Selasa 07 Juni 2016, 21:33 WIB

BMKG Deteksi Lonjakan Titik Panas di Riau

Antara | Nusantara
BMKG Deteksi Lonjakan Titik Panas di Riau

ANTARA

 

BADAN Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru mendeteksi lonjakan titik panas yang mengindikasikan adanya kebakaran lahan dan hutan di Provinsi Riau, Selasa (7/6) sore.

"Dari pencitraan satelit Terra dan Aqua pukul 16.00 WIB, terdapat 33 titik panas di 8 Kabupaten di Riau," kata Kepala BMKG Pekanbaru, Sugarin, di Pekanbaru.

Ia menjelaskan seluruh titik panas atau hot spot tersebut terpantau di Pelalawan 11 titik, Siak dan Indragiri Hilir 6 titik. Selanjutnya di Kampar 3 titik, Kuantan Singingi 2 titik, serta Indragiri Hulu 2 titik.

Sejumlah titik panas lainnya tersebar di Bengkalis dan Meranti 1 titik. Meski terpantau 33 titik panas, Sugarin mengatakan bahwa hanya satu titik yang dipastikan sebagai titik api yang mengindikasikan kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70%.

"Satu titik api terdeteksi berada di Bengkalis yang terpantau di Kecamatan Bukit Batu," ujar Sugarin.

Keberadaan titik panas di Riau cenderung fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir. Pekan lalu, keberadaan titik panas mencapai 15 titik, dan pada awal pekan ini, keberadaan titik panas cenderung menurun. Pada Selasa pagi tadi, hanya terpantau 8 titik panas, dan kembali melonjak tajam pada sore hari.

Namun begitu, dari sejumlah titik panas yang terpantau, sangat sedikit yang dipastikan sebagai titik api atau menjadi indikasi kebakaran hutan dan lahan dengan tingkat kepercayaan di atas 70%.

BMKG Pekanbaru menyatakan cuaca di Provinsi Riau saat ini berkisar antara 33-34 derajat Celcius sebagai efek dari masuknya musim kemarau pada awal Ramadan ini. Meski begitu, ia mengatakan musim kemarau tahun ini tidak akan separah tahun-tahun sebelumnya karena sebagian besar wilayah Indonesia akan dilanda fenomena La Nina atau kemarau basah yang berarti meski pun musim kering tetapi tetap berpotensi terjadinya hujan.

Namun, Sugarin mengatakan cuaca panas lebih dominan dengan cuaca kering di daratan yang diperkirakan berlangsung hingga November 2016 sehingga potensi kebakaran hutan dan lahan terutama gambut sekitar 49% lebih dari total luas daratan di Provinsi Riau mencapai 8,9 juta hektare lebih, terutama wilayah pesisir akan terjadi.

Sementara itu, Komandan Resor Militer 031/WB Brigjen TNI Nurendi yang juga menjabat sebagai Komandan Satgas Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) menyatakan Pemerintah Provinsi Riau sepakat menetapkan untuk memperpanjang status siaga darurat karhutla yang berakhir hari ini hingga 30 Nopember 2016 mendatang.

Ia menjelaskan bahwa penetapan status siaga selama lima bulan tersebut tidak berarti tidak mampu menangani bencana kebakaran melainkan meningkatkan upaya preventif yang telah dilakukan sejak awal 2016 lalu. "Status siaga darurat ditetapkan sebagai upaya prefentif yang kita lakukan sejak awal terus maksimal," katanya. (Ant/OL-5)

Baca Juga

MI/ Alexander P Taum

Frustasi, Penumpang KM Lambelu Nekat Terjun ke Laut

👤Alexander P Taum 🕔Rabu 08 April 2020, 00:40 WIB
Mereka nekat melakukan itu dipicu keputusan Bupati Sikka Fransiskus Robertto Diogo yang melarang KM Lambelu merapat ke pelabuhan laut...
MI/ Alexander P Taum

Tiga ABK KM Lambelu Positif Virus Korona

👤Palce Amalo 🕔Rabu 08 April 2020, 00:20 WIB
Saat ini kapal tersebut sudah diperbolehkan merapat ke dermaga untuk menurunkan sekitar 233...
MI/Susanto

13.000 Warga Cianjur Sudah Pulang Kampung

👤Benny Bastiandy 🕔Selasa 07 April 2020, 23:35 WIB
Jumlah pemudik warga Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, yang kembali ke masing-masing kampung halaman masing-masing selama mewabahnya covid-19...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya