Minggu 28 Agustus 2016, 10:56 WIB

Film Bisu Perdana Garin Nugroho

MI | Hiburan
Film Bisu Perdana Garin Nugroho

MI/Ramdani

 

UNTUK merayakan 35 tahun berkarya di industri film, Garin Nugroho didukung Bakti Budaya Djarum Foundation mempersembahkan film bisu yang mengangkat mitologi Jawa dengan menyesuaikan film tari kontemporer. Film itu terinspirasi film bisu horor Nosferatu karya sutradara asal Jerman, Friedrich Wilhelm Murnau.

Karya berjudul Setan Jawa merupakan film bisu hitam putih pertama karya Garin Nugroho. Iringan orkestra musik gamelan secara langsung yang dibuat Rahayu Supanggah membuat film ini terasa mistis. Tak hanya di layar lebar, Setan Jawa akan dipentaskan pada 3-4 September 2016 di Gedung Teater Jakarta.

Setan Jawa mengisahkan cinta dan tragedi kemanusiaan berlatar awal abad ke-20. Setio, pemuda dari desa miskin, jatuh cinta pada Asih, putri bangsawan Jawa. Lamaran yang ditolak membuat Setio mencari keberuntungan melalui kesepakatan dengan iblis yang dikenal sebagai pesugihan kandang bubrah untuk mencari kekayaan dan nantinya dapat melamar Asih. Setio akhirnya menjadi kaya dan kawin dengan Asih. Mereka hidup bahagia dalam rumah Jawa yang megah.

Asih kemudian mengetahui suaminya menjalani laku pesugihan kandang bubrah. Asih yang sangat mencintai suaminya kemudian menemui setan pesugihan untuk meminta pengampunan agar saat kematian suaminya tidak menjadi tiang penyangga rumah.

"Setan Jawa ini menggabungkan dua unsur, antara tari Jawa yang indirect mengatakan sesuatu dan tari kontemporer yang direct mengatakan sesuatu. Proses syutingnya seminggu di Solo dan Yogyakarta," jelas Garin dalam konferensi pers minggu lalu.

Awal abad ke-20 sengaja dipilih karena momen tumbuhnya film hitam putih serta merebaknya fesyen, sastra, dan seni hiburan di puncak kolonialisme Belanda. Kala itu era kolonial ialah era pengembangan industrial yang disertai pengembangan infrastruktur dan bertumbuhnya gerakan nasionalisme serta identitas manusia Jawa yang terepresentasikan pada kehidupan sehari-hari, baik dalam seni, bahasa, maupun mistik.

Pada era ini, mistik Jawa berkembang seiring dengan tumbuhnya teosofi, sebuah gerakan religiusitas berbasis harmoni beragam perspektif kepercayaan. Jalan pesugihan menjadi populer untuk meraih masa depan lebih baik sekaligus sebagai mobilitas sosial dalam dunia baru yang penuh tekanan.

Meski bukan drama sejarah, Garin kerap meriset seni arsitektural, fesyen, dan musik untuk memperdalam karyanya. "Karena lintas disiplin mengandung sejarah juga," ujarnya.

Untuk film ini, Garin meriset lukisan Cipto Waluyo, pelukis pesugihan. "Ini riset visual. Ada juga riset sejarah dari magic realism, misalnya Eropa dan Bali sampai Jawa. Bahkan sastra dan pola tari. Kenapa orang dulu suka piara bulus atau kura-kura Jawa, lalu kenapa kepiting. Sebetulnya sejak kecil tiap bulan Suro saya ketakutan di rumah karena orang-orang cerita mistis. Ada riset dari kisah masa kecil saya dan riset lainnya," lanjut Garin yang gemar daerah angker.

Selain itu, Garin kerap mengikuti ritual di berbagai tempat dengan upacara masing-masing. Minimal selametan dan menemui tokoh spiritual lokal, termasuk di penggarapan film Setan Jawa.

"Ini karya ketiga saya dalam rangka 35 tahun berkarya. Dua karya sebelumnya soal film di Sumba dan satu lagi Nyai (perempuan dari Jawa). Sengaja film saya diinterpretasi secara bebas sehingga saat merayakan 35 tahun saya bisa memiliki kekayaan yang baru.

Justru tidak akan merusak malah memberikan kejutan dengan interpretasi tersebut. Kerja sama dan interpretasi yang diperluas ini tujuannya mendapatkan inovasi karya yang baru juga," ungkap Garin soal rangkaian karyanya menuju perayaan 35 tahun berkarya.

Kolaborasi Garin dan Rahayu dipertemukan kembali sejak proyek Opera Jawa, 10 tahun silam. Rahayu Supanggah, seniman musik yang telah dan masih memperkenalkan dan memopulerkan musik gamelan Jawa ke masyarakat dunia selama lebih dari 40 tahun, akan menampilkan sebuah orkestra gamelan yang akan mengiringi film bisu hitam putih karya Garin, yang dibawakan secara langsung dengan 20 pengrawit (pemusik gamelan). Film itu juga akan menampilkan Asmara Abigail sebagai Asih, Heru Purwanto sebagai Setio, dan Luluk Ari sebagai Setan Jawa. (Fik/M-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More