Rabu 27 Juli 2016, 00:10 WIB

Brexit, Pengaruh pada Hubungan RI dan Jepang

Rachmat Gobel Menteri Perdagangan 2014-2015 | Opini
Brexit, Pengaruh pada Hubungan RI dan Jepang

Antara Foto

PUBLIK di Inggris Raya telah menyuarakan pendapat mengenai masa depan Inggris di Uni Eropa (UE). Sebagian besar pemilih (sekitar 52%) berpendapat sebaiknya Inggris keluar dari UE. Ini merupakan langkah dramatis yang akan mengubah perimbangan kekuatan politik dan ekonomi tidak hanya di Eropa, tetapi juga di kawasan lain, termasuk Asia. Pengaruh Brexit dari UE, yang merupakan sebuah blok perdagangan yang canggih, terlihat dengan melemahnya pasar modal dan pelemahan nilai mata uang. Tampaknya para investor berupaya menghindari risiko dan beralih pada mata uang dolar AS dan yen. Ketika publik Inggris menyatakan keluar dari UE, mata uang yen dilaporkan semakin menguat terhadap dolar AS.


Ini merupakan perkembangan yang sama sekali tidak diinginkan para pengambil kebijakan di 'Negeri Matahari Terbit'. Kecenderungan penguatan mata uang yen akan membuat barang-barang ekspor dari Jepang kurang menarik. Maka tidak terlalu mengherankan jika Menteri Keuangan Jepang Taro Aso bereaksi dengan sangat hati-hati dalam menilai perkembangan terakhir ini. Pengambil kebijakan di Jepang sangat cemas keputusan Inggris keluar dari UE akan meningkatkan permintaan terhadap yen. Walaupun para pengambil kebijakan cukup terkejut dengan kecenderungan penguatan yen setelah Brexit, sebetulnya mantan Wakil Menteri Keuangan Sakakibara Eisuke yang dikenal dengan sebutan 'Mr Yen' sudah menduga jika yen akan menguat, berada di kisaran 100 yen per dolar. Setelah hasil referendum diumumkan dan Inggris keluar dari UE, mata uang yen diperdagangan di bawah 100 yen untuk setiap dolar AS.

Hasil referendum, menurut Sakakibara, akan memengaruhi kecepatan penguatan yen atas dolar dan mata uang lainnya. Jadi pada dasarnya Sakakibara memang sudah memprediksi kecenderungan penguatan yen. Bagi Jepang, sebetulnya penguatan yen, walau sudah diprediksi, secara mendadak seperti ini bukanlah suatu kondisi yang diinginkan. Sampai titik ini sikap Jepang atas referendum tersebut mulai dapat dimengerti. Sebelumnya posisi Jepang atas referendum dapat dibaca melalui pernyataan PM Jepang Shinzo Abe. Saat kunjungan ke London Mei 2016, Abe mengatakan putusan untuk keluar dari UE akan membuat Inggris tidak begitu menarik bagi investor Jepang. Saat itu sikap Abe dapat dimengerti lebih secara ekonomi dan politik karena Jepang memang memiliki keinginan mempertahankan pasar di UE melalui Inggris. Namun, dengan memperhatikan data perdagangan yang tersedia, sikap Abe tidaklah sepenuhnya benar karena mitra dagang Jepang di Eropa yang terbesar ialah Jerman, diikuti Inggris. Jadi sangat mungkin Jepang akan mengalami sedikit guncangan. Yang pasti peran Inggris sebagai pintu masuk Jepang ke pasar UE tampaknya akan segera berakhir.

RI dan Jepang
Jika sangat mungkin hubungan ekonomi Inggris dan Jepang akan mengalami volatilitas, apakah hubungan Indonesia dan Jepang akan pula berubah seiring dengan perubahan sikap Jepang atas Inggris? Sebelum menjawab pertanyaan itu, ada baiknya melihat hubungan RI dan Jepang terlebih dahulu. Hubungan ekonomi RI dan Jepang sudah terbangun lebih dari 50 tahun. Investasi Jepang secara akumulasi terbilang besar. Jepang sangat mungkin akan menilai kembali investasi mereka di Inggris setelah negeri ini keluar dari UE. Data perdagangan Jepang dan Inggris mencatatkan surplus bagi Jepang lebih dari US$2 juta tahun ini. Seperti telah dijelaskan di atas, UE sebetulnya lebih merupakan sebuah blok perdagangan ketimbang sebuah pakta pertahanan atau politik. Dengan demikian, secara ekonomi UE menciptakan suatu pasar yang besar dan efisien (trade creation).

