Rabu 29 Juni 2016, 07:25 WIB

TAFSIR AL-MISHBAH: Salat Hindarkan Perbuatan Keji

Quraish Shihab | Ramadan
TAFSIR AL-MISHBAH: Salat Hindarkan Perbuatan Keji

Ilustrasi--MI/Seno

MANUSIA akan dengan mudah melakukan hal-hal yang sejalan dengan fitrahnya karena Tuhan menciptakan mereka dalam keadaan suci. Dengan demikian, bila manusia melakukan penyimpangan, diawali adanya pemaksaan diri. Namun, dengan mengingat dan mengerjakan salat, manusia dapat terhindar dari perbuatan keji dan mungkar tersebut.

Demikian pembahasan Tafsir Al-Misbah yang mengkaji Surat Al Ankabut ayat 41. Di dalamnya menjelaskan bahwa salat adalah amal ibadah yang pelaksanaannya berpotensi membuahkan sifat kerohanian dalam diri manusia dan mencegah mereka dari perbuatan keji dan munkar.

Alfahsyai wal mungkar. Kekejian atau fahsya adalah sesuatu yang buruk dalam pandangan agama, akal, dan budaya. Sebagai contoh, ada perbuatan yang dalam pandangan agama tidak buruk, tetapi buruk dalam pandangan budaya, seperti bila anak kecil mengonsumsi minuman keras. Dalam agama, bila anak tersebut belum memahami perbuatannya, hal itu tidak akan menjadi dosa. Akan tetapi, pastinya hal itu buruk dalam masyarakat.

Dengan kata lain, kemungkaran adalah sesuatu yang dianggap buruk oleh masyarakat walaupun dalam agama ditoleransi sebab agama memerintahkan manusia untuk memelihara budaya yang baik (ma'ruf).

Terkait dengan pelaksanaan salat, memang harus fokus kepada Allah SWT, tidak boleh ada pikiran lain. Namun, tidak semua orang bisa begitu.

Nabi pun pernah tidak konsentrasi melaksanakan salat ketika cucunya datang dan duduk di punggung kala Nabi SAW sedang bersujud. Jangan anggap kekhusyukan itu hilang ingatan kecuali kepada Allah. Itu bisa dikatakan sebuah toleransi.

Meskipun demikian, dalam beribadah jangan berpikir tentang pahala karena Allah tidak mewajibkan orang kecuali sesuai kemampuannya. Dalam konteks salat, jangan sampai seseorang tidak melaksanakan salat.

Hubungan manusia dengan Allah seperti mencari frekuensi radio yang tepat dan jernih. Salat pun demikian, tidak bisa langsung sepenuhnya khusyuk, yang penting orang tersebut berusaha.

Kedua, kaum musyrikin menjadikan berhala sebagai pelindung. Keadaan dan tindakan mereka serupa laba-laba yang membuat sarang sebagai pelindung. Sayangnya sarang tersebut sangat lemah dan mudah porak-poranda dengan sedikit gerakan yang menyentuhnya.

Dalam hidup ini ada satu kekuatan yaitu kekuatan Allah. Selain itu, yang ada hanya kekuatan makhluk lemah dan rapuh. Barang siapa berlindung kepada kekuatan makhluk, dia akan seperti laba-laba lemah berlindung pada benang-benang rapuh.

Ada cara untuk menempa kekuatan tersebut, antara lain dengan membaca Alquran, dan memperbanyak zikir. Hal itu dapat menghindarkan dari kemusyrikan dan kebejatan karena dalam Alquran ditemukan bukti-bukti yang sangat nyata tentang keesaan Allah dan kebenaranNya, bahwa semakin kuat zikir seseorang semakin kuat kehadiran Allah dalam jiwa. (Try/H-1)

TAFSIR AL-MISHBAH

Read More

CELOTEH

Read More

JADWAL IMSAKIYAH
Senin, 17 Feb 2020 / 12 Ramadan 1440 H
Wilayah Jakarta dan Sekitarnya
Imsyak : 04:25 WIB
Subuh : 04:35 WIB
Terbit : 05:51 WIB
Dhuha : 06:19 WIB
Dzuhur : 11:53 WIB
Ashar : 15:14 WIB
Maghrib : 17:47 WIB
Isya : 18:59 WIB

PERNIK

Read More