Skema Harga Baru Bulan Ini Bergulir

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Senin, 06 Jun 2016, 08:40 WIB Ekonomi
Skema Harga Baru Bulan Ini Bergulir

Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi---ANTARA

PEMERINTAH mematangkan payung hukum untuk penentuan harga jual listrik (feed-in-tariff/FIT) dari pembangkit berbasis energi baru dan terbarukan (EBT). Rancangan peraturan pemerintah yang mengatur hal tersebut ditargetkan terbit bulan ini.

"Draf RPP ada di Kemenko Perekonomian dan akan diserahkan kepada Presiden untuk diparaf. Mudah-mudahan minggu depan (ini) selesai diteken sehingga Juni ini bisa terbit," ujar Direktur Panas Bumi Yunus Saifulhak di Kantor Ditjen EBTKE Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (3/6).

Perubahan skema tarif diharap dapat mempertebal motivasi investor di tengah tren harga minyak rendah. "Adanya payung hukum itu menerapkan sistem FIT, tidak ada lagi ceiling price dalam proses lelang. Jadi, harga keekonomiannya lebih terjamin," imbuhnya.

FIT berupa bentuk penawaran kontrak jangka panjang kepada produsen listrik. Biasanya dibuat tarif yang lebih kompetitif per kilowatt/hour sebagai kompensasi tingginya beban biaya teknologi. Regulasi khusus tersebut juga akan mendasari penugasan kepada BUMN, dari mulai tahap eksplorasi sampai proses pemanfaatan geotermal.

Pemerintah telah menugasi 3 BUMN untuk menggarap 11 wilayah kerja panas bumi (WKP), yakni PT Pertamina melalui anak usahanya, Pertamina Geothermal Energy (PGE), PT PLN, dan PT Geo Dipa Energi. Total kapasitas penugasan kepada BUMN 1.200 Mw. Dari target 7.000 Mw listrik geotermal di 2025, sejauh ini kapasitas terpasang baru 1.400 Mw.

Yunus menambahkan, besaran FIT yang dirumuskan telah melalui berbagai pertimbangan, baik dari internal Kementerian ESDM, pelaku usaha, PLN, hingga konsultan kelistrikan. Dia memastikan harga (FIT) tersebut memiliki internal rate of return kompetitif. Oleh sebab itu, ia berharap tidak ada lagi resistensi dari pelaku usaha ketika FIT mulai diimplementasikan.

Energi surya
Terkait pembangungan pembangkit listrik tenaga surya 5 ribu Mw yang termasuk megaproyek listrik 35 ribu Mw, pemerintah juga akan menerbitkan aturan khusus untuk memuluskannya.

"Aturannya akan dalam bentuk peraturan menteri (permen), semoga bisa keluar bulan ini," tutur Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Maritje Hutapea di tempat sama.

Aturan itu juga disebutnya mengatur FIT. FIT tahap pertama akan lebih besar ketimbang tahapan berikutnya dengan selirih bisa mencapai 10%. Adanya FIT juga ia yakini bisa memberi kepastian ke bank bahwa bisnis EBT tidak rumit dan bankable. "Yang jelas makin ke (Indonesia) Timur, harga makin tinggi," kata Maritje.

Direktur Eksekutif Institute for Essential Service Reform, Fabby Tumiwa, menilai penerapan FIT membutuhkan kehati-hatian, pun kajian yang teliti.

"Pada dasarnya kita menerapkan harga yang bisa menarik investasi. Energi terbarukan bagi beberapa investor kan sesuatu yang cukup berisiko. Jadi FIT itu seharusnya bisa mengover risiko itu," ujar Fabby.

Ia mengamini, skema FIT telah dipakai di banyak negara. Penentuan harga biasanya berbeda pada setiap jenis energi, sesuai dengan teknologinya yang memang berlainan.

"Yang penting pada tarif berapa investor bisa berinvestasi untuk menutup risiko mereka. Banyak di beberapa negara awalnya tinggi kemudian turun setiap tahun, tapi itu harus diinformasikan sebelumnya," jelas Fabby.(Adi/Ant/E-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More