Jumat 30 September 2016, 08:11 WIB

Masa Depan Ekonomi Bojonegoro

Suyoto, Bupati Bojonegoro | Opini
Masa Depan Ekonomi Bojonegoro

Antara/Parto

TIDAK ada kepedihan abadi, sebagaimana juga tidak ada kesenangan abadi. Kepedih­an dan pesta kesemuanya pasti akan berlalu. Kalimat itu rasa­nya pas untuk menggambarkan ba­gaimana kondisi perekonomian Bo­jonegoro. Berlama-lama miskin, kadang dapat sedikit kegembiraan panen tembakau, lalu susah karena banjir dan kekeringan. Sedikit lagi dapat bahagia, panen padi, ternak, dan kemudian panen proyek migas. Namun, derita dan kesenjangan itu juga silih berganti, datang, berlalu, dan mungkin datang lagi, entah sampai kapan begini.

Sejak awal kita semua paham bahwa proyek migas itu usianya cuma tiga sampai empat tahun. Jadi, saat banyak yang berpesta terlengah karena proyek migas, kita sudah sa­ling ingatkan, “Waspada!” Sama juga saat harga minyak naik, pikiran kita melambung, khayal kita tinggi akan ada triliunan rupiah uang masuk ke APBD Pemkab Bojonegoro dan pemdes

Kita menunggu saat produksi mi­nyak mencapai puncak, saat uang itu akan datang. Walau kita tahu pro­duksi puncak itu mungkin hanya tiga tahun. Kita tidak ikut menentukan harga minyak, tetapi kita terkaget saat puncak produksi, harga minyak mencapai titik terendah. Harga yang semula lebih US$100 per barel, tiba-tiba di bawah US$30 per barel. Harapan kita itu terbang bersamanya.

Apakah makna dari semua ini? Bagi saya, inilah hukum ekonomi yang harus kita terima apa adanya. Peristiwa ekonomi di Bojonegoro tidak berdiri sendiri, selain ada faktor alam, faktor politik dan persaingan perdagangan global. Namun, itu pun juga sudah biasa, bukan hanya Bojonegoro yang mengalaminya. Peristiwa yang biasa itulah yang tidak boleh kita hadapi dan kelola dengan cara yang biasa-biasa! Setiap detik dan menit, hidup di Bojonegoro harus terus penuh usaha.

Kita tidak boleh larut dalam kepe­dihan, tidak boleh hanyut dalam pesta. Hidup di Bojonegoro harus selalu eling lan waspodo, ingat dan waspada. Sedikit pun tidak boleh sembrono karena lingkungan alam kita jauh lebih sulit jika dibanding­kan dengan daerah lainnya. Sementara itu, ada gemerlap kanan-kiri menggoda kita untuk hidup sem­bro­no.
Untuk itu, diperlukan strategi hi­dup yang benar agar setiap rezeki dan kesempatan menjadi nikmat berkelanjutan! Pertama, jadilah orang yang sehat, cerdas, dan produktif agar bahagia. Jangan ada yang pernah berpikir atau membayangkan akan hidup dari belas kasihan orang lain.

Kedua, menabung dan berinvestasilah. Nasihat orang tua agar gemi dan menabung itu benar adanya. Bila mendapatkan rezeki, jangan berpikir menghabiskan secepatnya.
Ketiga, pahami apa yang akan membuat ekonomi Bojonegoro terus meningkat? Pertanian, peternakan dan perikanan harus meningkat baik dari sisi produktivitas maupun jenisnya, juga pengolahan pas­capanennya. Peluang industri migas harus ditangkap semaksimal mungkin. Namun, kita percaya bahwa dua sektor itu belum mampu memberi pekerjaan seluruh rakyat, apalagi kalangan mudanya. Dengan kualitas SDM yang terbatas, industri di perdesaan harus digalakkan. Para pengusaha harus kita rayu dan yakinkan dengan kemudahan, insentif, dan dukungan agar mau membuka usaha padat karya di perdesaan.

Sektor jasa terutama jasa layanan kesehatan dan pendidikan tinggi kita wujudkan daya saingnya agar suatu saat menjadi pendorong ekonomi baru Bojonegoro. Dokter spesialis harus cukup, perguruan tinggi swa­sta di Bojonegoro tidak boleh jago kandang. Industri, termasuk perdagangan dan kesehatan, memerlukan tenaga terampil. Mereka yang tidak tertampung di industri dapat bekerja dan ikut mengembangkan sektor wisata yang mulai menggeliat, baik wisata alam dan buatan di perdesaan dan perkotaan.

