Jumat 27 Mei 2016, 19:34 WIB

Ke Gunung Kawi, Menperin Kunjungi Pabrik Susu Terintegrasi

Administrator | Ekonomi
Ke Gunung Kawi, Menperin Kunjungi Pabrik Susu Terintegrasi

Dok. Kementerian Perindustrian

 

PERUSAHAAN produsen susu sapi di Indonesia dinilai mampu berperan ganda bagi pemenuhan kebutuhan susu dan perekenomian nasional. Sebagai bagian industri, pelaku usaha sektor ini turut menggerakkan perekonomian yang memberi nilai tambah, peningkatan ekspor, dan penyerapan tenaga kerja.

Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan hal itu saat mengunjungi pabrik susu milik PT Greenfields Indonesia di Desa Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (27/5). "Peran ganda produsen sapi ialah yang pertama, mencukupi kebutuhan gizi dan meningkatkan tingkat konsumsi per kapita kita yang masih 12,1 kilogram per tahun. Yang kedua, berperan secara ekonomi yaitu menyerap susu segar produksi peternak sapi, pakan dari petani dan ekspor," katanya.

Sejauh ini, konsumsi susu per kapita Malaysia 36,2 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Filipina 17,8 kg/kapita/ tahun. Hal itu menunjukkan bahwa masih besar potensi pasar bagi industri pengolahan susu di Indonesia.

Sementara itu, kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri untuk susu olahan saat ini sekitar 3,8 juta ton (setara susu segar). Dari dalam negeri, hanya mampu memasok bahan baku susu segar 798.000 ton (21%) sehingga sebagian besar masih harus diimpor yakni 3 juta ton (79%) dalam bentuk Skim Milk Powder, Anhydrous Milk Fat, dan Butter Milk Powder dari berbagai negara seperti Australia, New Zealand, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

"Kekurangan ini merupakan peluang sekaligus tantangan bagi usaha peternakan sapi perah di dalam negeri untuk meningkatkan produksi dan mutu susu segar, sehingga secara bertahap kebutuhan bahan baku susu untuk industri dapat ditingkatkan," ujar Menperin.

Guna memacu industri pengolahan susu, Kemenperin telah menetapkan industri ini sebagai salah satu industri prioritas untuk dikembangkan sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN).

Di samping itu, Pemerintah telah memberikan beberapa fasilitas antara lain Pembebasan PPN untuk produk susu segar melalui PP No 31/2007; pemberian kredit usaha pembibitan sapi sesuai dengan PMK No 131/PMK.05/2009; Pengurangan Pajak Penghasilan (PPh)/Tax Allowance bagi investasi baru maupun perluasan sesuai PP No 18/2015.

Greenfields Indonesia juga telah memohon untuk mendapatkan fasilitas Pengurangan Pajak Penghasilan (Tax Allowance) atas rencana perluasan industri. “Kemenperin telah menerbitkan rekomendasi kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI," kata Saleh yang didampingi Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Ditjen Industri Agro Kemenperin Willem Petrus Riwu.

Pemberian fasilitas tax allowance tersebut diharapkan dapat memberi manfaat yang cukup besar bagi pengembangan industri ke depan dan dapat meningkatkan jumlah investasi di dalam negeri.

Greenfields Indonesia merupakan bagian dari Japfa Group dan mengembangkan industri persusuan yang terintegrasi mulai dari pembibitan, budidaya sapi perah, pemerahan sapi hingga pengolahan susu segar yang memproduksi Susu Ultra High Temperature (UHT), dan Susu Extended Self Life (ESL).

Perusahaan juga memiliki peternakan sapi perah dengan jumlah ternak 8.000 ekor sapi Holstein di Malang dan tengah membangun pabri pengolahan senilai USD 15 juta peternakan sapi kedua di Blitar dengan investasi US$38 juta.

"Perusahaan kami merupakan peternakan sapi sekaligus produsen susu yang besar dan terintegrasi. Produk susu yang diproduksi telah diekspor seperti ke Singapura, Malaysia, Hongkong, Filipina, Brunei," kata CEO of Japfa and Related Entities Handojo Santosa yang didampingi Head of Beef Division Samuel Wibisono dan Head of Milk Processing PT Greenfields Indonesia Darmanto Setyawan.

Dengan ekspansi penambahan peternakan dan pabrik baru, Greenfields mengincar pasar ekspor lainnya antara lain Taiwan, Vietnam, Kamboja, Myanmar, Maladewa, dan Papua Nugini. Lebih jauh lagi, Greenfields juga berkomitmen akan menanam investasi US$345 juta untuk membangun lima peternakan dan pabrik pengolahan dalam 10 tahun ke depan.

Perseroan juga akan mendongkrak produksi susu hingga 6 kali dari 40 juta liter menjadi 260 juta liter dalam 1 dekade mendatang. Terkait kinerja ekspor, Greenfields juga membidik penjualan ekspor senilai US$105 juta pada 10 tahun mendatang.

Menperin berharap Greenfields Indonesia secara aktif berinteraksi dan bermitra dengan para praktisi kesehatan, penggiat gizi, pengambil kebijakan dan pihak terkait lainnya untuk menyebarkan edukasi yang diperlukan dalam rangka mewujudkan generasi Indonesia yang sehat di masa kini dan masa datang.

"Selain itu, saya minta Greenfields tetap berkomitmen untuk menyerap susu segar dalam negeri, dengan pendekatan asistensi untuk peningkatan produktivitas, perbaikan kualitas dan budidaya ternak yang lebih baik kepada para peternak binaan," kata Menperin. (RO/OL-5)

Baca Juga

DOK: SINARMAS LAND

Sinar Mas Land Siapkan Bantuan 25.000 Alat Uji Covid-19

👤RO 🕔Selasa 07 April 2020, 21:10 WIB
Puluhan ribu rapid test kit tersebut rencananya diserahkan ke Kementerian Kesehatan sebanyak 12.500 alat dan sisanya ke sejumlah pemerintah...
Antara

Menteri PUPR Bakal Minta Relaksasi Pembayaran Kewajiban Jalan Tol

👤Antara 🕔Selasa 07 April 2020, 20:49 WIB
Jalan tol mengalami penurunan sekitar 40 sampai dengan 60 persen dari LHR pada hari-hari...
Antara

Pemerintah Percepat Program Padat Karya Tunai

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Selasa 07 April 2020, 20:08 WIB
Kementerian Koordinator Perekonomian tengah menyiapkan sejumlah program guna melindungi masyarakat dari dampak penyebaran virus korona...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya