Filosofi Kepemimpinan Kang Yoto

Penulis: Abdillah M Marzuqi Pada: Minggu, 17 Jul 2016, 10:49 WIB Humaniora
Filosofi Kepemimpinan Kang Yoto

Dok.MI

INDONESIA butuh figur seorang pemimpin hebat. Begitu kalimat yang sering didengar ketika berbincang tentang kebutuhan mendesak negara ini. Namun, kemudian bakal muncul pertanyaan lagi. Pemimpin yang bagaimana? Pemimpin yang seperti apa?

Berbagai pertanyaan itu mungkin akan menemukan jawaban dalam buku berjudul Kang Yoto; Resonansi Kepemimpinan Transformatif karya Cahyo Sunaryo.

Sebelum membuka halaman dalam, ada baiknya memperhatikan kalimat yang tertulis di pojok bawah sampul luar buku ini. Dalam buku itu, tertulis ‘Dari selfish ke service, dari rigid ke gesit, dari material center menuju people center, dari ego-system menjadi eco-system, dan dari orientasi jangka pendek menjadi orientasi jangka panjang’.

Kalimat tersebut seolah menjadi panduan untuk membaca lebih lanjut tentang Kang Yoto. Ia punya nama lengkap Suyoto, seorang tokoh pendidikan yang kemudian menjabat sebagai Bupati Bojonegoro Jawa Timur selama dua periode yakni, 2008-2013 dan 2013-2018.

Dalam rangkaian bab pada buku ini, bakal ditemui berbagai macam pandangan tentang sosok Kang Yoto. Bukan cuma rakyat Bojonegoro tempat ia memimpin, melainkan juga berbagai profesi yang tercatat sempat menjalin hubungan dengan Kang Yoto sebagai bupati. Dari mulai Mak Yah penjual getuk, Mbah Saban seniman Jaranan, sampai Romo Markus Solo Kewuta, SVD Anggota Dewan Kepausan Bidang Hubungan Antaragama di Vatikan Roma untuk Wilayah Asia, Amerika Latin, dan Afrika Sub-Sahara.

"Biasane wong gedhe sing moro terus disanjung-sanjung. Yen Pak Yoto mboten purun disanjung-sanjung ngoten niku. Istilahe, terlalu ditunjukkan ndak mau," begitu menurut Abdul Karim, Juru Kun­ci Petilasan Prabu Angling Darma (hal 38).

Beberapa juga merupakan figur penting saat ini, seperti Ahmad Syafii Maarif mantan Ketum PP Muhammadiyah, Mari Elka Pangestu mantan Menteri Perdagangan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dan Abdul Munir Mulkan Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

"Setelah sekian lama kenal mendalam, yang bisa saya katakan tentang Pak Yoto sebagai pribadi sekaligus figur pemimpin adalah pertama, Pak Yoto itu bisa menyeimbangkan pikiran dan perasaan. Kedua, dia memiliki kehebatan langka, yakni bisa menerjemahkan dan berbicara dengan bahasa yang sangat mudah dipahami oleh semua pihak tanpa kemudian kehilangan esensinya. Saya waktu itu sempat terpana padahal baru pertama kali ketemu beliau," begitu Menurut Rerie L Moerdijat, Deputy Chairman of Media Group (hal 218).

Buku terbitan Expose ini mempunyai tebal 250 halaman. Pada lembar akhir buku juga terdapat info grafis mengenai Kabupaten Bojonegoro.
Buku ini muncul sebagai jawaban dari keresahan penulis tentang figur seorang pemimpin.

Dialog publik
Berdasarkan paparan penulis, proses ini bermula pada sekitar September 2013. Ketika itu, penulis hadir di sebuah desa di Bojonegoro dalam rangka pertemuan komunitas. Namun, ada beberapa warga yang membatalkan keikutsertaannya dengan alasan mau mendengarkan dan mengikuti ‘dialog publik dari pendopo Bojonegoro’.

Kang Yoto rutin mengadakan acara makan siang bareng-bareng. Acara makan ini biasanya digelar setelah salat Jumat menjelang acara 'Dialog Publik'.

Penulis waktu itu cukup tercengang dengan alasan itu. Ia tidak percaya jika ada bupati yang mau menjumpai petani kecil. Jika pada masa kampanye hal itu sangat lumrah terjadi. Namun, jika sudah menjadi bupati biasanya mereka pasti akan dilupakan dan diabaikan.

Peristiwa itu kemudian disikapi dengan membentuk tim investigasi, menyusun daftar pertanyaan dan menyusun kerangka kerja. Semua itu dilakukan untuk mengumpulkan data dan informasi tentang siapa dan bagaimana Kang Yoto.

Sejak saat itulah proses mewawancara berbagai orang dengan berbagai latar belakang pekerjaan bermula, seperti pewarung, guru, PNS, juru kunci makam, wartawan, anggota dewan, tokoh agama, pengusaha, aktivis perempuan, pelaku seni budaya, aktivis gerakan kaum muda, dan ibu rumah tangga. Proses penggalian data dan informasi itu berlangsung sekitar tujuh bulan.

Meski demikian, tidak semua kesan dan opini seputar Kang Yoto menunjukkan hal bagus. Tentu saja, data awal itulah yang kemudian digunakan untuk melakukan konfirmasi kepada Kang Yoto.

Buku ini diharapkan dapat menjadi cermin bagi siapa pun yang punya perhatian untuk terlibat dalam menciptakan transformasi di negeri ini sebab sesungguhnya yang diperlukan ialah transformasi. Negeri ini memerlukan transformasi untuk mengatasi ketertinggalan demi meraih masa depan yang lebih baik. Kata kuncinya ialah transformasi, bukan reformasi.

Menurut Kang Yoto, memimpin itu intinya melayani. Ibarat sopir bus umum yang melayani semua penumpang untuk mencapai tujuan. Sopir bis umum yang baik ialah sopir yang memahami rute dan rambu lalu lintas di sepanjang jalan. Begitulah hakikat memimpin.

Membaca buku ini, pada akhirnya mungkin akan membawa pada satu kesimpulan bahwa benar ada pemimpin yang melakukan sesuatu, bukan sekadar jargon dan bukan sekadar deklarasi verbal, melainkan suatu aksi yang aktual. (M-2)

miweekend@mediaindonesia.com

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More