Masyarakat Indonesia Bermental Instan

Penulis: Dero Iqbal Mahendra Pada: Minggu, 05 Jun 2016, 19:00 WIB Ekonomi
Masyarakat Indonesia Bermental Instan

Ilustrasi

MINIMNYA penetrasi pengetahuan tentang keuangan dan produk keuangan membuat banyak masyarakat Indonesia tertipu dengan investasi yang tidak masuk akal alias fraud atau bodong.

Ironisnya, yang terjaring dalam penipuan tersebut bukan hanya kalangan berpendidikan rendah namun juga dari kalangan terpelajar.

"Orang Indonesia itu cenderung mau cari enaknya saja dan juga selalu mencari sesuatu yang instan terutama dalam kaitannya dengan investasi. Mereka ingin cepat kaya dengan cara yang mudah," terang Kepala Departemen Perlindungan Konsumen OJK Anton Prabowo, di Bogor, Sabtu (4/6).

Anton menjelaskan hal tersebut terjadi salah satunya karena masih rendahnya literasi keuangan di masyarakat. Menurutnya, penetrasi produk di masyarakat baru 21,8% sedangkan pemanfaatan fungsinya sudah 59,7%.

"Saya sudah berkali-kali bilang ini ada kerentanan sebetulnya di masyarakat, dengan pengetahuan yang rendah sebetulnya banyak juga masyarakat yang sudah memiliki produk keuangan. tetapi produk tersebut belum tentu dipahami seutuhnya oleh masyarakat," terang Anton.

Selain itu juga di dalam skim kebijakan dapat terlihat dengan literasi yang rendah bahwa orang yang banyak uang terlihat sering kali terbujuk dengan rayuan investasi yang menawarkan imbal hasil tinggi.

Produknya sendiri ada bermacam-macam, misalnya ada yang money games berupa emas, komoditas, forex, tanaman, Jabon, property.

OJK sendiri sebetulnya sudah berusaha meningkatkan perlindungan konsumen mengingat hal tersebut berkaitan erat dengan dukungan terhadap stabilitas dari sistem keuangan.

Dalam kesempatan yang sama Direktur kebijakan dan dukungan penyelidikan Otoritas Jasa Keuangan Tongam Lumban Tobing membenarkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung untuk mencari hal yang mudah dan instan, terutama dalam kaitan investasi.

Sehingga ketika ditawari suatu imbal bunga yang tinggi maka sudah pasti sebagian besar akan masuk dan tertarik. Namun, ketika mereka sadar pun mereka tidak segera melaporkan kepada pihak berwajib atau kepada OJK.

"Para peserta umumnya tidak mau melaporkan bahwa mereka terkena suatu skema investasi ilegal karena malu sebab yang mengikuti investasi tersebut bukan hanya orang - orang dengan pendidikan rendah saja, tetapi juga dari kalangan terpelajar seperti dosen, tokoh masyarakat, polisi, dan banyak lagi," terang Tongam.

Alasan lainnya, menurut dirinya, adalah karena ketakutan kalau mereka melapor maka uang mereka tidak akan kembali. Misalnya untuk salah satu kasus investasi di NTT yang pengelola investasinya dihukum pidana tetapi masyarakatnya justru mendemo yang menginginkan pengelolanya dibebaskan agar uang mereka kembali.

Tongam mengungkapkan pertumbuhan kasusnya investasi bodong juga meningkat pesat sejak 2014 lalu.

Menurutnya, sejak 2014, sudah terdapat 262 perusahaan yang di indokasikan tidak mendapat izin dari OJK dan melakukan tindak investasi yang tidak benar dan hingga saat ini jumlahnya sudah menjadi 406 perusahaan yang menawarkan investasi yang tidak logis.

Dirinya menyebut bahwa salah satu modus operandi dari berbagai perusahaan investasi bodong terebut adalah dengan menggunakan public figur baik itu tokoh agama, artis, pejabat atau tokoh masyarakat setempat.

Sayangnya, banyak masyarakat tertipu dengan modus tersebut dan bahkan hingga melakukan apapun agar bisa berinvestasi di perusahaan bodong tersebut.

"Investasi itu umumnya dilakukan bila kita kelebihan uang, jadi tidak mungkin kita investasi jika memang pas pasan. Tetapi untuk Cakrabuana Sukses Indonesia (CSI) di Cirebon, dengan dukungan tokoh agama dan tokoh masyarakat masyarakat justru menjual tanah dan rumah untuk berinvestasi dengan iming iming retun 5% per bulan. Bahkan yang paling mengerikan mereka itu meminjam di bank," pungkas Tongam. (OL-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More