Minggu 15 Mei 2016, 04:30 WIB

Arus Seni Rupa di Aras Moralitas

Abdilla M Marzuqi | Weekend
Arus Seni Rupa di Aras Moralitas

ANTARA/DODO KARUNDENG

POJOK bagian belakang ruang pamer tampak berbeda. Ada seorang pria bertelanjang dada. Ia hanya memakai kain yang tampak kendur dari batas pinggang ke bawah. Ia mengangkat tangan kanannya ke atas sembari memegang kuas, sedang tangan kirinya menyelip ke belakang punggung.

Tampaknya, pria tersebut menghadap ke sebuah cermin yang bertuliskan Art Is My Li(f)e. Huruf ‘f’ mendapati tanda kurung sebab, f dalam lukisan itu warna merah hasil cat. Bahkan, lelehan cat menetes dan menimpa cermin sehingga meninggalkan bekas di beberapa bagian cermin.

Itu ialah karya F Sigit Santoso yang berjudul Li(f)e. Karya berukuran 125 x 170 cm itu merupakan salah satu yang menghiasi pojok salah satu ruang pamer.

Sigit ialah salah satu dari 35 seniman yang berpamer dalam tajuk Manivesto V: Arus. Pameran itu dikuratori Asikin Hasan dan Rizki A Zaelani. Acara itu dihelat pada 4-30 Mei 2016 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Bukan tanpa alasan Manifesto dipilih sebagai tajuk utama. Manifesto ialah sebuah pernyataan sikap, pandangan, dan tujuan yang dikemas Galeri Nasional Indonesia dalam sebuah ekspresi seni rupa.

Sejak dihelat pertama kali pada 2008, ciri khas dan keunikan pameran Manifesto terus dijaga sebagai pencerminan perkembangan seni rupa Indonesia.

Seni dan bahasa moral Tema ‘Arus’ pada helatan kali ini juga punya maksud tersendiri. Dalam tulisan salah satu kurator Rizki A Zaelani, Manifesto V menyoal arus seni rupa di aras moralitas.

Ekspresi seni dihayati sebagai ungkapan bahasa moral (etik) yang mengungkapkan secara mendesak dan signifikan kecenderungan potensi nurani manusia.

“Kita tak lagi bicara tentang seseorang atau sekelompok orang secara tertentu karena di era transparansi realitas digital dan virtual saat ini segala hal yang sosial ialah juga yang bersifat personal, dan sebaliknya,” terang Rizki.

Kini tak lagi mudah menemukan sejatinya nilai seseorang di antara kelimun. Masa kini ialah keadaan ketika arus ekspresi kecenderungan nurani mendapat tantangan hebat dari arus dorongan kecenderungan naluri. “Seni sejatinya mengenal dan memahami keadaan ini,” terang Rizki.

Manifestasi arus seni rupa yang dimaksud kini ialah dukungan dan sikap pembelaan terhadap nilai penting dan mulia ihwal kebenaran dan bukannya tentang ‘kebenaran’ yang mengandung kepentingan meresap di berbagai bentuk pengalaman interaksi hidup dan sikap penghargaan pada lingkungan hidup.

“Manifesto Arus Seni Rupa kini hendak menunjukkan sikap dan pendirian di balik ekspresi karyakarya seni demi memperjuangkan makna hidup yang lebih berarti dan berfaedah bagi keutamaan nilai kemanusiaan,” sambungnya.

Sikap dan pendirian itu dimanifestasikan ke dalam sekitar 35 karya lebih berupa lukisan, patung, objek, fotografi , seni rupa instalasi, seni rupa video, serta mural yang sebagian besar karya terbaru. Karyakarya itu tidak hanya dipajang di dalam ruang pamer Gedung A dan B, tapi juga merespons area outdoor Galeri Nasional Indonesia.

Kurator lain, Asikin Hasan, menuturkan sebagian besar generasi yang tumbuh di antara era 80-an dan 90-n, serta sebagian kecil generasi 2000-an, mengatakan karyakaryanya memiliki semangat dan keyakinan sama, yaitu seni yang berpihak, bahkan kerap membawa pesan moral, sosial, dan kebaikan bagi masyarakat.

“Masing-masing seniman menyatakan arus-arus keyakinan mereka pada potensi peran seni yang dianggap mampu mendorong perubahan baik secara personal, sosial, maupun kultural,” jelas Asikin. (Abdilla M Marzuqi/M-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More