Rabu 24 Agustus 2016, 10:20 WIB

Memutus Mata Rantai Pangan

Adhi M Daryono | Ekonomi
Memutus Mata Rantai Pangan

MI/Atet Dwi Pramadia

 

SALAH satu cara paling efektif untuk mengatasi permasalahan tingginya harga bahan pokok ialah dengan memotong mata rantai distribusi yang amat panjang. Bila mata rantai itu dapat dipangkas, konsumen dapat menikmati harga yang murah dan di sisi lain, petani tidak dirugikan.

Hal itu dikatakan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita di sela-sela peninjauan langsung Pasar Induk Tanah Tinggi, Kota Tangerang, Banten, Senin (22/8) malam. Peninjauan itu dilakukan bersama dengan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman. "Jadi ini sinergi Menteri Perdagangan dengan Menteri Pertanian. Seperti yang kami sampaikan, permasalahannya ialah di mata rantai yang membuat harga tinggi meski produksi (pertanian) melimpah," ujar Enggar.

Contoh pemotongan rantai distribusi itu, kata dia, sudah dilakukan di Pasar Induk Tanah Tinggi. Di pasar yang dikelola Pasar Komoditi Nasional (Paskomnas) Indonesia itu, petani diberikan kesempatan menjual hasil ladang dan sawah langsung ke pasar induk secara berkelompok. Petani juga disediakan lapak untuk menjual langsung ke konsumen.

"Contoh seperti ini juga akan dibangun di empat daerah lain untuk memotong mata rantai harga yang tinggi. Jika itu terjadi, akan menjadi pola di pasar terdekat," bebernya.

Di samping itu, akan disediakan lapak bagi Perum Bulog sebagai stabilisator jika suatu waktu terjadi lonjakan harga di pasar tersebut. "Bulog juga hadir, akan disiapkan untuk membuka lapak. Bulog ada sebagai stabilisator harga. Nantinya HPP akan jadi jaminan tidak ada harga ditekan ke bawah. Harga rendah itu yang akan diambil Bulog.

"Pengelola pasar induk sekaligus salah satu pimpinan Paskomnas Indonesia, Hartono, membenarkan bahwa sistem pasar yang mereka terapkan itu memberikan keleluasaan bagi petani untuk menjual produk langsung kepada konsumen.

"Kita menyediakan pasar induk jaringan untuk menyalurkan produk pertanian. Kita mempunyai akses pasar, petani bisa bawa barangnya dan dagang langsung. Kita akan disediakan lapak secara berkelompok bagi petani yang datang ke sini," kata Hartono.

Dalam kesempatan sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menambahkan pihaknya akan menjamin produksi petani agar tetap stabil sehingga harga di pasar pun tidak terjadi lonjakan. "Kami menjamin hasil produksinya dan menjual ke pasar-pasar seperti ini. Mata rantainya kita potong, petani untung, konsumen pun senang," cetus Amran.

Dua komoditas defisit
Menjelang hari-hari besar yang akan terjadi hingga akhir tahun, yakni Hari Raya Idul Adha, Natal, dan perayaaan Tahun Baru, Kementan memperkirakan ketersediaan bahan pangan pokok bakal aman. Namun, ada dua komoditas yakni kedelai dan da-ging sapi yang meski secara total dalam satu tahun cukup memenuhi, bila diperinci per bulan, mengalami defisit. Kedelai defisit 42% dan daging sapi 33%.

"Sampai dengan akhir tahun prognosis untuk 11 komoditas utama secara umum aman, hanya saja ada dua defisit yakni kedelai dan sapi," ujar Kepala Biro Humas dan Informasi Publik Kementan Agung Hendriadi di Jakarta, kemarin.

Agung memprediksikan hingga akhir tahun minus daging sapi hingga 18 ribu ton. "Kebutuhan paling tinggi 55 ribu ton, kita puya 36 ribu ton," kata Agung. Untuk kedelai, Agung menjelaskan berdasarkan data Kementan, produksi kedelai defisit setiap bulan kecuali pada Oktober. "Minus 42% itu di akhir tahun sampai 1 juta ton. Defisit itu dari total kebutuhan, dipenuhi dari impor," tutupnya. (E-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More