40 ribu tahun', bisa memakmurkan penduduk setempat," jelasnya.

Di Eropa, wisatawan yang ingin melihat gambar cadas di dalam gua harus membayar dengan harga mahal dan tidak mudah untuk mendapat izin untuk bisa melihat. Namun, di Indonesia, cukup datang ke Sangkulirang di kaki Gunung Beriun. "Saat ini ada sekitar 40 situs di Sangkulirang yang sudah terdata," kata Pindi yang sudah meneliti karst Sangkulirang sejak 1995.

Dari 40 situs itu, 15 situs di antaranya sudah terdaftar sebagai cagar budaya. Ia berharap pemerintah mengajukan kawasan karst Sangkulirang Mangkalihat sebagai warisan budaya dunia ke UNESCO. Menanggapi keinginan Pindi, Direktur Warisan dan Diplomasi Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadjamuddin Ramly, mengatakan karst Sangkulirang sudah direncanakan untuk diajukan Indonesia menjadi warisan budaya dunia. "Kita sudah adakan sosialisasi dan pameran di Samarinda, tapi kita masih perlu melengkapi dokumennya. Kalau bisa lebih cepat dan ada input data dari rekan-rekan, justru karst Sangkulirang bisa lebih dulu diajukan dibandingkan Sawahlunto dan Banda Neira, yang juga akan diajukan pemerintah," ujarnya.

Perjalanan mendaki Beriun terus berlanjut. Tim ekspedisi sudah berjalan mendekati puncak Beriun Raya sebagai tujuan akhir. Tim ekspedisi beristirahat di Advance Basecamp karena hari cepat menjadi gelap. Saat pagi tiba pada Minggu (11/9) sekitar pukul 04.00 Wita, saya terbangun karena angin bertiup kencang. Saat terbangun terlihat ada beberapa pacet menggerayangi kaki saya. Memang semakin dekat ke puncak gunung, hutan semakin rapat, gelap, basah, dan berlumut.
Tim pun bersiap untuk menuju puncak Beriun Raya.

Menuju puncak, pijakan kaki agak empuk karena di wilayah itu banyak lahan gambut yang tebal. Rasanya seperti menapak di karpet tebal. Tepat pukul 11.00 Wita, tim Black Borneo Expedition 2016 berhasil mencapai puncak Beriun Raya dengan ketinggian 1.261 mdpl. Untuk pertama kalinya sebuah kegiatan ekspedisi sekaligus pendataan flora dan fauna dengan penentuan spot di puncak Beriun Raya.

Sujud syukur dan tangis haru pecah di puncak. Upacara syukur khas adat Dayak menjadi penutup, sebelum tim turun kembali ke basecamp. Perjalanan selama ekspedisi yang saya rasakan merupakan perpaduan antara alam, peradaban manusia, dan kearifan lokal yang cukup sempurna di Beriun Raya. (N-3) briyan@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More