Sabtu 01 Oktober 2016, 00:15 WIB

Islam Rahmatan Lil-Alamin sebagai Mandat Sejarah RI

Budi Bowoleksono Duta Besar RI untuk Amerika Serikat | Opini
Islam Rahmatan Lil-Alamin sebagai Mandat Sejarah RI

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

KESAN salah di dunia Barat bahwa Islam identik dengan kekerasan harus diluruskan. Sebagai negara berpenduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki kewajiban sekaligus modal memadai untuk mengoreksi kesalahpahaman yang terjadi. Untuk itu, Indonesia harus tampil aktif menjalankan tugas yang telah dimandatkan sejarah tersebut. Pelurusan pemahaman itu semakin mendesak dilakukan setelah terjadinya rangkaian peristiwa teror di berbagai negara akhir-akhir ini, tak terkecuali Amerika Serikat yang memiliki sistem keamanan paling canggih. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa selama ini aksi teror hampir selalu dikaitkan dengan Islam. Ditambah dengan meningkatnya fenomena Islamofobia di AS pada musim kampanye pemilu, menggemakan suara Islam sebagai rahmatan lil’alamin merupakan mandat sejarah Indonesia yang pelaksanaannya tak boleh ditunda-tunda.

Islam Indonesia
Setidaknya ada dua pesan penting yang selalu Indonesia sampaikan saat mengenalkan Islam kepada publik AS. Pertama, bahwa rangkaian serangan teror yang dilakukan segelintir kelompok tidak merepresentasikan Islam maupun umat muslim di seluruh dunia yang cinta damai. Kedua, bahwa penilaian kita atas suatu agama tidak boleh digeneralisasi semata-mata dari tindakan segelintir pemeluk agama tersebut. Persepsi masyarakat AS yang mengasosiasikan Islam hanya dengan kawasan Timur Tengah perlu dikoreksi. Meski Islam lahir di kawasan tersebut, umat muslim tersebar di seluruh penjuru Bumi. Secara global, terdapat 1,7 miliar umat muslim yang tersebar mulai dari Timur Tengah hingga Afrika, dari Amerika Latin hingga Asia Tenggara. Jumlah penduduk muslim Indonesia lebih besar dibandingkan jumlah seluruh penduduk muslim di kawasan Timur Tengah. Ini menunjukan bahwa Islam tidak selalu identik dengan Timur Tengah. Ada Islam dengan karakter lain yang tumbuh subur di bumi bernama Indonesia Islam Indonesia yang berkarakter moderat, toleran, dan anti-kekerasan. Publik AS harus tahu hal itu.

Pendekatan Multijalur
Daalm meluruskan pemahaman tentang Islam di kalangan publik AS, perlu dilakukan dengan pendekatan multijalur. Dari sisi budaya, misalnya, Indonesia menggelar festival bertema Performing Indonesia: Islamic intersections di Washington DC bulan September-Desember 2016. Kegiatan itu cukup berbobot karena melibatkan Smithsonian Institution, suatu institusi museum, riset, dan pendidikan terbesar di dunia yang amat disegani di AS. Rangkaian kegiatan yang terdiri dari 9 pertunjukan, kuliah, dan workshop serta melibatkan paling tidak 80 pelajar dan pekerja seni festival akan menunjukkan berbagai manifestasi Islam yang diartikulasikan pada berbagai ekspresi budaya Indonesia yang beragam. Salah satu pertunjukan yang ditampilkan dalam rangkaian gelaran itu adalah wayang yang ratusan tahun lalu menjadi medium bagi Wali Sanga untuk menyebarkan Islam di nusantara. Pengedepanan wayang sebagai medium penyebaran Islam memberikan gambaran kepada publik AS mengenai akulturasi budaya yang tak terpisahkan dari Islam, bahwa Islam bersifat dinamis dan akomodatif terhadap budaya lokal. Ini sekaligus untuk menepis anggapasekaligus ketakutan di kalangan publik AS bahwa Islam pasti tidak cocok dengan nilai-nilai yang dianut Amerika, dan bahwa umat muslim tidak akan pernah dapat menyatu (blended) dengan budaya Amerika. Anggapan semacam itulah yang selama ini membuat retorika anti-Islam tumbuh subur di negara yang sebenarnya amat toleran terhadap semua agama tersebut. Perlu juga pendekatan politik kepada para tokoh dan lembaga berpengaruh di AS. Hal yang telah dilakukan antara lain ialah kampanye Islam moderat kepada para anggota Kongres dan Senator serta lembaga think tank dan kampus. Bulan April 2016 lalu, Pimpinan Pondok Pesantren Diniyyah Putri Pandang Panjang bertemu dengan para tokoh dan lembaga di AS untuk memberikan pemahaman mengenai bentuk pendidikan Islam Indonesia yang modern. Ini untuk menepis pandangan kebanyakan politisi AS bahwa lembaga pendidikan Islam (madrasah) adalah penyemai benih radikalisme. Madrasah Diniyyah Putri memperlihatkan potret yang sebenarnya dari sebuah madrasah di Indonesia, yaitu tempat pendadaran pemimpin muslim yang tangguh, modern, dan jauh dari nilai kekerasan. Inisiatif lain ialah pembentukan Indonesia-US Council for Religion and Pluralism yang diluncurkan di Yogyakarta bulan Agustus 2016, sebagai buah dari pertemuan Presiden Jokowi dan Presiden Obama di Washington DC Oktober 2015 lalu. Lembaga ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman publik AS terhadap Islam moderat layaknya di Indonesia. Selain itu, di level akar rumput juga diperlukan peran masyarakat muslim Indonesia yang melakukan interaksi harian langsung dengan warga AS. Wajah Islam Indonesia akan tecermin dari bagaimana masjid-masjid Indonesia di seluruh AS berinteraksi dengan komunitas sekitar, misalnya dalam berbagai kegiatan yang melibatkan umat agama lain di AS. Masjid Indonesia di AS harus menjadi sangkakala yang mendengungkan karakter keislaman Indonesia yang moderat dan toleran.

Tanggung jawab bersama
Sebagai sesama negara yang menjunjung tinggi nilai keragaman dalam bingkai kesatuan, Indonesia dan AS memiliki tanggung jawab bersama untuk mendorong terciptanya dunia yang damai. Kedua negara harus bekerja sama membangun dunia yang harmonis dan menghindari benturan antarperadaban seperti tesis Samuel P Huntington. Perbedaan antarperadaban seharusnya merekatkan, bukan merenggangkan.Dengan kekuatan ekonomi dan militer terbesar di dunia, AS memiliki modal besar untuk berkontribusi menciptakan dunia yang lebih aman, stabil dan makmur. Sementara Indonesia juga memiliki modal untuk berkontribusi bagi perdamaian dengan cara menggaungkan nilai-nilai Islam moderat kepada masyarakat dunia. Indonesia dapat menjadi jembatan antara peradaban barat dan dunia Islam. Itulah mandat sejarah Indonesia.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More