Rabu 11 Mei 2016, 04:49 WIB

Transfer Lemak, Utamakan Keamanan

Nik/H-1 | Humaniora
Transfer Lemak, Utamakan Keamanan

THINKSTOCK

 

Seiring dengan kemajuan teknologi, langkah untuk memiliki penampilan menarik juga makin berkembang. Salah satunya melalui teknik transfer lemak. Dengan teknik tersebut, seseorang bisa mengurangi kelebihan lemak di area tertentu dan memindahkannya untuk memperindah area lain.

Lemak dari pinggang, misalnya, bisa dipindahkan untuk memperbesar buah dada, memancungkan hidung, juga mengisi area wajah yang mulai kendor dan berkerut karena penuaan. Namun, masyarakat perlu selektif dalam memilih layanan transfer lemak. Faktor keamanan harus menjadi salah satu pertimbangan utama. "Transfer lemak merupakan salah satu kompetensi dokter bedah plastik rekonstruktif estetik, bukan dokter umum, apalagi nondokter.

Kelirunya, di Indonesia ada dokter umum, bahkan nondokter, yang mengambil kursus singkat lalu menyediakan layanan ini," ujar dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif estetik Danu Mahandaru, pada diskusi kesehatan di Jakarta, April lalu.

Ia menjelaskan, transfer lemak bukan sekadar memindahkan lemak dari satu area tubuh ke area lain, melainkan juga harus memastikan bahwa lemak yang dipindahkan bisa bertahan di tempat yang diinginkan dengan aman. "Selain keahlian dokter, dukungan peralatan yang tepat juga turut menentukan keberhasilan transfer lemak," kata dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, itu.

Ia mencontohkan perangkat berteknologi waterjet liposuction. Perangkat itu memungkinkan penyedotan lemak dilakukan secara lebih lembut dan cepat, sebab penyedotan lemak dengan jarum khusus dilakukan bersamaan dengan penyemprotan air (waterjet) di area lemak berada. Hal itu akan meminimalkan kerusakan sel-sel lemak yang diambil.

"Akan terlihat secara kasatmata, lemak yang terambil lebih bersih. Berbeda dengan teknik konvensional yang pengambilannya lebih kasar, umumnya menyebabkan perdarahan lebih banyak sehingga cairan lemak terlihat lebih merah dan banyak sel lemak yang pecah," tuturnya.

Ia mengingatkan keutuhan sel lemak amatlah penting. Sel lemak yang utuh merupakan sel yang hidup dan terkandung sel punca. "Jika kita mentransfer sel lemak yang hidup bersama sel punca di dalamnya, kita bisa mendapatkan hasil yang ditargetkan, sebab sel-sel itu akan hidup dan berikatan dengan jaringan di sekitarnya.

"Lain halnya jika yang disuntikkan merupakan sel-sel lemak yang sudah pecah atau mengalami lysis. Sel-sel itu akan diserap tubuh, target perbaikan penampilan pun tidak akan tercapai.

Cegah infeksi
Danu menambahkan, teknik waterjet liposuction juga memungkinkan lemak yang baru diambil bisa segera disuntikkan ke area tubuh yang akan dituju. Hal itu penting untuk meminimalkan risiko infeksi. Prinsipnya, semakin lama penyuntikan lemak itu tertunda, risiko tercemar kuman semakin besar.

Menurut Danu, jika infeksi telanjur terjadi, penanganannya cenderung sulit. "Sebab lemak yang kita suntikkan itu benda cair. Infeksi yang terjadi bisa saja menyebar jauh dari area yang tempat penyuntikan."

Karena itulah, ulang Danu, faktor keamanan harus benar-benar dipertimbangkan saat memilih layanan transfer lemak. "Kunci keberhasilan transfer lemak ada tiga, dokter yang tepat, fasilitas yang memadai, dan harapan yang rasional.

"Untuk memilih dokter yang tepat, Danu menyarankan masyarakat mengecek di www.perapisurgeon.org. Website resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik Indonesia (Perapi) itu mencantumkan nama-nama dokter anggota Perapi di seluruh Indonesia yang memiliki kompetensi melakukan prosedur transfer lemak.

"Untuk poin fasilitas, kita harus memastikan peralatan yang digunakan benar-benar aman dan efektif.

"Adapun yang dimaksud dengan harapan rasional, terang Danu, ialah harapan perbaikan penampilan yang bisa diwujudkan. "Mengubah penampilan juga ada batasannya. Tidak bisa orang berhidung pesek minta hidungnya dibuat seperti orang Arab atau orang yang berbibir sangat tipis minta ditebalkan seperti model Kylie Jenner," pungkas Danu.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More