Rusia Kecam Penahanan Suporter

Penulis: AFP/Gnr/X-5 Pada: Kamis, 16 Jun 2016, 06:25 WIB Sepak Bola
Rusia Kecam Penahanan Suporter

AFP/PHILIPPE HUGUEN

TINDAKAN polisi Prancis yang menahan puluhan suporter Rusia di Marseille dikecam keras pemerintah Rusia.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov dengan tegas mengatakan tindakan tersebut sangat tidak bisa diterima.

"Itu tindakan yang sangat tidak bisa diterima ketika sebuah bus yang berisi lebih dari 40 suporter Rusia dihentikan pihak kepolisian," kata Lavrov di parlemen Rusia.

"Kepolisian Prancis bilang itu hanya untuk pemeriksaan dokumen dan identifikasi."

Pihak kepolisian Prancis memberhentikan bus yang berisi 43 suporter Rusia di dekat Marseille, Selasa (14/6), dan langsung menahan suporter dalam bus itu.

Tindakan polisi itu diduga sebagai respons atas kerusuhan suporter Rusia dan Inggris di Marseille, akhir pekan lalu.

Pemerintah Rusia mengklaim sama sekali tidak mendapatkan pemberitahuan melalui nota diplomatik, baik lewat kedutaan besar maupun konsulat jenderal mereka di Marseille.

Kabar penahanan suporter Rusia itu justru didapat dari Alexander Shprygin, ketua asosiasi suporter Rusia yang berada dalam bus itu. Shprygin mengunggah pena-hanannya ke media sosial.

Puluhan suporter Rusia itu diduga akan melakukan perjalanan ke Lille, tempat tim 'Elang Emas'--julukan timnas Rusia--menjalani laga kedua Grup B Euro 2016 berhadapan dengan Slovakia.

Pemerintah Rusia sebelumnya menuduh otoritas keamanan di Prancis gagal mencegah kerusuhan antarsuporter di Marseille.

Kericuhan itu mengakibatkan Rusia diultimatum akan didiskualifikasi dan dikenai denda miliaran rupiah oleh UEFA.

Pada bagian lain, Presiden Prancis Francois Hollande mengancam akan melarang seluruh demonstrasi buruh yang menuntut pencabutan reformasi ketenagakerjaan.

Ancaman itu dilontarkan tokoh sosialis Prancis tersebut setelah terjadi kerusuhan di Paris pada Selasa (14/6).

"Di saat Prancis sedang menyelenggarakan turnamen Euro 2016, di tengah ancaman terorisme yang juga makin nyata, demonstrasi tidak lagi bisa dilakukan jika orang dan fasilitas publik tidak dapat dijaga," kata juru bicara Hollande, Stephane Le Foll.

Kerusuhan di ibu kota Prancis itu pecah setelah demonstran bertopeng melempari polisi yang sebelumnya menangkap lusinan pengunjuk rasa.

Sebanyak 40 orang dilaporkan mengalami luka-luka. Kepolisian mengklaim 29 anggota mereka menjadi bagian dari pihak yang mengalami luka-luka.

Perdana Menteri Manuel Valls menuding CGT Union, organisasi buruh garis keras di Prancis, menjadi biang keladi kerusuhan tersebut.

"Saya minta CGT tidak berdemonstrasi lagi di Paris," tandasnya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More