Minggu 05 Juni 2016, 02:50 WIB

Agar Industri Kreatif Kian Wow

IIS ZATNIKA | Ekonomi
Agar Industri Kreatif Kian Wow

DOK. PRIBADI

 

RUANGAN bertuliskan ‘Co-Working Space’ di dinding mukanya itu terdiri atas belasan kursi dan tempat duduk dengan colokan yang tersebar di mana-mana. Tempat itu cukup dingin, dengan variasi sofa dan area buat rapat yang dinamai productivity room dan creativity room. Di sana, Dondi Hananto, penggagas Kinara, perusahaan venture capital yang juga aktif mengampanyekan ide-ide soal start-up, wirausaha, dan UKM itu, duduk sembari membuka laptopnya. “Sambil kerja, saya lagi nunggu tim kumpul di sini buat rapat,” kata Dondi kepada Media Indonesia, Kamis (2/6).

Karena menjadi salah satu mitra jejaring Galeri Indonesia Wow (GIW), di Gedung Smesco, Gatot Subroto, Jakarta, Dondi dan timnya bisa bekerja dan menggelar rapat di area buat bekerja serta membangun jaringan itu. Berbagai agenda tengah dirancang lembaga yang digagas Dondi, beberapa di antaranya melibatkan GIW. Kepentingan yang sama memang memungkinkan kolaborasi terjalin di GIW. Lembaga yang digagas Kementerian Koperasi dan UKM itu menjadi titik temu antarpelaku industri kreatif dan UKM, investor, lembaga pendanaan, serta berbagai institusi lainnya.

Di area dua lantainya, terdapat ruang buat berpamer dan berdagang, lengkap dengan pramuniaga hingga fasilitas inkubasi buat para pelaku wirausaha, di co-working space tadi, serta maker space yang rutin digunakan untuk pelatihan hingga proses kurasi. Fasilitas infrastruktur itu, juga dilengkapi berbagai kegiatan buat menghidupkannya, salah satunya Creativity Day yang rutin digelar setiap mulai Januari lalu dengan berbagai tema, mulai marketplace, pameran multiproduk asal Bandung, pembangunan ekologi UKM, hingga kiat mengeksekusi ide.

Efek gitar
Berbagai fasilitas serta ikhtiar itu menjadi rangkaian upaya memihak industri kreatif dan UKM yang dilakukan berkesinambungan. Ki Joyo Sardo, 40, salah satu pembicara dalam Creativity Day, kemudian digandeng GIW, berkat inovasinya memproduksi peranti efek gitar alias stomp box. Ia kini menjadi salah satu pelaku usaha yang produknya dipamerkan di lantai dua GIW. “Mungkin karena ada unsur lokalnya, dan walau bukan yang pertama, Revolt bisa dibilang yang paling senior saat ini. Kami berdiri sejak 2001 dan bersama dua karyawan, saya benar-benar fokus di bidang ini,” kata musikus blues yang akrab disapa Dogie itu.

Dihargai Rp1,2 juta hingga Rp2,2 juta, efek gitar yang disebut Dogie menjadi sahabat para gitaris, mulai yang hobi hingga profesional itu, kini diproduksi hingga 16 unit dalam sebulan. “Ini bisa dibilang sahabatnya para gitaris deh. Efeknya mulai yang disebut sustain, gema, hingga yang meniru vokal manusia. Yang terbaru, hasil inovasi kami, fruit punch, bisa menggabungkan beberapa efek dalam satu alat,” kata Dogie yang bisa menawarkan 25 jenis efek gitar. Karakter peranti efek gitar yang sangat personal dan custom kerap membuat Dogie berbincang panjang dengan para musikus.

Itu membuat Revolt punya daya saing daripada alat serupa yang dihasilkan merek-merek impor. Pelanggan setianya, termasuk musisi papan atas, seperti Gugun Blues Shelter dan Baron, mantan personel band Gigi, menjadi mitra Dogie untuk terus bertumbuh. Bergelut dengan solder, kabel, dan peranti elektronik lainnya, Dogie berharap kehadirannya di salah satu sudut GIW bisa mengatrol para pelaku industri kreatif di bidang-bidang yang belum familier di telinga awam. “Di pameran industri musik saja, kami kerap masih belum dipandang. Mudah-mudahan dengan eksis di Galeri bisa membuka mata publik tentang industri kreatif yang belum mainstream,” ujar Dogie optimistis.

Mengatrol gitar Bandung
Jika Revolt berwujud peranti sebesar tetikus, tapi dalam bentuk kotak, Russel dan Rockwell, dua produk musik lokal lainnya, berwujud lebih besar dan mudah dikenali awam. Russel berwujud amplifi er untuk gitar serta keyboard, sedangkan Rockwell ialah merek gitar dengan 20 jenis tipe dan desain. Mulai berpameran sejak Maret lalu, Resllie Kurniawan, 45, sang pemilik, berharap GIW bisa menjadi salah satu kunci pembuka pintu menuju cita-citanya, menjadi tuan rumah merek alat musik lokal di Indonesia. “Seperti yang kita tahu, merek alat musik Jepang bisa merajai di dunia, salah satunya karena punya sekolah musik. Kami juga tengah merintisnya,” kata Resllie.

Dengan menyediakan amplifier hingga yang berkualitas paling mutakhir lewat teknologi full range serta memproduksi semua jenis gitar dan bass, Resllie optimistis bisa eksis bukan cuma di pasar domestik, melainkan juga internasional. Salah satu langkahnya, mematok harga di bawah merek papan atas yang sudah dikenal di tingkat internasional. “Kami punya tim riset dan pengembangan yang bekerja optimal, bagaimana caranya agar dengan harga Rp1 juta hingga Rp5 juta orang terpenuhi ekspektasinya. Merek-merek gitar dan bas global itu kan diproduksinya di Balaraja, Tangerang, Banten, serta Mojokerto, Jawa Timur dan 70% bahan bakunya ya dari Indonesia juga,” ujar Resllie yang setiap bulan menjual lebih dari 500 gitar dan 1.000 amplifier. Dengan produksi di Bandung, Jawa Barat, jalan menuju pasar global terus dirintis Russel dan Rockwell dengan dipakai di sekolah musik di Gading Serpong, Banten, hingga dipajang di Gatot Subroto. (M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More