Kamis 29 September 2016, 00:30 WIB

Teologi Lingkungan

Asep Salahudin Dekan Fakultas Syariah IAILM Pesantren Suryalaya Tasikmalaya | Opini
Teologi Lingkungan

ANTARA FOTO/Wahyu Putro

MUSIM penghujan kembali datang. Musibah banjir bandang yang melanda Garut dan Sumedang sebagai penandanya membuat kita sungkawa. Sungai Cimanuk mengamuk dan yang luluh lantak bukan hanya tempat tinggal, lembaga pendidikan, rumah sakit, melainkan juga 29 nyawa ikut melayang hanyut terbawa air bah yang datang malam hari secara mendadak. Sampai hari ini bantuan masih terus berdatangan walaupun sarana prasarana belum bisa dipulihkan, apalagi memulihkan trauma psikologis nampaknya membutuhkan waktu yang tak sebentar. Di luar itu, banjir bandang dan bencana lainnya yang kerap datang setiap tahun di banyak wilayah negeri kepulauan sesungguhnya menjadi autokritik bagi kita yang bisa jadi selama ini tidak cukup santun memperlakukan alam dan lingkungan, tidak bijak berhadap-hadapan dengan hutan belantara, sungai, dan fauna. Sudah menjadi sunatullah bahwa alam akan melakukan perlawanan ketika daerah resapan air dijadikan perumahan, hutan digunduli, sampah dibuang serampangan, penambangan liar dibiarkan merajalela, sementara pabrik berdiri di banyak tempat tanpa memperhitungkan sama sekali analisis dampak lingkungannya. Tentu saja perlawanan alam itu bisa mengambil nama banjir, longsor, cuaca yang semakin tidak teratur, dan lain sebagainya. Bahkan, sering kali atas nama kepentingan dan keuntungan sesaat, hal yang bersifat jangka panjang dikorbankan. Tragisnya lagi penguasa yang semestinya berpihak kepada khalayak menjaga lingkungannya, faktanya bersekongkol dengan pengusaha karena upeti dan utang budi ketika kampanye pilkada. Ini terjadi di Garut dan nyaris menjadi fenomena yang berlangsung di daerah lain dengan modus yang tidak jauh berbeda. 'Perkawinan hitam' penguasa dan pengusaha untuk memburu rente. Demokrasi elektoral pun yang dirayakan dengan gempita alih-alih membawa keberkahan, malah kian menguatkan kaum penguasa menjadi raja-raja kecil di daerahnya masing-masing. Otonomi daerah yang menjadi amanat reformasi dan dibayangkan dapat mempercepat distribusi kesejahteraan faktanya hanya menjadi panggung kekuasaan untuk mendesentralisasikan korupsi sampai jauh ke pelosok.

Relasi harmonis
Tentu saja ada banyak perspektif untuk melihat persoalan lingkungan. Salah satu di antaranya ialah optik teologi. Ini tidak bisa diabaikan karena urusan teologi menjadi kesadaran subtil yang menancap kuat dalam palung bawah sadar masyarakat. Di sinilah letak persoalan itu muncul, bahwa apa yang diajarkan doktrin keagamaan tentang lingkungan sering kali diabaikan dalam tindakan, terlucuti dari pengalaman keseharian. Hari ini pembicaraan ihwal teologi hanya hiruk pikuk sebatas wajah politik. Agama seolah melulu berurusan dengan ritual dan perda syariah. Agama diapungkan ke permukaan sebatas alat untuk merebut kekuasaan atau mendiskreditkan seorang yang tak sepaham pemahaman dan keyakinannya. Bagaimana misalnya tiba-tiba dalam pilgub Jakarta begitu berisik dengan khotbah yang berujung pada keharaman memilih pemimpin 'kafir' lengkap dengan caci makinya tanpa pernah diperiksa kembali apa yang dimaksud 'kafir' dalam konteks kepemimpinan dan ruang publik keindonesiaan yang heterogen. Padahal justru tidak kalah pentingnya adalah percakapan agama tentang tema lingkungan. Yusuf Qardawi menyebutkan bahwa tujuan syariah (maqashid syariah) itu tidak cukup lima cakupannya; 1) menjaga akal (hifzul aql), 2) menjaga keturunan (hifzun nasl), 3) menjaga agama (hifzud din), 4) menjaga harta (hifzul mal), 5) menjaga jiwa (hifzun nafs), tapi harus ditambah satu lagi 6) yaitu menjaga alam (hifzul 'alam). Setiap teologi, sesungguhnya mengajarkan tentang keniscayaan membangun relasi harmonis dengan alam. Teologi (Tuhan), manusia (antropologi), dan alam (kosmologi) ialah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Tuhan mentahbiskan manusia sebagai khalifah, dan melekat di dalamnya ialah kewajiban merawat alam. Manusia bukan sosok yang berhak memperlakukan alam dengan buas tidak terkendali, justru dalam perspektik metafisis alam ialah mitra manusia yang bersama-sama sedang mengabdi kepada Sang Kuasa.