Keempat, tinggalkan budaya hidup dengan warisan, saatnya menciptakan warisan. Selama 71 tahun Indonesia merdeka, alam pikir kita masih mengatakan Indonesia ini kaya raya, dulu miskin karena kekayaannya diambil penjajah. Nyatanya dan sejujurnya harus dikatakan yang menghabiskan hutan, batu bara, minyak, dan tambang lainnya bukan penjajah, melainkan bangsa kita sendiri. Kita baru berpikir merdeka dari, belum banyak berpikir merdeka untuk sesuatu yang positif.

Kelima, tugas besar ini tidak da­pat hanya dikerjakan pemerintah, kenapa? Karena kita memilih demokrasi dengan banyak partai, bukan demokrasi satu partai seperti Tiongkok. Demokrasi mengharuskan masyarakat kuat, akademisi hebat, organisasi sipil yang profesional dan kuat, dan adanya pebisnis yang andal. Empat kelompok itu sering disebut ABGC (academician atau ilmuwan, businessman, government, dan communities). Keempat kelompok itulah yang harus bersinergi.

Sinergi ini dilandasi dengan semangat kualitas saling percaya dan karya manfaat. Di sinilah prinsip open government partnership (OGP) sangat relevan: transparansi, akun­ta­bilitas, partnership, inovasi dan IT sebagai penopang. Kita bersyukur saat ini Bojonegoro terpilih menjadi pilot project dunia untuk praktik OGP. Bila itu berhasil, akan banyak berkah yang kita peroleh. Salah sa­tunya akan banyak orang luar berwisata sambil belajar pemerintahan ke Bojonegoro. Lumayan dari daerah yang dikenal banjir dan miskin, kini dikenal pionir dunia bidang OGP.

Keenam, di atas itu semua, harus disadari bahwa skenario apa pun pembangunan ekonomi Bojonegoro, bila tidak didukung SDM andal yang sehat, cerdas, dan produktif, akan panen kegagalan.

Dalam pembangunan SDM, saya minta semua pihak berhenti me­ngeluh. Fokuskan usaha pada semua kemungkinan yang dapat mengantarkan anak-anak paham bagaimana harus hidup dan menjalaninya dengan baik.

Mari selalu teriakkan: lampaui ba­tas maksimalmu. Mengapa bicara maksimalitas karena kita terlalu lama hanya berkutat pada keterba­tasan. Bahkan terlalu sibuk membicarakannya.

Sebentar lagi ada pilkades, pada 2018 ada pemilihan bupati dan Gu­­bernur Jawa Timur. Lalu, pada 2019 ada pemilu untuk presiden dan anggota legislatif. Apa yang membedakan negara maju dengan negara yang baru latihan demokrasi? Di negara yang maju ekonominya, pe­milu ialah cara untuk memilih strategi pembangunan ekonomi yang lebih tepat. Di Amerika, Inggris, Jerman, Jepang, Korsel, dan Australia seluruh rakyat dan para politikusnya te­lah sepakat kapitalisme sebagai cara membangun ekonomi.

Perbedaan partai hanya soal apa yang harus diprioritaskan dalam lima atau empat tahun ke depan. Soal ideologi pembangunan ekonomi ini, kita harus jujur mengatakan di tempat kita masih kabur. Akibatnya pilkades, pilkada dan pemilu belum menjadi sarana efektif bagi kemajuan kese­jahteraan bersama.

Masih banyak calon kades, anggo­ta legislatif, kepala daerah, dan bah­kan bakal calon kepala negara di kepala mereka hampa strategi pembangunan ekonomi. Padahal, merekalah yang kelak akan me­nge­lola pemerintahan. Karena itu, jangan heran setelah jadi tidak tahu persis apa yang harus dilakukan. Karena itu, saya mohon Bapak-Ibu tidak bosan membaca tulisan ini. Menyebarkannya kepada semua pihak, agar setidak-tidaknya kita memiliki pemahaman umum soal bagaima­na melanjutkan pembangunan eko­nomi Bojonegoro. Masa depan Bojonegoro di tangan kita semua. Kitalah raja atas diri dan jiwa kita. Salam, merdeka: berkepribadian kuat dan berkedaulatan secara politik untuk menciptakan kemandirian ekonomi bangsa (Soekarno). Selamat hari jadi ke-339 Bojonegoro.


Suyoto
Bupati Bojonegoro

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More