Minggu 25 September 2016, 07:30 WIB

BIDASAN BAHASA: Pengunjung dan Penonton

Adang Iskandar | Opini
BIDASAN BAHASA: Pengunjung dan Penonton

ANTARA/M Agung Rajasa

KASUS kopi bersianida dengan terdak wa Jessica Kumala Wongso sangat menarik untuk terus diikuti. Kasus pembunuhan dengan korban Wayan Mirna Salihin itu telah memasuki masa persidangan yang ke-24 di Peng adilan Negeri Jakarta Pusat. Tidak dimungkiri ketertarikan publik terhadap kasus tersebut merupakan impak dari publikasi media massa, baik cetak, daring, maupun elektronik, yang hampir setiap hari memberitakan kasus tersebut. Bahkan, ada

dua stasiun televisi swasta nasional yang secara langsung menyiarkan ersidangan kasus itu. Tentu saja dengan adanya siaran langsung itu, orang yang menyaksikan sidang tersebut tidak hanya yang berada di ruang pengadilan, tetapi juga pemirsa televisi di rumah.

Kasus itu pun kian menyita perhatian publik. Beberapa kali saya juga sempat menonton persidangan itu di rumah lewat layar kaca. Suatu kali saya menyaksikan dan mendengar reporter televisi yang ditugasi meliput persidangan itu menyebut penonton sidang untuk merujuk ke orang yang menyaksikan persidangan secara langsung di ruang pengadilan. Penyebutan penonton sidang itu membuat pikiran saya sontak beralih dari materi persidangan ke persoalan bahasa, terutama terkait dengan diksi atau pilihan kata. Selama ini, kita jamak mendengar frasa pengunjung sidang untuk menyebut orang yang menyaksikan langsung persidangan di ruang pengadilan.

Dalam tata tertib persidangan yang terpampang di setiap pengadilan pun dinyatakan bahwa orang yang datang ke ruang sidang untuk menyaksikan jalannya sidang perkara disebut pengunjung, bukan penonton. Tentu, fenomena ini menarik untuk dicermati. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata penonton bermakna 'orang yang menyaksikan pertunjukan', sedangkan kata pengunjung berarti 'orang yang mengunjungi'. Kata penonton

melekat pada sebuah kegiatan atau peristiwa, sedangkan kata pengunjung berkaitan dengan sebuah tempat, seperti pusat perbelanjaan atau kantor institusi. Penggunaan frasa pengunjung sidang memang lebih terkesan formal ketimbang penonton sidang. Itu, mungkin, salah satu bentuk penghormatan untuk menjaga martabat institusi peradilan sebagai lembaga formal bagi para pencari keadilan; bahwa persidangan di ruang pengadilan bukanlah tontonan atau pertunjukan yang semata-mata sebagai hiburan.

Namun, belakangan ini, sebuah persidangan terbuka kasus pidana, apalagi yang ditayangkan secara langsung oleh stasiun televisi, menurut saya dapat dikatakan sebagai tontonan atau dalam hal ini 'pertunjukan mencari keadil an'. Jadi, dalam konteks kekinian, penggunaan frasa penonton sidang untuk orang yang menyaksikan persidangan, baik langsung di ruang pengadilan maupun lewat televisi, menjadi lebih berterima. Sebaliknya, frasa pengun jung sidang, jika mengacu pada arti kata pengun jung sebagai 'orang yang mengunjungi', tentu kurang berterima karena persidangan tidak merujuk ke sebuah tempat, tetapi sebuah kegiatan atau peristiwa. Belum tentu orang yang mengunjungi sebuah tempat juga mengikuti dan menyaksikan kegiatan yang ada di tempat tersebut. Misalnya, orang yang mengunjungi Kantor Pengadilan Negeri Jakarta Pusat belum tentu menjadi orang yang menyaksikan persidangan di tempat itu. Mungkin saja dia datang ke penga dilan untuk tujuan lain.

Adang Iskandar, Redaktur Bahasa Media Indonesia

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More