Mantan Bos IMF Disidang

Penulis: MI/WENDY MEHARI UTAMI Pada: Selasa, 03 Feb 2015, 00:00 WIB Internasional
Mantan Bos IMF Disidang

AP/Darko Vojinovic

DOMINIQUE Strauss-Kahn, 65, direktur lembaga International Monetary Fund (IMF) sepanjang 2007-2011, kemarin menjalani sidang di Pengadilan Lille, Prancis Utara. Strauss-Kahn dituduh membantu menyediakan pekerja seks untuk jaringan prostitusi di sebuah hotel di Lille, yang biasa digunakan pengusaha lokal dan pejabat kepolisian.

Kemarin, Strauss-Kahn hadir di persidangan bersama 13 tersangka lain, termasuk pemilik rumah bordil yang dikenal dengan nama Dodo the Pimp. Strauss-Kahn yang menjabat menteri ekonomi, keuangan, dan industri Prancis periode 1997-1999 dituding berperan sebagai muncikari dan menggunakan kontak-kontak bisnisnya untuk mempekerjakan perempuan di sejumlah pesta di Paris, Lille, bahkan Washington.

Tim pengacara Strauss-Kahn membela, meski mengakui hadir di sederet pesta, kliennya sama sekali tidak tahu perempuan-perempuan yang ditemuinya itu pekerja seks komersial.

Proses peradilan Strauss-Kahn yang pernah pula hampir menjadi kandidat presiden Prancis itu juga membuat perhatian publik mengarah ke dunia prostitusi kelas atas yang sering digunakan sebagai pelicin kesepakatan bisnis.

Kepada kantor berita Agence France-Presse, mantan pekerja seks panggilan alias call girl dengan nama Carole, 41, mengaku, "Saya dulu kerap ditawarkan sebagai hadiah buat pimpinan perusahaan dan politisi. Perusahaan-perusahaan, terkadang yang bertaraf internasional, sering datang ke tempat kami dan bertanya apakah ada yang bisa dijadikan hadiah."

Carole bekerja di sebuah rumah pelacuran di Belgia saat praktik prostitusi itu legal hingga 2013. Dia juga ingat pernah ada perusahaan otomotif yang hendak menjual tiga truk besar kepada perusahaan lokal. "Jadi tugas saya ialah melakukan apa saja supaya pemimpin perusahaan itu benar-benar menandatangani kesepakatan pembelian," terang Carole.

Masih menurut Carole, seks pun biasa dijadikan alat untuk pemerasan. Dia mengaku kerap pula ditugasi sebagai perangkap supaya kesepakatan bisnis mudah dicapai.

Hambatan baru
Pakar sektor prostitusi di Prancis, Jean-Sebastien Mallet, menyatakan praktik menggunakan jasa call girl biasanya dilakukan dalam bidang-bidang yang marak korupsi dan suap. Mallet menyebut sektor konstruksi, impor-ekspor, juga sektor energi.

Pemimpin kelompok antiprostitusi Fondation Scelles, Yves Charpenel, menyatakan para perempuan yang bekerja di rumah-rumah pelacuran sebagai pekerja seks panggilan alias call girl tadi berasal dari keluarga berlatar belakang cukup baik.

"Mereka bukan orang miskin. Kebanyakan bekerja di jaringan rumah bordil atau pelayanan female escort di internet," kata Charpenel.

Namun, Charpenel menambahkan, biasanya 75% dari bayaran mereka diambil orang yang berperan sebagai perantara.

Pengadilan untuk mantan bos IMF Dominique Strauss-Kahn beserta 13 terdakwa lainnya, kemarin, bukan pula yang pertama kalinya terjadi untuk kasus muncikari. Pada 1995, desainer Italia Francesco Smalto juga divonis bersalah karena mengirim sejumlah setelan ke Presiden Gabon Omar Bongo, beserta sekelompok call girl.

Meski begitu, penuntutan kasus sejenis itu bergantung pada kesediaan para pekerja seks untuk bersaksi. Untuk kasus yang mendera Strauss-Kahn saja, menurut Gregoire Thery dari kelompok pendukung pekerja seks Mouvement du Nid, "Para saksi call girl itu pun menghadapi ancaman dan ditekan untuk mundur saja."

Thery menambahkan, "Praktik memanfaatkan pekerja seks untuk memuluskan kesepakatan bisnis juga punya efek yang sungguh merugikan, yakni menjadi hambatan baru dalam persamaan gender di tempat kerja." Jika kesepakatan bisnis harus dilakukan di kamar hotel, kata Thery, "Hanya laki-laki yang bisa melakukannya." (AFP/BBC/I-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More