Investor Jepang mungkin akan mempertimbangkan investasi mereka di Inggris karena efek trade creation sudah pasti mengecil. Pada saat masih menjadi anggota UE, Inggris menduduki urutan nomor dua untuk pasar ekspor Jepang di UE setelah Jerman. Nilai ekspor Jepang di Inggris sekitar 5,3% dari total ekspor Jepang di negara-negara UE. Memang juga harus dicatat, ekspor Jepang dalam bidang otomotif dan manufaktur, terutama barang-barang rumah tangga, tidak mengalami banyak gangguan. Jika neraca perdagangan Jepang dan Inggris memberikan surplus bagi Jepang, neraca Jepang mencatatkan neraca perdagangan defisit dengan RI. Defisit perdagangan Jepang dengan RI lebih didorong besarnya impor bahan mentah dan energi dari Indonesia. Namun, selama kurang lebih 5 tahun terakhir terjadi perkembangan yang amat menarik dalam hubungan RI dan Jepang. Pada awalnya yang berinvestasi di Indonesia ialah perusahaan-perusahaan besar (sogo shosha), pada proyek-proyek besar. Setelah era sogo shosha, investasi dari Jepang justru didorong pengusaha-pengusaha kecil dan menengah.

Keluarnya Inggris dari UE pasti membuat Jepang menilai langkah-langkah investasi mereka, tentu saja ini secara global akan memengaruhi portofolio investasi Jepang. Pertanyaannya, akankah ini memengaruhi investasi Jepang di RI? Setidaknya dapat disimpulkan dua kecenderungan pokok. Pertama, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan posisi sebagai tempat investasi yang menarik bagi Jepang. Jepang mungkin mengalihkan investasi yang semula ditujukan untuk Inggris. Saat ini memang masih sangat sulit memperkirakan seberapa besar tingkat investor Jepang akan mengurangi investasi mereka. Namun, perkiraan awal pasar UE akan berkurang sekitar 1% setelah Inggris keluar. Masih terlalu awal memperkirakan ke mana Jepang akan mengalihkan investasi mereka. Dari survei tahunan yang dilakukan JETRO, selama lima tahun terakhir posisi Indonesia di mata investor Jepang sangat baik. Hasil survei selalu menempatkan Indonesia di posisi atas, bahkan puncak. Saingan terbesar bagi Indonesia, menurut JETRO, ialah Tiongkok dan India. Brexit tampaknya tidak akan serta-merta membuat Jepang secara tiba-tiba mengalihkan perhatian kepada Asia karena selama ini Asia, termasuk Indonesia di dalamnya, sudah menjadi jejaring penting bagi ekonomi Jepang.

Selain mempertahankan posisi di mata Jepang sebagai tempat investasi yang menarik, kita berharap adanya peningkatan hubungan yang lebih tinggi kelasnya, yaitu menuju ke arah hubungan ekonomi yang memberikan nilai tambah (value added) lebih bagi Indonesia. Bagaimanapun juga Indonesia sudah menjadi bagian dari jaringan produksi global (global value chain) yang dikembangkan Jepang, terutama untuk sektor otomotif dan elektronika. Kedua, keluarnya Inggris dari UE ternyata lebih banyak didorong keputusan rakyat Inggris yang memiliki pendidikan tidak terlalu tinggi, berpendapatan rendah, dan berusia lebih dari 40 tahun. Isu pokok yang menjadi perhatian mereka ialah soal imigrasi, yaitu datangnya pekerja-pekerja dari negara UE lainnya untuk bekerja di Inggris. Pesan pokok yang dapat diambil dari sini ialah pentingnya tingkat kesejahteraan rakyat bagi sebuah negara. Kesejahteraan bagi mereka ialah memiliki penghasilan baik dari pekerjaan. Namun, jika pekerjaan itu dipersepsikan diambil orang asing, persoalan menjadi serius.

Efek di atas bersifat tidak langsung, tetapi tidak dapat diabaikan. Pembentukan sebuah blok perdagangan yang semula didesain untuk meningkatkan kesejahteraan warganya ternyata malah menimbulkan efek yang berlawanan. Saat ini RI terikat dengan sejumlah pakta perdagangan, salah satunya ialah Masyarakat Ekonomi ASEAN, dengan janji meningkatkan kesejahteraan warga. Keterlibatan itu mesti disikapi hati-hati karena belum tentu semua elemen masyarakat akan menikmati kesejahteraan yang dijanjikan blok perdagangan. Dalam upaya meningkatkan kesejateraan bagi rakyat banyak, Indonesia dapat menggunakan gelombang baru derasnya investasi Jepang di sektor UKM. Indonesia mesti berupaya kuat dapat menangkap momentum ini untuk digunakan mendorong kesejahteraan warga secara lebih besar dengan menghubungkan pelaku-pelaku UKM di Jepang dengan yang ada di Indonesia. Diharapkan, cara ini dapat meningkatkan kelas UKM Indonesia memiliki keterampilan yang lebih baik. Jaringan pemasaran lebih luas sehingga kesejahteraan juga meningkat. Pemerintah dan organisasi terkait mestinya mampu menangkap dengan jelas pesan yang dikirim rakyat Inggris dengan keluarnya negeri itu dari UE.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More