Kejatuhan Adam
Alquran mengajarkan betapa kejatuhan Adam, musababnya bukan karena membangkang tidak mau mengesakan Tuhan. Tapi Adam tidak memiliki kesadaran ekologis. Tuhan telah melarang Adam dan Hawa mendekati sebuah pohon. Namun alih-alih menjauhinya, pohon itu didekati dan dipetik buahnya. Akhirnya, Adam terusir dari surga yang dilambangkan sebagai lingkungan asri, pepohonan nan teduh, sungai mengalir jernih. Adam terlempar ke dunia, tersaruk ke tempat yang kering dan tandus. Epos purba yang benar-benar menginjeksikan pentingnya keinsafan ekologis. Dan bukankah pada akhirnya Adam dan Hawa itu lekas tersadar dan dipertemukan di padang bernama Arafah di sebuah bukit yang dikenal Jabal Rahmah. Arafah secara semantik artinya kenal dan di kalangan mistikus ‘irfan (satu kata dengan arafah) disebut sebut sebagai puncak pengetahuan. Kenal tidak saja terhadap Tuhan, tapi juga diri sendiri dan lingkungan sekitarnya. Sementara Jabal Rahmah artinya bukit kasih sayang karena di bukit itu tidak saja Adam menjalin kembali tali kasih dengan istrinya tapi juga mendeklarasikan tekad untuk menebarkan kasih sayang kepada seru sekalian alam yang dalam teologi Muhammad saw dirumuskan dalam ungkapan rahmatan lil alamin. Dalam ungkapan Nabi, "Mereka yang tidak menebarkan kasih di bumi, tidak akan meraih kasih dari langit." Arafah dalam haji menjadi ritus inti, al-Hajju Arafah. Tidak sebatas itu, bukankah juga kita diingatkan bahwa ketika berada di Mekkah ada yang disebut kawasan Tanah Haram. Di Tanah Haram kita tidak diperbolehkan menyakiti binatang dan merusak tanaman bahkan memetik rumput pun tidak diperkenankan. Bagi saya 'Tanah haram' itu sesungguhnya lagi-lagi melambangkan tentang ekologi itu. Naifnya sering kali makna simboliknya tidak tertangkap sehingga makna Tanah Haram tidak pernah diperluas ke Tanah Air masing-masing. Diperkenalkan juga bahwa salah satu sifat Tuhan itu al-Muhith yang artinya Maha Lingkungan. Ini menjadi penanda bagaimana kesadaran lingkungan ditarik dalam tataran epifani kudus ilahiah, sebagai laku spiritual untuk meniru sifat Tuhan. Dahulu oleh sufi terkemuka Ibnu Arabi dalam Futuhat Al-Makiyyah yang sering kali disalahtafsirkan dipadatkan dalam ungkapan wihdatul wujud itu. Menyatunya manusia dengan Tuhan, dengan alamnya. Dalam istilah Hossen Nasr kerusakan alam yang mengakibatkan bencana itu bermula karena manusia telah mengambil posisi sebagai Faust (mitologi Yunani), setelah menjual jiwanya untuk memperoleh kekuasaan dan menaklukkan dunia justru terbakar oleh kuasa dan dunia yang dieksploitasinya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More