Minggu 28 Agustus 2016, 10:58 WIB

Inspirasi Dari matahari

Dzulfikri Putra Malawi | Hiburan
Inspirasi Dari matahari

MI/Permana

 

MENIKMATI dua lagu Mondo Gascaro berjudul Saturday Light (2014) dan Komorebi (2015) tidak cukup bermodal telinga. Butuh melibatkan perasaan.

Indonesiana, begitulah Mondo menyebut karya-karyanya. Nuansa pop membawa kita ke romantisme dan nostalgia musik Indonesia di bawah 1980-an. Di balik karyanya ada satu benang merah, sinar matahari.

"Meresapinya mudah, mataharinya beda, langit di Amerika itu merah kadang-kadang ungu. Kalau Indonesia itu, zaman saya masih kecil ketika ke Pancoran sore hari, warna langitnya kuning keemasan. Ketika kamu dengar Fariz RM 1982, itu rasa yang kamu dapat. Walaupun musiknya urban dan pop yang berasal dari Amerika, matahari yang kamu rasakan berbeda," ungkapnya mengawali perbincangan dengan Kotak Musik di kantor Media Indonesia, di penghujung Juli.

Ketertarikannya akan matahari secara jelas dituangkan dalam Komorebi, dalam bahasa Jepang berarti pendaran cahaya dari sela-sela dedaunan di pohon. "Kalau tidak ada cahaya, kita tidak bisa melihat warna apa pun juga," ungkapnya.

Baginya, semua tempat memiliki warna-warna yang berbeda. Warna itu memberikan bias yang diimplementasikan dalam nada-nada. Mondo yang lama tinggal dan berkuliah di Amerika menyerap bagaimana mengolah rasa itu dengan cara mendengarkan musik yang berbeda. Lagu-lagu Amerika yang sudah dikenal sebelumnya, ketika didengar di sana, ternyata akan memiliki pengalaman rasa yang berbeda.

"Saya juga suka film Jepang karena dianggap memiliki banyak shot yang menantang matahari. Mungkin dari situ juga akhirnya rasa itu saya terapkan ke dalam musik. Sebenarnya saya tidak pernah memformulasikan ini, barusan saja saya sadar karena ditanya, ha ha ha," sambungnya.

Album perdana
Sejak keluar dari band Sore, 2012, Mondo bersolo karier. Butuh waktu lebih dari tiga tahun untuk merealisasikannya. Rentang waktu yang lama itu akibat kesibukan Mondo mengerjakan proyek-proyek music score dan membangun label musik bersama istrinya, Sarah Glandosch.

Tercatat sejumlah film layar lebar Helo Goodbye (2012), Modus Anomali (2012), Arisan! 2 (2011), Pintu Terlarang (2008), Dara (2007), dan Berbagi Suami (2006) memercayai dirinya membuat music score hingga original theme song.

"Selama saya di Sore dari 2002 sampai 2012 juga banyak mengerjakan project musik lain di luar Sore. Jadi, bukan sesuatu yang aneh ketika sekarang saya membuat musik baru atas nama diri sendiri. Hanya bedanya ketika mengerjakan album sekarang tidak ada batasan untuk menyalurkan ide. Batasannya lebih kepada membatasi isi kepala saya sendiri dan timeline yang sudah diset harus dipenuhi karena walaupun sendiri, saya bekerja dengan banyak pihak seperti tim produksi dan label yang menaungi saya, Ivy League Music," jelas Mondo soal album baru yang akan dirilis dalam beberapa hari lagi.

Baru pada 2015, secara khusus ia meramu album perdana Raja Kelana yang rencana berisi 10 lagu. Dua di antaranya menyajikan musik instrumental dengan nuansa sinematik musik. Salah satu lagu yang menjadi pembuka album ialah A Deacon's Summer yang diluncurkan Mei lalu. "Ketika saya bikin musik, saya melihat dan mendengar instrumen atau orkestrasi nada-nada tersebut seperti melihat bayangan dan warna-warna. Itu mungkin hubungannya secara visual dan musik," jelasnya soal sinematik musik.

Lebih jauh mengenai album, Mondo mengaku tidak menggiring materi untuk satu tema tertentu. Setelah terkumpul 80%-90% dirinya mulai melihat benang merah dari album ini. "Akhirnya ditemukan kalau album ini berbicara tentang impresi saya terhadap kehidupan secara general dan juga tentang bagaimana saya merayakan hidup dengan apa pun kondisinya. Balik lagi ke matahari tadi. Kalau kata almarhum ibu saya, selama masih bisa lihat matahari, harus bersyukur," jelas Mondo.

Pola pikir untuk selalu menjadi dan memberikan nilai positif menjadi sebuah keharusan bagi Mondo. Lantas bagaimana memacu untuk terus positif? "Positif itu bukan sesuatu yang naif atau tanpa kamu berpikir kritis atau merasakan sakit. Kamu harus merasakan sakit untuk membuat diri kamu punya dorongan terhadap hidup. Misalnya kamu ngomong diri kamu depresi, tapi kamu masih bisa bikin musik. Kan, tidak mungkin kalau orang depresi bikin musik. Berarti kamu punya dorongan yang positif. Ada jiwa Tuhan yang membuat kamu membuat karya," katanya.

Tak hanya itu, Mondo paham akar dan sejarah musik Indonesia memengaruhi dirinya berkarya. Banyak musik Indonesia sudah dihasilkan dari prakemerdekaan 1930-an seperti lagu-lagu Ismail Marzuki sampai Saiful Bahri 1950-an yang sudah memasuki industri rekaman Indonesia era awal. Hingga memasuki era 1970-an seperti Chrisye, Yockie Suryoprayogo, dan Keenan Nasution.

"Mereka sangat memengaruhi saya bagaimana merasakan musik di era mereka. Mereka merasakan identitas Indonesia saat itu yang ditularkan lewat musik. Mereka bisa mengekspresikan itu. Hal itu saya rasakan sama saat ini dalam berkarya. Lebih menggunakan perasaan untuk mendapatkan rasa dari spirit bermusik," paparnya.

Lantas apa tafsiran musik pop bagi dirinya saat ini dan sejumlah pengalamannya saat di Amerika yang memengaruhi dirinya dalam menajamkan kemampuan bermusik, hingga kisah 'kehebohan' saat mempersiapkan album perdananya? Serta bagaimana merasakan seberapa Indonesia lagu-lagunya? Semuanya bisa ditemukan dan dinikmati dalam wawancara eksklusif dan aksi panggung bersama Mondo Gascaro dalam Kotak Musik. Unduh aplikasi Media Indonesia sekarang juga di Appstore dan Google Play Store untuk menikmatinya. (M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More