Kamis 06 Oktober 2016, 15:59 WIB

Cadangan Menipis, Ekspor Minyak Sawit Melambung

Gabriela Jessica Restiana Sihite | Ekonomi
Cadangan Menipis, Ekspor Minyak Sawit Melambung

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Fadhil Hasan -- MI/Susanto

 

CADANGAN minyak sawit Indonesia terus tergerus meskipun produksi mulai meningkat. Karena menipisnya stok, harga minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya terkerek naik dan ekspor pun melambung selama Agustus 2016.

Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Fadhil Hasan menjelaskan ekspor minyak sawit (CPO dan turunannya), termasuk biodiesel dan oleochemical, pada Agustus secara mengejutkan naik cukup signifikan, yaitu sebesar 29% atau dari 1,74 juta ton pada Juli menjadi 2,23 juta ton.

"Ekspor minyak sawit Indonesia tergenjot karena pasar mengantisipasi kenaikan harga minyak sawit global karena menipisnya cadangan minyak sawit Indonesia dan Malaysia," ucap Fadhil melalui keterangan resmi, Kamis (5/10).

Sementara itu, ekspor CPO dan turunannya ke negara-negara tujuan utama juga membukukan kenaikan yang siginifikan. Salah satunya Tiongkok yang membukukan kenaikan ekspor 69% atau dari 158,79 ribu ton pada Juli menjadi 267,98 ribu ton selama Agustus.

Kenaikan ekspor, kata Fadhil, juga diikuti oleh negara-negara Uni Eropa yaitu sebesar 43% atau dari 340,37 ribu ton menjadi 486,05 ribu ton pada Agustus. Ekspor ke India tercatat mencapai 497,3 ribu ton atau naik 42% dari Juli.

"Kenaikan permintaan paling signifikan secara persentase dibukukan oleh Amerika Serikat, yaitu sebesar 183% atau dari 47,73 ribu ton di Juli melambung menjadi 135,15 ribu ton di Agustus," ungkap Fadhil.

Di sisi lain, negara-negara Afrika dan Timur Tengah sebaliknya membukukan penurunan ekspor, masing-masing sebesar 43% dan 37%.

Fadhil mengatakan stok minyak sawit Indonesia memang terus menipis karena tingginya permintaan pasar global. Stok minyak sawit Indonesia pada Agustus tercatat turun 11% dibandingkan bulan sebelumnya atau dari 1,88 juta ton pada Juli menipis menjadi 1,695 juta ton.

Menipisnya stok minyak sawit di Indonesia dan Malaysia, kata dia, menimbulkan reaksi kenaikan harga. Harga CPO sepanjang Agustus bergerak di kisaran US$645–US$780 per metrik ton dan terus naik hingga September di kisaran US$740–US$795 per metrik ton.

"Karena para traders mulai mengadakan aksi beli sebelum harga semakin meninggi. Alhasil, harga minyak sawit global terkerek. Kita juga memperkirakan harga CPO di pasar global pada bulan ini masih akan bertahan di kisaran US$750-US$790 per metrik ton," imbuh Fadhil. (OL-3)

Baca Juga

Antara

Wakili Sinarmas, Hotman Paris Somasi Agen Penjual Reksa Dana

👤Faustinus Nua 🕔Rabu 27 Mei 2020, 23:40 WIB
Bibit merupakan salah satu agen penjual efek reksa dana produk kelolaan Sinarmas Asset...
Antara

The Jakarta Post Lakukan Pembenahan untuk Memasuki Era Digital

👤Antara 🕔Rabu 27 Mei 2020, 22:21 WIB
The Jakarta Post harus menekan biaya operasional dengan mengurangi biaya perekrutan (hiring) tenaga kerja kontrak serta kerja sama dengan...
Antara/Noveradika

Retail dan Logistik Punya Potensi Tumbuh di Tengah Pandemi Korona

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 27 Mei 2020, 20:58 WIB
"Kita lihat misalnya retail dan logistik relatif oke ya. Kebutuhan mereka untuk operasional tambahan dan investasi itu cukup kuat,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya