Sabtu 08 Oktober 2016, 10:10 WIB

Vegetasi Terseleksi Hadang Banjir

Sanusi, Pranata Humas Kebun Raya Purwodadi LIPI | Opini
no-image.jpg

MUSIBAH banjir bandang di Garut, Jawa Barat, Selasa (20/9), langsung menjadi topik utama dari berbagai media massa karena dampak yang ditimbulkan begitu luar biasa. Dari semua suguhan informasi di media massa, salah satu yang diungkapkan ialah adanya hutan yang gundul. Padahal selama ini kita selalu berteriak-teriak tentang perlunya penghijauan atau penanaman kembali kawasan hulu yang mulai digunduli manusia-manusia serakah.

Penghijauan yang cuma kampanye tanpa aksi nyata hanyalah omong kosong. Dibutuhkan keseriusan stakeholders untuk melakukan upaya ini dengan cara yang terseleksi dan solutif. Harian Media Indonesia Rabu (21/9) mengutip penjelasan Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho yang menyebutkan adanya praktik penanaman dan perkebunan di lokasi bencana yang tidak menerapkan kaidah konservasi.

Padahal pelanggaran terhadap kaidah-kaidah konservasi justru bisa memicu terjadinya bencana serupa. Seperti di Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah memprediksi banjir bandang dan angin puting beliung akan melanda 22 kabupaten/kota di wilayah mereka (Media Indonesia, 26/9)

Kerusakan hutan di berbagai wilayah Nusantara menjadi penyebab utama terjadinya bencana tersebut. Pola pemanfaatan lahan yang kurang optimal dan tidak sesuai dengan tata ruang wilayah, mengabaikan kaidah-kaidah konservasi dan kelestarian serta penerapan teknologi yang kurang tepat, diindikasikan sebagai penyebab lajunya tingkat kerusakan lahan hutan dan perbukitan. Faktor lainnya ialah alih fungsi kawasan hijau untuk budi daya pertanian, perkebunan, permukiman, dan perindustrian.

Konservasi hutan, tanah, dan air perlu kembali menjadi ulasan para ahli. Peningkatan selektivitas jenis pohon dan teknologi penanamannya harus terus dilakukan secara efektif. Peningkatan produktivitas lahan seyogianya diikuti dengan langkah-langkah yang meminimalkan dampak negatif pengelolaan lahan, seperti erosi, sedimentasi, dan banjir.

Efektivitas tanaman
Terkait dengan peran tanaman, pohon-pohon tertentu dapat berfungsi melindungi permukaan tanah terhadap pukulan air hujan, melindungi daya transportasi aliran permukaan, dan menambah infiltrasi tanah. Berbagai jenis pohon dapat menjadi mediator yang dapat meningkatkan pasokan air dan cadangan air dalam tanah.

Cara ini dapat dilakukan dengan penanaman pohon pelindung tanah, penanaman sistem lorong, dan penghijauan. Untuk meningkatkan efektivitas mencegah terjadinya longsor dan banjir bandang, pola penanaman jenis terseleksi dapat diterapkan. Tanaman tersebut diharapkan dapat mencegah bencana serupa.

Menghadang banjir bandang bisa dilakukan dengan tanaman yang terseleksi. Itu sebabnya penghijauan di kawasan perbukitan harus berhati-hati. Jika ingin mengantisipasi longsor di perbukitan, pohon yang harus ditanam haruslah berakar tunggang yang bisa menancap agar bisa menjadi paku dan dapat menahan longsor.

Kebun Raya Purwodadi sebagai salah satu instansi vertikal di bawah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) punya berbagai informasi tentang tanaman terseleksi. Salah satunya ialah pohon beringin dan trembesi. Perakaran trembesi yang sangat kuat dapat menjalar secara meluas sehingga sangat cocok untuk penghijauan. Jaringan akarnya yang luas mampu menyerap banyak air tanah. Ia unggul dalam menanggulangi banjir sebab mampu menyimpan 900 meter kubik air tanah per tahun dan mampu mentransfer 4.000 liter air per hari.

Kedua pohon itu dapat dijadikan sebagai tanaman penghadang efek dari tingginya curah hujan. Selain itu diospyros dapat menjadi alternatif lain karena mempunyai akar tunggang yang dapat menjadi tandon air. Selain itu, bisa ditanam juga jenis sengon dengan jarak yang tidak terlalu rapat. Pohon jati emas juga dapat digunakan, sedangkan pohon bambu sebaiknya ditanam di kaki lereng perbukitan, tidak di atasnya.

Pemilihan jenis tanaman dengan jangkauan tinggi pohon juga harus berjenjang. Dengan tajuk tanaman bertingkat, tujuannya ialah mempertahankan air hujan selama mungkin guna mengurangi laju limpahan air hujan yang bisa mendatangkan banjir. Selain itu, jarak tanaman juga harus diatur. Di sela tanaman berat perlu ditanam tanaman ringan.

Kebun Raya Purwodadi menjadikan jenis diospyros dan jenis pohon sejenis sebagai koleksi unggulan dan berupaya mengembangkan dengan cukup intensif agar sebagian permintaan akan jenis-jenis ini dapat dipenuhi. Permintaan akan bibit ini terus menerus meningkat. Selama tiga tahun terakhir, penjualan bibit diospyros di kios botani Kebun Raya Purwodadi cukup tinggi. Dengan menanam dan memanfaatkan jenis ini setidaknya kita telah berperan serta menjaga lingkungan dari bencana longsor dan banjir bandang.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More