Minggu 28 Agustus 2016, 01:15 WIB

Riri Riza Tidak sekadar Pulang Kampung

Richaldo Y Hariandja | Hiburan
Riri Riza Tidak sekadar Pulang Kampung

MI/Sumaryanto

 

Menurutnya, film merupakan praktik kesenian yang paling utuh dalam memotret budaya, salah satunya budaya Bugis-Makassar.

SUTRADARA film, Muhammad Rivai Riza, yang dikenal dengan nama Riri Riza, 45, telah usai menggarap film berjudul Athirah yang akan tayang di bioskop pada 29 September mendatang.

Selama menggarap film itu, dia pun berkesempatan pulang kampung. "Bukan alasan mau pulang kampung kemudian saya menggarap film ini. Bagi saya, lanskap Indonesia itu selalu indah dan menarik untuk selalu diabadikan.

Film itu kan praktik kesenian yang paling utuh dalam memotret budaya, salah satunya budaya saya, Bugis-Makassar, sekaligus mengulang kerinduan juga," katanya saat membuka acara peluncuran ulang novel dan videoklip original soundtrack film Athirah, di Jakarta, pekan kemarin.

Riri pernah tinggal di Makassar hingga usia 10 tahun. Tidak mengherankan jika kemudian semangatnya semakin bertambah karena dirinya bisa bernostalgia dengan kampung halaman dan budaya tempat ia dilahirkan.

"Saya sering pulang kampung, tapi ini kesempatan besar bagi saya yang sangat sulit untuk saya hindari dan sekaligus merasa terhormat karena bisa membuat film di kampung halaman sendiri," ungkap Riri yang memulai debutnya sebagai sutradara melalui film Kuldesak (1998).

Melalui film itu, dia juga ingin mengubah stereotip penduduk Makassar yang acap diidentikkan dengan budaya yang kasar. "Contohnya seperti demonstrasi yang sering kita lihat di televisi. Padahal, Makassar banyak mengajarkan arti penting sebuah keluarga dan kekeluargaan yang harmonis dan satu," jelas dia.

Riri menambahkan kekeluargaan orang Makassar bisa dilihat dari bentuk rumah. "Dari bentuk rumah, kita dapat melihat bagaimana kepribadian mereka menyatu dan berpusat di ruang tengah saat makan bersama," terangnya lebih lanjut.

Hal itu pun ditegaskannya dalam film yang dibintangi Cut Mini Theo itu. Menurutnya, banyak kisah pejuang wanita yang bisa diangkat ke layar lebar. "Ini sebuah kisah indah tentang keteguhan seorang wanita yang mencoba mempertahankan bahtera rumah tangganya, bersama anak lelaki pertamanya, Ucu. Inilah kisah perempuan di masa lalu, tetapi kisahnya masih kerap terjadi di era sekarang."

Bukan politik

Riza mengatakan film yang bercerita dengan rentang waktu yang panjang itu lebih berfokus pada aktivitas keluarga Athirah di dalam rumah. "Film yang kami garap bersama ini banyak menguras emosi, terutama Athirah yang harus meredam gejolak rumah tangga sejak ayah Ucu (nama kecil Jusuf Kalla, JK), Hadji Kalla berpoligami, dan memilih tinggal di rumah istri mudanya," terang Riza.

Namun, Riza menekankan film ini bukan untuk menyindir praktik poligami di Indonesia. "Bukan itu inti cerita yang ingin saya angkat, melainkan lewat film ini masyarakat lebih mengenal budaya Bugis-Makassar secara lebih mendalam seperti bagaimana budaya asli keluarganya, ruangan keluarga yang sangat intens, menghilangkan stereotip yang ada selama ini, dan yang terpenting semakin menghormati sosok seorang ibu yang sabar dan tegar," tuturnya.

Riza juga mengingatkan film ini tidak ada sangkut-pautnya sedikit pun dengan politik. "Pemeran JK disini (Christoffer Nelwan) pun tidak menggunakan sebutan JK, tetapi Ucu sebagaimana panggilan JK ketika kecil dulu karena film ini memang murni menceritakan perjuangan seorang ibu Kalla," tutup Riza. (*/Khairullah Mustafa)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More