Salah Kaprah dalam Unit Link

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Senin, 06 Jun 2016, 09:00 WIB Ekonomi
Salah Kaprah dalam Unit Link

MI/Duta

PESATNYA penetrasi produk unit link dari asuransi di Indonesia dipandang Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai suatu hal yang perlu diperhatikan secara saksama Pasalnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang memang belum begitu memahami apa sebetulnya dari produk unit link tersebut.

"Saat ini masyarakat banyak yang memiliki pemahaman keliru terhadap unit link. Kekeliruan tersebut bisa juga disebabkan oleh agen yang tidak terlatih dengan baik," ungkap Kepala Departemen Perlindungan Konsumen OJK Anto Prabowo, di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (4/6).

Ia mencontohkan produk unit link kerap dianggap sebagai produk tabungan dan premi yang dibayarkan nasabah seluruhnya untuk investasi. Padahal, kata dia, penempatan dana tersebut bisa di berbagai instrumen investasi. Selain itu, di tahun awal, dana nasabah bisa dipergunakan untuk membayar biaya-biaya dan belum ada bagian (share) untuk investasi.

Untuk itu, kata dia, masyarakat harus memahami karakteristik produk unit link tersebut, terutama jika agen yang memasarkan tidak memberikan penjelasan sejelas mungkin sehingga menyebabkan persepsi di masyarakat.

Padahal, dalam unit link penting dijelaskan adanya simulasi dari yang paling jelek hingga yang paling bagus. Namun, biasanya masyarakat lebih antusias mendengarkan yang baik saja, tanpa mereka memahami kondisi ekonomi yang sedang berlangsung.

"Misalnya, sedangkan dalam pengaduan yang masuk di kami (OJK) ada pemegang polis yang berinvestasi hingga Rp500 juta untuk unit link, tetapi imbalnya ketika ditutup hanya Rp250 juta dan dirinya merasa rugi sebab di awal dijanjikan sebagaimana tabungan," katanya.

Berdasarkan survei OJK, pengetahuan keuangan (financial literacy) masyarakat itu masih 21,8%. Sementara inklusi keuangan (financial inclusion) masyarakat sudah mencapai 59,7%.

"Bayangkan jika unit link tersebut dijual di luar populasi tersebut, yang tidak mempunyai kemampuan untuk memahami produk. Akhirnya, konsumen membeli tanpa mengetahui produk yang dibeli sebab konsumen merasa punya uang," ujar Anto.

Waspada investasi ilegal
OJK juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap maraknya investasi ilegal. Apalagi, jumlah perusahaan investasi ilegal yang dilaporkan masyarakat meningkat 100% menjadi 406 dari tahun lalu.

Tawaran keuntungan bunga itu cukup menggiurkan, yaitu 5% per bulan atau 60% dalam setahun. "Mereka tawarkan bunga profit 5% per bulan enggak masuk akal, tapi masuk rekening," ujar Direktur Kebijakan dan Dukungan Penyidikan Departemen Penyidikan OJK Tongam L Tobing, pada kesempatan yang sama.

Selain dalam bentuk dana segar, investasi itu bisa dalam bentuk kegiatan keagamaan maupun emas. Bukan itu saja, para pelaku investasi ini juga biasanya merekrut tokoh agama atau tokoh masyarakat agar masyarakat tertarik dan akhirnya ikut bergabung.

Untuk itu, OJK meminta agar masyarakat lebih memperhatikan berbagai ciri-ciri berikut ini agar terhindar dari investasi yang berpotensi bermasalah.

Ciri-ciri investasi bodong menurut OJK:
1. Imbal hasil yang di luar batas kewajaran dalam waktu singkat.
2. Penekanan utama pada perekrutan.
3. Tidak dijelaskan bagaimana cara mengelola investasinya.
4. Tidak dijelaskan underlying usaha yang memenuhi asas kewajaran dan kepatutan di sektor investasi keuangan.
5. Tidak jelasnya struktur kepengurusan, struktur kepemilikan,struktur kegiatan usaha, dan alamat domisili usaha.
6.Kegiatan yang dilakukan menyerupai money game dan skema ponzi. Menyebabkan terjadinya kegagalan untuk mengembalikan dana masyarakat yang diinvestasikan.
7. Bila ada barang, kualitas barang tidak sebanding dengan harganya.
8. Bonus dibayar hanya bila ada perekrutan.(Ant/Metrotvnew.com/E-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More