Sabtu 23 Juli 2016, 00:20 WIB

Brexit dan Tanda-tanda Zaman

Rohmad Hadiwijoyo Budayawan | Opini
Brexit dan Tanda-tanda Zaman

AFP PHOTO / PUNIT PARANJPE

JALUR lalu lintas di London, Inggris, khususnya yang menuju Perlemen Square pada Rabu (13/7) padat sekali. Bahkan lalu lintas sempat dialihkan ke jalur yang tidak macet. Akibatnya, jadwal makan siang saya dengan partner saya membicarakan teknologi terbaru untuk mengurangi emisi CO2 pada pabrik semen di-reschedule pada malam harinya. Ternyata pada hari tersebut, sedang berlangsung pidato perpisahan Perdana Menteri (PM) David Cameron. Pidato perpisahan yang santai dan tidak tegang, sangat berbeda dengan kekhawatiran kebanyakan orang tentang keluarnya Inggris dari masyarakat Uni Eropa (UE). Pro dan kontra keluarnya Inggris masih menjadi perdebatan yang hangat di Inggris. Ada yang menyalahkan pihak konservatif dan ada pula yang mendukung referendum tersebut. Pro dan kontra hal yang biasa dalam sebuah keputusan. Apalagi Inggris sudah bergabung ke dalam masyarakat Uni Eropa (EU) hampir 40 tahun.

Saya tidak akan mengulas tentang pro dan kontra Inggris keluar dari UE, biarkan masyarakat Inggris sendiri yang memutuskan hal terbaik bagi negerinya. Yang jelas kabinet PM Theresa May sudah terbentuk dan siap menjalankan referendum tersebut sebagai jalan baru bagi masyarakat Inggris. Ada dua pelajaran yang dapat diambil dari peristiwa bersejarah brexit tersebut. Pertama, tanda–tanda perubahan zaman menuju globalisasi ternyata masih on going atau masih akan terus berlangsung. Hanya pemimpin yang memiliki kemampuan membaca tanda–tanda zaman yang bakal bisa survive. Dalam cerita pewayangan, Prabu Kresna memiliki senjata ampuh, yakni Cakra Baskoro, senjata panah yang ujungnya berbentuk roda. Artinya, Prabu Kresna mampu mengantisipasi perubahan zaman seperti roda yang berputar. Maka Prabu Kresna sering dijuluki ratu yang memiliki kemampuan 'ngerti sak durunge winarah’, bisa membaca sebelum kejadian. Kedua, perubahan zaman tersebut akan diikuti watak dari para politisi dan para pemimpin masa depan.

Referendum yang terjadi di Inggris berlangsung aman dan damai. Pergantian pemerintahan berlangsung tanpa gejolak, tidak ada yang ngambek atau membuat partai tandingan. David Cameron mundur dengan legawa dan siap mendukung pemerintahan Theresa May. Kalau dihitung untung rugi, Inggris keluar dari keanggotaan EU, sebagai anggota keluar pasti rugi. Tapi bukan itu tujuannya masyarakat Inggris ingin keluar dari masyarakat uni Eropa. Justru Inggris sudah membaca tanda–tanda zaman dalam menuju era baru globalisasi. Untuk bisa menjadi negara yang kuat dan disegani, tidak cukup hanya menjalin kerja sama dengan masyarakat Eropa. Di luar Eropa masih banyak kawan yang bisa dijadikan mitra dagang Inggris. Misalnya, negara dalam kelompok Anglo-Sphere Nations, yakni Kanada dan Australia, bisa dijadikan mitra yang lebih dekat lagi untuk mendukung perekonomian Inggris. India dan negara–negara Asia bisa sebagai partner dagang Inggris ke depannya.

Sekarang ini ada kekhawatiran baru tentang resesi di Italia setelah Yunani. Maka apa yang dilakukan Inggris yang dimotori kelompok konservatif untuk mengantisipasi resesi ekonomi dengan jalan baru atau new path dengan referendum. Tanda–tanda perubahan zaman akan diikuti watak dan perilaku para politisi dan pemimpinnya. Untuk menjadi politisi ulung tidak harus lahir dari rahim partai politik. Lihat saja Donald Trump, sebelumnya berasal dari pebisnis di bidang properti. Sekarang Trump sebagai penantang berat Hillary Clinton dari Partai Demokrat. Politisi masa depan akan lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Mendengar bukan berarti penurut. Akan tetapi, mendengar aspirasi dan masukan dari berbagai pihak sebelum dia membuat keputusan yang bijaksana.

Prabu Rama Wijaya mendengar masukan dari berbagai pihak sebelum memutuskan untuk membangun jembatan Situbondo dari Maliawan ke Alengka untuk merebut kembali Dewi Shinta dari cengkraman Prabu Rahwana. David Cameron mendengarkan masukan dari berbagai pihak sebelum ia memutuskan mundur dari Perdana Menteri Inggris. Politisi masa depan lugas dalam berkomunikasi kepada rakyatnya. Tidak harus berbusa-busa di atas podium dalam menyampaikan visi dan misinya. Tidak harus menyapa konstituennya dengan spanduk yang murahan saat jelang Lebaran. Spanduk, selain merusak estetika juga merusak lingkungan. Berapa pamflet dan spanduk yang dipaku sembarangan di pohon saat Lebaran kemarin akan merusak ekosistem. Politisi yang cerdas akan memanfaatkan media email dan media sosial untuk berkomunikasi dengan para pendukungnya.

Barack Obama populer delapan tahun lalu karena menggunakan bahasa yang mudah dicerna rakyatnya dan menggunakan media sosial. Politisi masa kini memiliki optimisme dan rasa patriotisme yang tinggi. Kalau kita mau jujur berapa banyak politisi kita yang hafal akan lagu kebangsaan kita Indonesia Raya? Banyaknya para politisi yang tersangkut kasus korupsi, karena tidak memiliki rasa patriotisme dalam berpolitik. Yang terakhir, politisi harus memiliki prinsip dalam berpolitik. Dengan prinsip yang dimiliki akan memudahkan mencapai tujuan dan mengimplementasikan visi dan misinya. Politisi yang tidak memiliki prinsip dalam berpolitik hanya akan melahirkan pemimpin yang tidak cakap dalam memimpin negeri ini. Sumangga.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More