Minggu 09 Oktober 2016, 05:00 WIB

Anu

Henry Bachtiar | Opini
no-image.jpg

KATA anu itu sering kita dengar. Dalam obrolan sehari-hari, kita pun kerap kali mengucapkan kata itu. Ia beterbangan bebas ke mana saja. Begitu mudah kita mengucapkannya, betapa sering kita menjumpainya. Akan tetapi, sulit untuk menjelaskan arti dari kata anu meskipun kamus menyediakan deskripsi mengenai kata itu.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata anu (nomina) punya dua arti. Pertama, 'yang tidak disebutkan namanya (orang, benda, dsb)'. Contoh, Si anu membeli anu di toko. Arti kedua, 'untuk menyebutkan sesuatu yang namanya terlupa atau tidak diketahui'. Contoh, Gedung anu yang baru selesai dibangun itu akan diresmikan pemakaiannya besok. Kata anu diserap dari bahasa Jawa. Dalam Bausastra Jawa versi WJS Poerwadarminta tahun 1939, kata anu diartikan 'untuk menyebutkan hal/perkara yang kurang jelas'. Contoh, Dulu ketika ... anu. Namun, menurut penulis, kata anu tidak sebatas dalam pengertian di dalam kamus. Ada beribu makna dari satu kata itu. Ia bisa menjadi adjektiva, nomina, ataupun kata benda. Sebagai contoh, seseorang ditugasi atasannya untuk mengatasi sampah yang menyumbat aliran sungai. Orang itu berkata kepada atasannya, "Pokoknya besok anu itu, Pak.

" Bagaimana kita menjelaskan situasi tersebut? Banyak interpretasi untuk memaknai kata anu dalam kalimat itu dan mungkin hanya dua pihak yang terlibat dalam percakapan yang tahu. Bisa jadi dengan penyebutan kata anu dalam kalimat itu, kita mengartikan keduanya sama-sama tahu bahwa perkara penyumbatan aliran sungai akibat sampah akan dapat segera dibereskan. Dengan demikian, bisa saja ditarik kesimpulan bahwa kata anu mewakili kata beres (adjektiva). Kita bisa pula menginterpretasikan kata anu dalam kalimat yang disampaikan orang itu kepada atasan sebagai bentuk ketidakacuhannya atas permasalahan sampah yang menjadi tugasnya.

Kata anu dalam kalimat itu, misalnya, diganti dengan masa bodoh. "Pokoknya besok masa bodoh itu, Pak." Contoh lainnya, dalam situasi tertentu ada seorang petinggi berkelakar, "Kalau mau urusan ini lancar, kau kasih anu, ya." Tiba-tiba keesokan harinya sudah ada mobil baru terparkir di halaman petinggi tersebut. Betapa dahsyat kata anu dalam kalimat itu. Ia terucap dalam seloroh ringan, tetapi berbuah tanggapan serius berupa mobil baru.

Kita bisa menarik kesimpulan bahwa si peting gi itu memang sungguh-sungguh bergurau dan sebenarnya tidak mengharapkan imbalan mobil baru atas urusan yang akan ia tangani. Bisa saja penafsiran kita meleset. Mungkin saja kedua pihak yang terlibat sebenarnya sama-sama tahu bahwa kata anu yang dimaksud dalam kalimat tersebut ialah mobil (nomina). Bila demikian adanya, sang petinggi tentu bukannya lupa atau tidak tahu mengenai sesua tu itu sampai-sampai melontarkan kata anu. Bisa saja ia mengucapkan kata anu untuk menggantikan makna sebenarnya (mobil baru) lantaran punya maksud tertentu. Kata anu bisa mewakili apa saja karena ia berdiri bebas.

Namun, tidak semua kata bisa mewakili kata anu. Sejauh ini, menurut penulis, hanya satu kata yang mendekati untuk bisa mewakili kata anu, yakni polan. Kata polan diserap dari bahasa Arab. Artinya 'sebutan kepada orang yang tidak diketahui namanya; sebutan kepada orang yang tidak ingin disebutkan nama sebenarnya atau lupa'. Contoh, Bapak si polan itu telah pergi kemarin. Antara penting dan tidak penting, anu akan selalu ada dalam keseharian kita.

Henry Bachtiar
Staf Bahasa Media Indonesia

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More