Rabu 24 Agustus 2016, 09:45 WIB

BEI Siap Gaet Investor Muda

Fetry Wuryasti | Ekonomi
BEI Siap Gaet Investor Muda

Antara/Sigid Kurniawan

 

BURSA Efek Indonesia (BEI) menggelar simulasi permainan investasi berbasis daring Nabung Saham Go untuk memperkenalkan industri pasar modal ke masyarakat, terutama mahasiswa.

“Gim itu salah satu langkah untuk memperkenalkan pasar modal kepada masyarakat. Gim Nabung Saham Go, sasar-annya mahasiswa karena lebih mudah. Gim itu seperti Pokemon Go,” ujar Direktur Pengembangan BEI, Nicky Hogan, di Jakarta, kemarin.

Secara garis besar, kata Nicky, gim Nabung Saham Go mengajak pemain mengumpulkan poin setelah menjawab pertanyaan di aplikasi itu.

“Cara mendapatkan poin dalam gim, pemain dapat mengunjungi tempat-tempat tertentu seperti Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Gedung BEI. Di setiap tempat yang dikunjungi, pemain akan mendapat beberapa perta-nyaan seputar pasar modal. Setiap jawaban yang benar akan diberikan poin.”

Selain Nabung Saham Go, kata Nicky, BEI juga melakukan permainan analog bernama Stocklab. “Permainan Stocklab memanfaatkan media kartu, secara garis besar pemain akan dibimbing untuk melakukan strategi daalam berinvestasi serta diajak mengetahui bagaimana cara perusahaan melakukan penawaran perdana saham (IPO),” katanya.

Nicky mengatakan, melalui dua aplikasi permainan Na-bung Saham Go dan Stocklab itu diharapkan target 600 ribu investor pada tahun ini dapat tercapai. “Per Senin (22/8), jumlah investor di pasar modal sebesar 494 ribu investor. Diharapkan, sampai akhir tahun bisa mencapai lebih dari 550 ribu bahkan 600 ribu investor.”

Literasi keuangan
OJK bekerja sama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti), lembaga jasa keuangan, serta para akademisi meluncurkan Buku Seri Literasi Keuangan Tingkat Pergurun Tinggi. Buku-buku yang terdiri atas delapan buku utama dan satu suplemen perncanaan keuangan merupakan implementasi Strategi Nasional Literasi Keuangan Indonesia.

“Situasi sudah berbeda. Jika 20 tahun lalu kita diwajibkan untuk melek huruf, saat ini kita dituntut untuk melek keuangan,” kata Dirjen Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kemenristek Dikti Intan Ahmad di Universitas Pelita Harapan (UPH), Tangerang, Banten.

Berdasarkan data Kemenristekdikti, di Indonesia saat ini, dari total 4.400 perguruan tinggi setidaknya terdapat 5,5 juta mahasiswa yang 18% di antara mereka berasal dari fakultas ekonomi. “Namun, saat ini, literasi keuangan kita masih di bawah Thailand, Malaysia, dan Singapura.”

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Darmansyah Hadad mengamini saat ini Indonesia memiliki industri keuangan sangat besar dengan pertumbuhan pesat. Namun, sangat sedikit investor lokal yang terlibat dalam industri tersebut. “Masih begitu banyak investor asing di sini. Itu juga membuat pertumbuhan ekonomi kurang stabil.”

Berdasarkan survei OJK pada 2013, lebih dari 75% masyarakat Nusantara memiliki pemahaman kurang memadai tentang keuangan. Penelitian Bank Dunia pun menunjukkan hanya 35% penduduk Indonesia yang terlibat di sistem keuangan formal.

Rektor UPH Jonathan Parapak menyambut baik peluncuran buku yang dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam pertumbuhan ekonomi. (Pra/Ant/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More