Sabtu 07 Mei 2016, 01:00 WIB

Gaji Selangit para Perakit Taktik

Satria Sakti Utama | Olahraga
Gaji Selangit para Perakit Taktik

dari Berbagai Sumber

PERKEMBANGAN industri sepak bola di era milenium semakin tidak bisa lepas dari kekuatan uang.

Gelontoran dana segar miliaran bahkan triliunan rupiah menjadi faktor fundamental untuk membangun tim juara dalam waktu singkat.

Real Madrid menjadi motor awal tren tersebut berkembang dalam beberapa dekade terakhir.

Los Galacticos ialah sebutan bagi Madrid karena memiliki kebijakan mendatangkan para pemain bintang dari seluruh jagat dengan nilai transfer selangit.

Dengan diawali pembelian Luis Figo dari Barcelona (2000) dan Zinedine Zidane dari Juventus (2001), Madrid melanjutkan langkah fenomenal ketika melakukan megatransfer Cristiano Ronaldo dari Manchester United (2009) dan Gareth Bale dari Tottenham Hotspur (2013).

Tak berhenti sampai di situ, el Real juga mengganjar para pemilik banderol supermahal itu dengan gaji selangit senilai puluhan juta pound sterling setiap tahun.

Kini, roket pendapatan tidak hanya ditumpangi para pesepak bola ternama dunia.

Para perakit taktik alias pelatih atau manajer tim kini juga seperti berlomba-lomba menguras dompet klub.

Diiming-imingi bisa meraih prestasi lebih baik, tim-tim kaya raya tidak ragu membuat tren baru dengan membayar para arsitek lebih mahal ketimbang anak-anak didik mereka.

Belakangan, nama Josep Guardiola yang saat ini masih membesut Bayern Muenchen didapuk sebagai pelatih dengan bayaran termahal di dunia.

Pasalnya, klub asal Inggris yang akan ditukanginya musim depan, Manchester City, rela mengeluarkan uang 15 juta pound sterling atau senilai Rp287 miliar setiap tahun untuk mengamankan jasanya.

Gaji ratusan miliar tersebut belum termasuk bonus apabila the Citizens berhasil meraih prestasi.

Uang yang cukup besar agar Pep tidak berpindah ke lain hati mengingat di saat bersamaan sang tetangga, Manchester United, juga sedang berburu pelatih anyar.

Jika dihitung lebih terperinci, mantan pelatih Barcelona itu akan menerima bayaran 288 ribu pound sterling setiap minggunya saat menangani City musim depan.

Nilai gaji itu melebihi pendapatan yang diterima pemain klub, bahkan di Liga Primer Inggris sekalipun musim ini.

Ia mengungguli dua pemain bergaji tertinggi di 'Manchester Biru', yakni penyerang Sergio Aguero dan gelandang tengah Yaya Toure yang tercatat menerima pendapatan senilai 240 ribu pound sterling per pekan.

Bayaran fantastis Guardiola juga lebih banyak ketimbang yang diterima Manuel Pellegrini saat ini.

Manajemen City kabarnya membayar murah jasa juru taktik asal Cile itu dengan merogoh kocek 4,2 juta pound sterling atau Rp86 miliar setiap tahun alias nyaris seperempat gaji Pep nantinya.

Meskipun demikian, Pellegrini tetap menandaskan loyalitasnya kepada klub yang dibawanya ke semifinal Liga Champions musim ini tersebut.

Ia akan menyelesaikan kesepakatan, termasuk membidik target berlaga di kasta tertinggi sepak bola Eropa itu musim depan.

"Sebelum saya selesai, saya akan menyelesaikan kontrak pada tanggal yang sebenarnya. Saya menandatangani kontrak untuk satu tahun lagi (Juli 2017), tapi itu tidak akan pernah digunakan sekarang. Jadi saya akan tetap menyelesaikan kontrak pada 30 Juni," kata Pellegrini.

