Jumat 07 Oktober 2016, 08:10 WIB

Susu bagi Generasi Produktif

Wibowo | Ekonomi
Susu bagi Generasi Produktif

THINKSTOCK

 

BANYAK orang beranggapan susu hanya dibutuhkan bagi tumbuh kembang anak. Anggapan itu membuat orang dewasa jarang atau sama sekali tidak pernah mengonsumsi susu. Padahal, susu juga dibutuhkan orang dewasa. Penyebabnya, susu memiliki kandungan gizi alami yang berlimpah yang diperlukan tubuh, termasuk berfungsi sebagai antioksidan untuk menjaga mekanisme pertahanan tubuh terhadap penyakit.

Bukan cuma itu, zat kalsium dan protein yang diperoleh dari susu bisa dijadikan sebagai 'tabungan' bagi tubuh orang dewasa. Sayangnya, kesadaran untuk minum susu bagi orang dewasa masih sangat rendah. Penelitian Usage & Attitude Studies 2011 menunjukkan konsumen berusia 21-29 tahun hanya mengonsumsi 4 liter per kapita setiap tahunnya. Sementara itu, konsumen berusia 13-20 minum susu sebanyak 11 liter per kapita per tahun.

Survei itu juga mengungkapkan orang Indonesia paling rendah dalam mengonsumsi susu. Tingkat konsumsi susu orang Indonesia saat ini hanya 12 liter per kapita per tahun. Angka itu sangat jauh jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Thailand, misalnya, mempunyai tingkat konsumsi susu 17 liter per kapita per tahun.

Vietnam dan Malaysia justru lebih tinggi lagi, yakni masing-masing 20 liter per kapita per tahun dan 39 liter kapita per tahun. Padahal, kesehatan merupakan modal utama untuk berkarya, terutama bagi mereka yang berusia 18-30 tahun atau dikenal sebagai usia young-adulthood, yaitu generasi aktif dan produktif yang selalu berupaya mengejar mimpi dan menjawab tantangan kehidupan.

Psikolog Retno Dewanti Purba menuturkan mereka yang berusia 18-30 tahun selalu mengembangkan diri, mandiri, dan berdedikasi dalam menjaga komitmen. "Sikapnya adalah bersiap menghadapi 24 jam selama 7 hari untuk menghadapi berbagai tantangan dan menyikapi perubahan untuk kemajuan," kata Retno di Jakarta, baru-baru ini.

Ia mengatakan young-adulthood dalam psikologi merupakan generasi yang merealisasikan impian, menyelesaikan pendidikan lebih tinggi, mencari lapangan kerja, serta meraih kesuksesan baik dalam karier maupun bisnis yang dirintis. Karakter itu didukung fisik prima dan perkembangan otak sempurna untuk mengagas ide di masa keterbukaan sekarang ini serta menyelesaikan masalah sosial dan gaya hidup yang juga menjadi persoalan bagi young-adulthood.

Karena itu, untuk tetap mempertahankan semangat dan kemampuan itu, mereka harus memiliki sikap yang positif akan kesehatan. Hal ini penting lantaran keseimbangan jiwa dan raga memungkinkan generasi dewasa muda untuk mengeksplorasi dunia, menggali potensi, meraih berbagai kesempatan untuk menghasilkan sesuatu yang unik, merealisasikan mimpi, dan menghadapi berbagai tantangan di tahap perkembangan di masa mendatang.

Sumber gizi
Head of Marketing Ready to Drink PT Frisian Flag Indonesia, Jonathan Setiadi, mengatakan kesibukan the Yanks harus didukung dengan sumber gizi dari susu. Apalagi, kebiasaan minum susu semakin berkurang ketika anak beranjak dewasa. Karena itu, Frisian Flag Indonesia mendorong generasi usia dewasa muda untuk minum susu dengan Frisian Flag Purefarm Coconut Delight.

Produk yang terbuat dari kombinasi unik kebaikan susu dengan kandungan 7 vitamin dan 3 mineral itu yang dipadukan dengan rasa kelapa muda akan membantu konsumen memulai kembali kebiasaan minum susu. Susu, lanjut Jonathan, memiliki kandungan gizi alami berlimpah bagi tubuh. Susu juga berfungsi sebagai zat antioksidan untuk menjaga mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit dan memelihara kesehatan sebagai modal dalam berkarya. "Rasa kelapa mudanya yang unik memberikan sensasi kesegaran yang luar biasa," tambah Jonathan.

Manfaat mengonsumsi susu Frisian Flag Purefarm Coconut Delight dirasakan desainer muda Indonesia, Edo Huang. Pria berusia 27 tahun itu menilai rasa varian baru itu unik. Keunggulan tersebut mendorongnya untuk mengonsumsi susu yang berdampak bagi kesehatan tubuh. Apalagi, ia dituntut harus terus kreatif dalam menuntaskan pekerjaan. (S-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More