Minggu 05 Juni 2016, 06:02 WIB

Lakukan Perubahan Radikal Atasi Harga Pangan

Tes/Jes/X-3 | Ekonomi
Lakukan Perubahan Radikal Atasi Harga Pangan

ANTARA FOTO/Ampelsa

 

GEJOLAK harga pangan, terutama daging sapi, yang selalu menjadi masalah saban tahun tidak cukup diatasi dengan cara-cara tambal sulam seperti mengguyur pasar dengan barang impor. Perlu perubahan radikal sesegera mungkin atas tata kelola produksi hingga distribusi pangan yang selama ini masih konvensional.

“Saatnya kita rancang pola pangan jangka panjang. Kalau semua data pangan terintegrasi dan desain pangan efisien, harusnya tidak ada lagi gejolak pangan secara laten,” cetus Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia, Ismed Hasan Putro, dalam sebuah diskusi di Jakarta, kemarin.

Hingga kemarin, harga bahan pangan pokok, terutama daging sapi, masih tinggi. Di sejumlah pasar di hampir seluruh wilayah, harga daging sapi masih bertahan di level Rp120 ribu-Rp135 ribu per kilogram.

Padahal, dalam dua hari terakhir Perum Bulog mulai menggelontorkan da­ging impor ke pasar, khususnya di Pulau Jawa, dengan harga Rp80 ribu per kilogram. “Memang butuh sosialisasi terus-menerus. Para pedagang belum banyak yang tahu tujuan kita dan di mana lokasi penjualan da­ging kita,” papar Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti saat dihubungi, kemarin.

Menurut Ismed, selain desain pangan yang konvensional, masalah lain yang membelenggu harga pangan ialah infrastruktur pangan termasuk distribusi yang masih memanjakan ‘peternak berdasi’. “Begitu pemerintah membuka peluang impor, da­tang­lah ‘peternak’ atau ‘petani berdasi’ yang melobi untuk mendapatkan kuota. Makanya ubah sistem impor dari kuota menjadi tarif. Pemerintah bisa membuat syarat khusus siapa yang bisa menekan harga,” imbuh mantan Direktur RNI itu.

Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia Asnawi mengemukakan gejolak harga daging sapi setidaknya dipengaruhi tiga provinsi dengan tingkat konsumsi tertinggi, yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat. Selama pemerintah dapat memenuhi kebutuhan ketiga provinsi itu, Asnawi menukas, gejolak harga daging tidak sampai mengemuka. “Kalau mengandalkan sapi potong saja tidak akan mencukupi, kita memang harus impor. Akan tetapi, jangan lupakan swasembada pangan. Kuota impor perlahan harus dikurangi,” tegasnya.

Pada 2016 konsumsi daging sapi nasional diperkirakan lebih dari 660 ribu ton. Dari total kebutuhan itu, pasokan dari dalam negeri baru tersedia 441 ribu ton sehingga kekurangan sekitar 220 ribu ton dipenuhi dengan cara mengimpor. (Tes/Jes/X-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More