Pendapatan saat Pep menapakkan kaki di Etihad musim depan akan menjadi nominal paling besar yang diterima pelatih di Liga Primer.

Juru taktik yang paling mendekati bayaran pria berusia 45 tahun itu ialah pria yang sudah menakhodai Arsenal selama 20 musim, yakni Arsene Wenger, dengan nilai 8,3 juta pound sterling (Rp160 miliar).

Meskipun demikian, status pelatih termahal bisa saja berpindah tangan kepada calon nemesis-nya, Jose Mourinho.

Sebelum dipecat Chelsea, Mou bergaji 13 juta pound sterling plus bonus yang totalnya melebihi bayaran yang diterima Guardiola di the Bavarians saat ini.

Kontraproduktif

Memberi bayaran selangit kepada para pegawai klub, termasuk para pelatih dan pemain, memang merupakan hak prerogatif manajemen.

Hingga saat ini, belum ada standar nominal yang menjadi acuan besaran gaji yang diterima para pemain di industri sepak bola.

Meskipun demikian, terdapat banyak pertentangan terkait dengan kebijakan memberikan pendapatan lebih besar kepada pemain daripada yang diterima sang pelatih.

Kebijakan tersebut dinilai kontraproduktif, bahkan dinilai merupakan suatu kebodohan yang dilakukan manajemen klub.

Hal itu menghadirkan kembali memori kemarahan pelatih legendaris Manchester United Sir Alex Ferguson pada Oktober 2010 silam.

Pasalnya, sebagai manajer yang telah memberikan banyak gelar, ia harus rela menerima kenyataan bahwa gajinya hanya setengah dari penyerang Wayne Rooney dalam klausul kontrak baru kala itu.

Pelatih yang menyatakan pensiun pada 2013 tahun itu pun langsung menemui manajemen klub untuk protes.

Setelah melakukan negosiasi, Ferguson akhirnya juga mendapatkan peningkatan upah dua kali lipat dan masalah pun selesai.

"Saya mengatakan kepada mereka bahwa merupakan hal yang tidak adil saat Rooney mendapatkan dua kali dari nilai gaji saya, dan Joel Glazer segera berkata 'Saya setuju dengan Anda, tapi apa yang harus kita lakukan?'," ungkap Ferguson dalam buku biografinya.

"Sederhana saja, kami sepakat bahwa tidak ada pemain yang harus dibayar lebih dari apa yang saya dapatkan. Kami menyepakati dalam waktu singkat apa yang kami bicarakan di kalimat sebelumnya," imbuh Fergie.

Protes manajer yang telah mempersembahkan 13 trofi Liga Primer bagi MU itu rupanya mencetak tren baru.

Jabatan pelatih yang sebelumnya diremehkan, kini lebih dihargai dengan dibayar lebih tinggi daripada para pemainnya.

Selain Guardiola di Manchester City, tren tersebut juga sempat diterima oleh Jose Mourinho di Chelsea.

Eks pelatih Inter Milan itu menerima setidaknya 250 ribu pound sterling per minggu, lebih banyak daripada seluruh pemainnya saat itu.

Di kubu the Gunners, Manajer Arsenal Arsene Wenger kini menerima gaji yang sama dengan dua pemainnya, Mesut Ozil dan Alexis Sanchez.

Keduanya ialah pemain dengan pendapatan terbesar di Arsenal, dengan gaji sebesar 160 ribu pound sterling per pekan.

Begitu juga dengan Manajer Liverpool Juergen Klopp yang mendapatkan upah lebih besar ketimbang seluruh pasukannya, kecuali penyerang Christian Benteke.

Dengan tren baru itu, wajar jika tuntutan terhadap pelatih juga makin besar.

Tidak mengherankan pula jika klub langsung memangkas para peramu taktik jika tidak berhasil mewujudkan ekspektasi itu meski musim belum berakhir, seperti yang dirasakan Mou bersama Chelsea atau Rafael Benitez di Real Madrid.

(Berbagai sumber/R-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More