Jumat 26 Agustus 2016, 07:03 WIB

Nasib Media Daring Suram

Hendri Kremer | Humaniora
Nasib Media Daring Suram

Ilustrasi

 

MASA depan media (berita) daring di Indonesia jauh lebih suram jika dibandingkan dengan nasib media cetak.

Hal itu dilatarbelakangi semakin aktifnya media sosial yang menggantikan posisi media daring, termasuk penggalangan opini.

Anggapan banyak orang sebelumnya yang menyebutkan media cetak akan gulung tikar akibat posisi digantikan media daring ternyata salah total.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Hal ini berdasarkan fakta yang dirilis The New York Times dan Observer, baru-baru ini.

"Mereka (media daring) kalah bersaing dan mulai ditinggalkan pembaca yang beralih ke media sosial dan aplikasi. Ini fakta yang terjadi," ungkap redaktur senior Media Indonesia dan anggota Dewan Pers, Sabam Sinaga, dalam acara Bimbingan Teknis Jurnalisme Online di Era Digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) yang bekerja sama dengan Media Indonesia.

Dia memaparkan media yang digunakan untuk mencari berita didominasi media sosial (81%).

Koran daring hanya 47%.

Buktinya lagi, sejumlah situs berita (news online) di luar negeri kini mulai goyah dengan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), memangkas anggaran, bahkan berhenti mengudara akibat gempuran media sosial.

"Masa depan jurnalisme media online juga dibayangi ketidakpastian. Pebisnis media online kini berjuang menemukan model bisnis agar tetap bertahan karena iklan yang menjadi sumber utama pendapatan tersedot ke media sosial Facebook dan Google," ujarnya.

Aplikasi ponsel dan media sosial mulai mengambil alih peran situs berita sebagai sumber utama informasi. Orang mulai beralih ke media sosial untuk menemukan informasi terbaru.

Terlebih, informasi di media sosial sering lebih aktual dan orisinal ketimbang hasil liputan wartawan situs berita.

Bagaimana nasib situs berita di Indonesia? Bisa lebih parah karena situs-situs berita di Indonesia menganut jurnalisme umpan klik (clickbait journalism) yang merupakan versi baru koran kuning.

"Pembaca lama kelamaan muak dan menyadari jebakan-jebakan klik yang disajikan situs-situs berita," jelas Sabam.

Perkembangan dunia jurnalisme yang pesat juga diakui redaktur Metrotv.online, Khudori, yang memandang pentingnya pelaku jurnalisme, khususnya wartawan, diberi semacam keahlian dalam mengemas berita agar lebih menarik dan berbeda dengan yang disajikan media sosial.

"Wartawan tidak perlu terpaku pada 5W+1H. Namun, akan lebih menarik untuk dibaca jika sajiannya dilengkapi semacam pesan dan pandangan dari berbagai sumber yang mereka dapat di lapangan," ujarnya.

Darurat media massa

Pada kesempatan terpisah, peneliti media massa, Iskandar Zulkarnain, menyebutkan dewasa ini sudah terjadi 'darurat media massa' karena fungsinya sebagai edukasi atau pendidikan hampir tidak ada lagi.

"Hal itu tecermin dari pola pikir dan perilaku masyarakat yang semakin menyimpang dari kaidah etika," katanya di Medan.

Kondisi masyarakat itu didorong pemberitaan media massa yang gamblang menyiarkan berita dan lengkap dengan foto sadis para korban tindak kekerasan atau menyimpang dari etika tanpa memikirkan dampak negatifnya terhadap pembaca. (MS/H-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More