Rabu 08 Juni 2016, 00:40 WIB

Dilema Jadi Operator Kapal belum Profesional

Administrator | Nusantara
Dilema Jadi Operator Kapal belum Profesional

MI/Yose

 

SABAN pekan, puluhan kapal wisata bersandar menunggu giliran mendapat tamu untuk dibawa berkeliling ke pulau-pulau di sekitar Mandeh. Satu dari puluhan kapal yang bersandar ialah milik Rio Mainaldo, 30. Pemuda asal Mandeh itu ikut merasakan denyut wisata di wilayahnya sejak diadakan Mandeh Joy Sailing 2014. "Melaut rezeki harimau. Kadang semalam dapat Rp100 ribu, kadang Rp30 ribu, kadang hampa, sementara menjadi operator kapal wisata, kalau ada tamu pasti rezekinya," ujar Rio.

Mandeh Joy Sailing 2014 yang berlangsung 12 Oktober 2014 itu seakan menjadi viral bagi kawasan Mandeh. Rio pun ikut merasakan geliat pariwisata. Ia yang semula fasilitator program PNPM kini banting setir menjadi operator kapal pariwisata. Sehari-hari ia berada di Carocok untuk mengoperasikan kapalnya. Sudah tujuh bulan Rio menjadi operator kapal wisata.

Saat ini tarif kapal wisata Mandeh Rp650 ribu per hari. Tamu bebas diantar ke mana saja di sekitar Mandeh. Rata-rata laba bersih yang dibawa pulang Rio antara Rp200 ribu dan Rp380 ribu. Dari uang Rp650 ribu yang dibayar tamu penyewa kapal, sebagian digunakan Rio untuk operasional dan sisanya dibawa pulang. “Rata-rata pengeluaran untuk operasional Rp270 ribu. Sisanya untuk saya dibagi dengan kernet," tambahnya.

Dia membandingkan pekerjaannya saat di PNPM yang berbasis pada program dengan uang yang jelas. “Kalau menjadi operator kapal, kita berjuang melayani tamu. Bagaimana tamu puas dan efeknya balik ke kita atau sebaliknya," ungkapnya. Menjadi operator kapal pariwisata memang harus bersabar karena bergantung pada banyak sedikitnya pelancong, ditambah banyaknya kapal wisata dalam setahun ini. Dari hitungan Rio, ada sekitar 150 kapal wisata yang beroperasi di Mandeh saat ini. “Sebelum Mandeh Joy Sailing 2014, hanya 2 dua sampai 3 kapal," ujarnya.

Melubernya kapal kadang tidak diimbangi dengan jumlah wisatawan yang mengunjungi Mandeh. Menurut Rio, Mandeh menjadi sepi sejak ada gempa pada 2 Maret lalu. Selain itu, para pelaku pariwisata belum memberikan pelayanan yang baik untuk para wisatawan. "Persoalan mendasar ialah pelayanan. Kebanyakan operator biasa ke laut mencari ikan, belum paham dengan pelayanan di bidang pariwisata," ungkapnya.

Selain itu, fasilitas umum untuk para wisatawan sangat minim, terutama toilet yang belum memenuhi standar daerah pariwisata. “Kami juga belum pernah dilatih menjadi pemandu wisata,” tambahnya. Masyarakat di sekitar Mandeh pun belum dilatih menciptakan sadar wisata di lingkungan mereka. Masyarakat lebih senang menjalani pekerjaan yang dianggap menguntungkan, yaitu sebagai operator kapal wisata. “Warga di sini berbondong-bondong menjadi operator kapal wisata daripada yang lain. Makanya kapal wisata jauh lebih banyak daripada pengembangan wisata lain
di Mandeh," jelas Rio. (YH/N-3)

Baca Juga

MI/Alexander P.Taum

Bupati Sikka Relakan Rumdinnya Jadi Area Karantina KM Lambelu

👤Alexander P. Taum 🕔Rabu 08 April 2020, 00:56 WIB
Sebanyak 233 orang akan dikarantina di rumah dinas Bupati Sikka menyusul ditemukannya 3 orang positif terinfeksi covid-19 di kapal yang...
MI/ Alexander P Taum

Frustasi, Penumpang KM Lambelu Nekat Terjun ke Laut

👤Alexander P Taum 🕔Rabu 08 April 2020, 00:40 WIB
Mereka nekat melakukan itu dipicu keputusan Bupati Sikka Fransiskus Robertto Diogo yang melarang KM Lambelu merapat ke pelabuhan laut...
MI/ Alexander P Taum

Tiga ABK KM Lambelu Positif Virus Korona

👤Palce Amalo 🕔Rabu 08 April 2020, 00:20 WIB
Saat ini kapal tersebut sudah diperbolehkan merapat ke dermaga untuk menurunkan sekitar 233...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya