Kamis 06 Oktober 2016, 20:28 WIB

Masyarakat masih Tahan Belanja

Fathia Nurul Haq | Ekonomi
Masyarakat masih Tahan Belanja

MI/PANCA SYURKANI

 

MEMASUKI paruh kedua 2016, masyarakat Indonesia rupanya masih lebih memilih untuk menahan belanja. Hal itu tampak pada hasil Survei Konsumen Bank Indonesia September 2016. Di situ tergambar porsi belanja dan membayar cicilan utang dalam pembagian pos pendapatan rumah tangga turun masing-masing 0,5% ketimbang porsi bulan lalu.

"Porsi pendapatan responden yang digunakan untuk konsumsi menjadi 70,4% dan porsi pembayaran cicilan pinjaman terhadap pendapatan menjadi 11,9%," jelas Direktur Eksekutif Departemen Statistik BI Hendy Sulityowati dalam bincang-bincang media, Kamis (6/10).

Sebagai imbasnya, masyarakat meningkatkan porsi tabungan dari pendapatannya sebesar 1,1% menjadi 17,8%. Penyebabnya ialah turunnya daya beli masyarakat yang selama ini mengerek realisasi penjualan barang tahan lama seperti furnitur, perlengkapan elektronik maupun perlengkapan rumah tangga.

Di sisi lain, survei yang dilakukan terhadap 4,600 responden di 18 kota pada 18 provinsi itu menyebutkan adanya tekanan kenaikan harga pada 3-6 bulan mendatang. "Peningkatan tekanan terjadi pada seluruh kelompok komoditas, dengan kenaikan terbesar pada kelompok makanan jadi, minuman, roko, tembakau dan makanan lainnya," lanjut Hendy.

Situasi itu menyebabkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) turun 3,3 poin menjadi 110 jika dibandingkan bulan lalu. Dengan demikian, Hendy menyebut IKK rata-rata di triwulan III-2016 menjadi 112,5. Meski begitu, IKK triwulan III lebih baik ketimbang triwulan II-2016.

Konsumsi rumah tangga, sebut Hendy merupakan penopang utama pendapata domestik bruto (PDB), tahun lalu porsinya mencapai 55,9% dari total PDB nasional. (X-12)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More