Minggu 05 Juli 2015, 00:00 WIB

Air Mata Warga Negeri Para Dewa

MI/(AFP/ BBC/Yanurisa Ananta/I-1) | Internasional
Air Mata Warga Negeri Para Dewa

Media Indonesia
Media Indonesia

 

GIORGOS Chatzifotiadis, 77, terduduk lesu, bersandar di tepian jalan. Buku tabungan dan kartu identitasnya tergeletak di trotoar. Air matanya mengucur. Sudah seharian itu, Jumat (3/7), Chatzifotiadis mengantre di tiga bank di kota terbesar kedua Yunani, Thessaloniki, untuk mengambil uang pensiun. Di bank keempat, ia diberi tahu tetap tidak bisa mengambil uang pensiun. "Saya terpukul, lebih daripada ketika harus menghadapi persoalan pribadi," isaknya.

Yunani telah dinyatakan gagal membayar utang. Sejak Senin (29/6), pemerintah memberlakukan kebijakan pengendalian kapital dan menutup semua bank guna menahan arus keluar uang tunai. Pada Rabu (1/7), beberapa bank dibuka lagi selama tiga hari berikutnya supaya para pensiunan yang tidak punya kartu ATM bisa mengambil dana pensiun. Itu pun dibatasi 120 euro, sekitar Rp1,78 juta. Padahal pada 2009, dana pensiun mencapai ratarata 1.350 euro sebulan.

Chatzifotiadis, seperti banyak warga Yunani Utara, bekerja di perusahaan pertambangan batu bara di Jerman selama bertahun-tahun. Namun, sekarang, negara tempat dia dulu mencari nafkah itu justru mendesak Yunani melakukan penghematan superketat demi pencairan dana bantuan. "Saya lihat orang sampai harus mengemis beberapa sen untuk membeli roti. Saya tidak tahan melihat negara saya seperti ini," keluh Chatzifotiadis. Dewa-dewi di 'Negeri Para Dewa' itu mungkin ikut terisak bersama Chatzifotiadis, satu dari 2,65 juta pensiunan Yunani.

Bagi Chatzifotiadis, Eropa dan Yunani telah melakukan kesalahan. Untuk meluruskannya, perlu dicari solusi yang ampuh. Bagi Chatzifotiadis pula, referendum bukanlah pilihan. Ia bahkan tidak yakin akan ikut referendum program dana talangan yang dijadwalkan digelar hari ini. Untuk menuju tempat pemungutan suara, Chatzifotiadis harus menempuh perjalanan sejauh 80 kilometer. "Saya tidak punya uang untuk ke sana," kata dia.

Yunani terancam terdepak dari zona euro jika pilihan 'tidak' mendominasi hasil referendum, yang berarti warga menolak proposal kesepakatan dana talangan yang diajukan tiga kreditur, Komisi Eropa, Bank Sentral Eropa, dan Dana Moneter Internasional (IMF). Menurut Olivier Passet, ekonom dari lembaga konsultan Xerfi , jika pilihan 'tidak' menang pada referendum, Yunani bakal punya daya tawar lebih kuat dalam negosiasi.

"Namun, kita belum tahu reaksi para kreditur, hendak membuka lagi perundingan atau tidak?" ucap Passet. Sebaliknya, kemenangan 'ya' pada referendum berarti rakyat menolak mandat pemerintahan Perdana Menteri Alexis Tsipras. Yunani pun tak serta-merta terang benderang. Pemerintahan bisa bubar. Salah satu opsinya ialah pemilu dini yang hasilnya, menurut Henrik Enderlein, pengamat dari Institut Jacques Delors, Berlin, Jerman, "Tsipras mungkin bisa menang lagi."

Baca Juga

Ilustrasi

Departemen Pemilu Singapura dalami Dugaan Kecurangan

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Jumat 10 Juli 2020, 21:00 WIB
Departemen Pemilihan Umum (ELD) Singapura mengungkapkan, mengetahui adanya unggahan daring oleh seorang pemilih yang menyebutkan ada...
AFP/Ozan Koze

UNESCO Imbau Turki tak Ubah Museum Hagia Sophia jadi Masjid

👤Insi Nantika jelita 🕔Jumat 10 Juli 2020, 20:44 WIB
Hagia Sophia awalnya merupakan katedral kemudian menjadi masjid setelah penaklukan Istanbul. Lalu dicantumkan sebagai situs Warisan Dunia...
AFP

Kasus Covid-19 Melonjak, Hong Kong Kembali Tutup Sekolah

👤Haufan Hasyim Salengke 🕔Jumat 10 Juli 2020, 18:26 WIB
Terdapat 34 kasus baru covid-19 dengan transmisi lokal pada Kamis (10/7) waktu setempat. Mulai Senin depan, seluruh sekolah di Hong Kong...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya