Jumat 07 Oktober 2016, 00:45 WIB

Rumah Modular Mampu Tekan Harga Jual

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Rumah Modular Mampu Tekan Harga Jual

MI/Agung

 

BESARNYA tingkat kebutuhan rumah selalu dihadapkan dengan tingginya harga rumah, padahal rumah merupakan salah satu kebutuhan dasar yang harus ada bagi setiap keluarga. Pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-Pera), berupaya mencari solusi dengan berbagai alternatif agar dapat menekan harga rumah. Salah satunya ialah rumah bersistem modular.

Rumah modular ialah metode pelaksanaan pembangunan rumah dengan memanfaatkan material atau komponen fabrikasi yang dibuat di luar lokasi proyek atau di dalam lokasi proyek yang nantinya akan disatukan. Penggunaan sistem rumah modular diyakini dapat menekan harga karena akan mendorong industrialisasi perumahan. "Kita berupaya agar rumah itu murah. Kalau kita ingin murah, salah satu solusinya ialah industrialisasi perumahan itu sendiri sehingga untuk rumah murah atau MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) tidak perlu adanya aspek arsitektur yang mendominasi, tetapi cukup arsitektur yang standar minimal dari kelayakan sebuah rumah," terang Dirjen Penyedia Perumahan Kementerian PU-Pera, Syarif Burhanuddin, dalam konferensi persnya di Jakarta, Senin (3/10).

Menurut Syarif, jika semua item dalam modular sudah terstandardisasi, itu akan dapat membuat rumah secara masif sehingga harga per unitnya akan berkurang. Selain itu, pembangunan rumah bersistem modular akan lebih cepat, lebih murah, dan dari segi kualitas sudah bisa terjaga. "Saya kira salah satu program ke depan kita akan dorong dalam hal industrialisasi perumahan. Jika kita ingin menurunkan harga rumah, segi arsitekturnya yang harus kita kurangi, sebab jika ingin rumahnya cantik indah dan penuh dengan teknik arsitektur tentu, konsekuensinya ialah biaya," jelas Syarif. Oleh sebab itu, menurut dia, sebuah rumah MBR tidak perlu berarsitektur rumit. Rumah tersebut cukup berdesain standar.

Ada 7 industri
Syarif mengatakan saat ini ada tujuh industri perumahan yang sudah datang ke Kementerian PU-Pera terkait dengan penyediaan rumah bersistem modular. Menurutnya, kecepatan membangun serta kualitas bangunan rumah itu jauh lebih bagus jika dibandingkan dengan rumah konvensional. “Untuk itu, diperlukan kerja sama dengan Balitbang (Badan Penelitian dan Pengembangan PU-Pera) untuk menilai tujuh perusahaan swasta tersebut sehingga ke depannya bisa dijadikan sebagai e-katalog.

Dengan begitu tidak perlu lagi dilakukan tender agar rumah MBR yang akan dibangun sudah jelas harga dan standardisasinya.” Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PU-Pera Lukman Hakim mengungkapkan sistem modular sudah banyak digunakan di Indonesia. Karena itu, ia merasa pengadaan rumah menggunakan sistem modular akan sangat prospektif dan akan menjadi industri yang akan berkembang.

"Efisiensi, utamanya dari segi waktu. Dengan harga per meternya Rp2 juta, pengerjaan pembangunannya tidak lebih dari dua minggu. Jika dibandingkan dengan rumah konvensional penghematannya bisa sekitar 20%. Namun, jika kebutuhannya nanti meningkat, bukan tidak mungkin harganya akan semakin turun," terang Lukman. Untuk target ke sistem e-katalog, menurut dia, diharapkan sudah bisa berjalan pada tahun depan.

Bahkan, tambahnya, ada rencana menunjuk Perumnas untuk mengembangkan sistem modular untuk dikembangkan di beberapa lokasi perbatasan. Meski sistem itu lebih condong dikembangkan untuk segmen MBR, Lukman mengatakan tidak tertutup kemungkinan sistem itu bisa digunakan untuk rumah non-MBR. "Nantinya memang untuk MBR, juga bisa menggunakan skema FLPP. Saat ini sedang di coba di Surabaya oleh pengembang yang memiliki sistem modular untuk mengembangkan di daerah Pandaan," terang Lukman. (S-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More