Selasa 19 Juli 2016, 08:45 WIB

Tentara yang Gelisah

Muradi, Direktur Program Pascasarjana Ilmu Politik, Unpad, Ketua Pusat Studi Politik & Keamanan Unpad | Opini
Tentara yang Gelisah

Ilustrasi---ANTARA/R Rekotomo

KEGELISAHAN atas arah gerak politik suatu negara yang tidak jelas akan berimplikasi pada keresahan yang menguat di tubuh militer. Keresahan itu diekspresikan beragam, termasuk melakukan kudeta dan pengambilalihan kekuasaan. Ekspresi atas kegelisahan terkait dengan kebijakan politik negara yang dianggap tidak mencerminkan cita-cita bernegara dan konstitusi itu menggambarkan militer merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan bernegara.

Kudeta militer yang gagal di Turki, Jumat (15/7) lalu, ialah cermin keresahan dan kegelisahan di internal tentara yang berkaitan dengan arah gerak kebijakan politik yang tengah berlangsung.

Posisi Turki yang ambigu dalam memerangi IS dan berjarak dengan Suriah serta keinginan mengubah konstitusi agar Recep Tayyip Erdogan bisa terus memerintah menjadi bagian dari kegelisahan tentara. Kekhawatiran bandul politik Erdogan yang secara perlahan meninggalkan sekulerisme itu dibaca dari sejumlah kebijakan yang mengarah pada makin menguat dan dominannya Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang berhaluan Islam.

Pembacaan dinamika politik sejumlah jenderal dan perwira menengah atas situasi itu bukan prematur, melainkan ada keyakinan dari sejumlah pihak bahwa di internal tentara Turki juga telah tergalang dan disetujui arah gerak AKP dan Erdogan, serta sekulerisme Kemal Ataturk ditinggalkan. Tuduhan Erdogan atas terlibatnya ulama karismatik, Fethullah Guelen, dalam usaha kudeta yang gagal. Guelen ialah lawan politik kelas berat sekaligus sahabat dekatnya dulu.

Dengan demikian, tidak mengherankan apabila ketidakbulatan militer Turki dalam membaca dan merespons situasi itu berakibat pada gagalnya kudeta. Kegagalan kudeta juga disebabkan strategi politik Erdogan yang memainkan sentimen publik untuk menghadang laju kudeta demi menjatuhkan kekuasaannya.

Strategi ini berhasil juga karena sentimen internasional yang masih menyokong kepemimpinan Erdogan, berbeda saat Presiden Mursi didongkel dari kekuasaannya oleh militer Mesir.

Dengan becermin dari itu, kegelisahan tentara dalam konteks politik harus dilihat dalam tiga perspektif, yakni: pertama, kegelisahan tersebut mencerminkan kekhawatiran akan masa depan bangsa. Hal itu berkaitan dengan krisis ekonomi dan politik serta ketidakmampuan sipil dalam melakukan konsolidasi politik.

Dengan demikian, situasi politik menjadi tidak terkendali. Pada situasi ini, militer akan cenderung memosisikan diri sebagai penyelamat negara. Mereka tidak segan pula melakukan pengambilalihan kekuasaan secara paksa dari pemerintahan yang sah.

Kedua, kegelisahan tentara sebagai akibat dari menguatnya faksionalisasi di internal militer. Sebagai bagian dari menguatnya konflik di politisi sipil tersebut, sebagian faksi militer merasa membutuhkan lompatan politik untuk dapat menjadi bagian dari dinamika politik.

Ada kecenderungan bahwa faksionalisasi di militer itu menyebabkan mandeknya karier dan kepangkatan. Kekhawatiran tersebut mengarah pada manuver militer yang salah satunya terekspresi dalam bentuk upaya kudeta dan pengambilalihan kekuasaan.

Ketiga, kegelisahan tentara itu juga bagian dari cerminan ketidakpuasan atas pembatasan akses politik bagi militer. Dalam perspektif tentara professional, langkah untuk memastikan agar militer tidak berpolitik ialah bagian dari prasyarat tentara profesional.

Langkah dan upaya untuk tetap memiliki akses politik inilah yang sesungguhnya menjadi cermin bahwa kegelisahaan itu berakibat pada kemungkinan melakukan manuver yang sedikit banyak membuat militer terlihat tidak puas dengan situasi yang dihadapi saat ini.

Konteks Indonesia
Watak dan karakter militer Turki dengan Indonesia memiliki kesamaan. Salah satunya sama-sama merupakan tentara yang ikut memperjuangkan kemerdekaan dan berdirinya negara. Selain itu, militer Turki dan TNI sama-sama memosisikan diri sebagai tentara penjaga konstitusi. Hal yang membedakan keduanya ialah pada cara merespons dinamika politik yang terjadi.

Jika militer Turki telah melakukan lima kali percobaan kudeta, TNI relatif melakukannya dengan cara yang berbeda untuk memastikan keberlangsungan negara dan terjaganya konstitusi.

Cara yang berbeda inilah yang kemudian menganggap TNI tidak secara tulus memosisikan diri sebagai bagian dari tentara profesional. Hal ini tecermin dalam sejumlah langkah dan manuver yang dianggap mengarah pada respons tentara yang gelisah.

Kegelisahan tersebut tampak pada penggunaan isu lama terkait dengan bahaya laten komunisnya yang kembali diembuskan. Meski demikian, harus digarisbawahi bahwa respons atas perkembangan dan dinamika politik yang ada oleh TNI ialah bagian dari kegelisahan atas jalannya roda pemerintahan.

Sebagai tentara pejuang, TNI memiliki klaim historis atas keberlangsungan negara. Sebagai penjagaan konstitusi, TNI merasa perlu menegaskan bahwa UUD 1945 ialah harga mati yang harus dipertahankan.

Selama pemerintah tetap berkomitmen pada keutuhan NKRI dan menjaga konstitusi negara dengan arah pembangunan yang berbasis pada kepentingan bangsa dan negara, kegelisahan TNI atas arah gerak pemerintahan akan berkurang dan hilang.

Sejumlah isu yang mengemuka di media sosial terkait dengan kebijakan yang mengancam kedaulatan negara, seperti isu tentang Papua dan pekerja asing asal Tiongkok, harus disikapi dengan bijak karena hal itu memerlukan pendekatan integratif yang dapat dipahami dan diselesaikan bersama.

Dengan demikian, kekhawatiran kegelisahan sejumlah purnawirawan dan TNI atas arah gerak politik pemerintahan saat ini tidak berlanjut pada langkah yang mengancam demokrasi di Indonesia.

Secara faktual, pemerintahan Jokowi saat ini menyandarkan kebijakan mereka dengan concern TNI, yakni keutuhan negara dan konstitusi yang paripurna, serta terimplementasi dalam Trisakti dan Nawacita.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More