Kamis 01 September 2016, 14:16 WIB

Eiger Uji Coba Perlengkapan di Black Borneo Expedition 2016

Briyan B Hendro | Humaniora
Eiger Uji Coba Perlengkapan di Black Borneo Expedition 2016

PELEPASAN TIM EKSPEDISI: Pendaki senior Indonesia yang juga anggota Eiger Adventure Service Team, Djukardi ‘Bongkeng’ Adriana (kanan), menerima pemasangan straps ransel secara simbolis dari Christian H Sarsono, Managing Director PT Eigerindo MPI, saat

 

MALANG melintang sejak 27 tahun silam, membuat Eiger sudah banyak makan asam garam di industri perlengkapan luar ruang. Tidak ada yang menyangka, hanya dari dua buah mesin jahit sederhana di bilangan Bandung, kini Eiger bisa menjadi yang teratas sebagai penyedia perlengkapan luar ruang di tanah air.

Eiger pun membentuk wadah berkumpulnya para pakar terutama di bidang aktivitas luar ruang bernama Eiger Adventure Service Team (EAST) untuk memberikan edukasi dan berbagi pengalaman kepada khalayak luas.

Nama beken petualang Indonesia seperti Djukardi 'Bongkeng' Adriana, Galih Donikara, Mamay Salim, Iwan Irawan, dan lainnya turut mengibarkan bendera EAST.

"Black Borneo Expedition 2016 adalah salah satu misi Eiger untuk memberi sumbangsih pemikiran dan karya kepada bangsa Indonesia," ujar Galih Donikara, salah satu anggota EAST yang juga pegiat alam bebas.

Ekspedisi yang memakan total waktu 20 hari tersebut rencananya akan membuka jalur dan mencari titik tertinggi Gunung Beriun, di kawasan karst Sangkulirang, Kalimantan Timur.

Jalur yang akan dilalui tim mulai jalur darat dengan kendaraan, sungai, tebing, dan membelah hutan Kalimantan yang dikenal memiliki tantangan medan berat dengan suhu khas wilayah tropis di tengah garis ekuator bumi.

Seluruh tim ekspedisi juga akan dilengkapi berbagai perlengkapan dari Eiger yang belum diluncurkan ke publik.

"Jadi kita meminta masukan dan penilaian teman-teman semua mengenai gear yang digunakan. Kalau bagus ya bilang bagus, kalau enggak nyaman ya disampaikan saja," lanjut Galih.

Eiger akan turut serta mengujicobakan ransel yang terilhami dari bentuk ransel porter Suku Dayak saat Black Borneo Expedition tahun lalu.

"Ransel ini akan cocok dibawa oleh para porter, karena selain mampu menampung beban banyak, bisa juga digunakan untuk mengevakuasi orang," lanjut Galih.

Tapi, sebelum beredar di pasaran, ransel ini pun akan juga diujicobakan terlebih dahulu di Black Borneo Expedition 2016.

"Mengapa Eiger berekspedisi? Agar produknya bisa teruji dan memiliki makna," ujar Christian H Sarsono, Managing Director PT Eigerindo MPI saat upacara pelepasan tim ekspedisi di Bandung, Senin (29/8). (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More