Rabu 28 September 2016, 09:20 WIB

Sentimen Positif Dongkrak Rupiah

Dero Iqbal Mahendra | Ekonomi
Sentimen Positif Dongkrak Rupiah

Antara/Yudhi Mahatma

 

NILAI tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, kemarin sore, menguat sebesar 132 poin menjadi Rp12.909 jika dibandingkan dengan posisi sebelumnya di posisi Rp13.041 per dolar AS. Itu merupakan posisi tertinggi rupiah sejak 16 bulan terakhir pada Mei 2015 lalu (lihat grafik).

Menko Perekonomian Darmin Nasution mengatakan penguatan nilai tukar rupiah dipengaruhi dana yang masuk dari hasil dana repatriasi dari program amnesti pajak yang menambah likuiditas di pasar keuangan. "Dengan makin baiknya hasil amnesti pajak, itu pasti arahnya ke sana, arahnya rupiah menguat, IHSG menguat," kata Darmin di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, kemarin.

Kemarin, kurs tengah Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah bergerak menguat menjadi Rp13.027 daripada hari sebelumnya (26/9) Rp13.076. Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin, ditutup naik 67,46 poin atau 1,26% menjadi 5.419,60.

Akan tetapi, Darmin menginginkan rupiah bergerak wajar atau sesuai dengan fundamental perekonomian terkini, sehingga tidak menjadi persoalan baru bagi komponen lainnya, khususnya ekspor. "Namun, jangan terlalu cepat penguatannya.

"Menteri Keuangan Sri Mulyani memandang penguatan rupiah itu bisa saja disebabkan program amnesti pajak, tapi hal itu bukan satu-satunya faktor. "Tentu dengan adanya dana yang masuk dan menjelang tenggat pasti akan memengaruhi, tetapi kita akan melihat dari sisi keseluruhan tahun," ujarnya di Jakarta, kemarin.

Menkeu mengakui penguatan nilai tukar rupiah akan berdampak positif bagi pengendalian inflasi dan perekonomian Indonesia secara umum. Namun, dari sisi APBN, pergerakan rupiah hingga akhir tahun akan memengaruhi penerimaan khususnya dari ekspor dan sumber daya alam.

"Masyarakat bisa menikmati keuntungan dari penguatan rupiah meski dari sisi penerimaan di APBN akan ada implikasinya. Namun, kalau dikompensasi dengan dana masuk, kita mengharapkan investasi naik," jelasnya.

Revisi ADB
Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) merevisi kembali proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2016 menjadi 5%. Proyeksi tersebut turun dari prakiraan ADB pada Maret 2016 lalu sebesar 5,2%.

Menurut Kepala Perwakilan ADB Indonesia Steven Tabor, setidaknya ada tiga faktor yang menjadi dasar ADB memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi RI tahun ini. Pertama, pemotongan belanja pemerintah yang memberikan dampak terhadap proyek-proyek infrastruktur. Kedua, investasi swasta tumbuh, tapi belum seperti yang diharapkan. Ketiga, harga komoditas beberapa bulan belakangan sudah mulai naik, tetapi masih relatif rendah.

"Beruntungnya, kenaikan konsumsi masih lumayan. Kenaikan permintaan konsumen cukup bagus terlihat, misalnya dari penjualan kendaraan bermotor," kata dia.

Menkeu Sri Mulyani menilai koreksi pertumbuhan ekonomi ADB tidak berbeda jauh dengan prediksi pemerintah yang memperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun ini berada di kisaran 5,0%. (Pol/Arv/Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More