Rabu 04 Mei 2016, 03:00 WIB

Cegah Kebakaran Hutan dengan Sumur Bor

Richaldo Y Harianja | Humaniora
Cegah Kebakaran Hutan dengan Sumur Bor

Dok.MI

 

PEMBUATAN sumur bor di kawasan gambut dipercaya sebagai langkah pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan. Kehadiran sumur bor juga dinilai sebagai langkah yang cepat, pasalnya bisa menjadi cara paling efisien untuk mendekatkan sumber air ke lokasi rawan kebakaran.

Sebelumnya, akses air yang jauh menjadi salah satu masalah dalam hal pemadaman. Akan tetapi, dengan adanya sumur bor, tidak hanya membuat penanggulangan kebakaran lahan dapat dilakukan segera, tapi juga membawa manfaat lain, yakni pembasahan lahan gambut secara berkala dengan mudah.

“Juga bisa untuk keperluan air sehari-hari warga,” ungkap pakar gambut dan kebakaran hutan Universitas Palangkaraya Aswin Usup saat ditemui dalam Simbolisasi Pembuatan 50 Sumur Bor yang dilakukan Badan Restorasi Gambut (BRG) di Desa Rimbo Panjang, Kabupaten Kampar, Riau, Selasa (3/5).

Daya jangkau sumur bor, lanjut Aswin, bergantung pada kekuatan pompa yang digunakan. Dalam hal ini, bantuan dari BRG mampu menjangkau hingga 200 meter. Itu berarti, setiap sumur bor yang terpasang akan dapat menjangkau area hingga 4 hektare. Namun, jika menggunakan rumus keliling lingkaran, secara teori, itu dapat menjangkau hingga 12,4 hektare.

Pada prinsipnya, sumur bor menyedot air di bawah permukaan tanah. “Jadi kami melewati lapisan gambut, tanah, pasir, hingga tanah keras lagi,” papar Aswin.

Air tanah yang dihasilkan sumur bor itu dapat juga menjadi bahan konsumsi warga karena tingkat keasaman (Ph) yang terkandung hanya 5,5. Debit air sumur bor pada umumnya 1,5 liter per detik. “Namun, di sini mencapai 1,7 liter per detik. Itu artinya air di sini melimpah, apalagi jika musim kemarau, umumnya air tidak akan mengalami penyusutan,” jelasnya.


Jangka pendek

Kepala BRG Nazir Foead menyatakan pembuatan sumur bor menjadi langkah jangka pendek untuk restorasi gambut. Pasalnya, jika hanya mengandalkan sekat kanal, akan butuh waktu yang panjang. “Kalau dia sangat kering dan rusak, satu tahun tidak akan terlihat ada perbedaan,” terang Nazir saat ditemui dalam kesempatan yang sama. Menurutnya, kondisi gambut yang kering untuk kembali prima membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun.

Alasan lain, pembuatan sekat kanal juga memakan biaya lebih banyak ketimbang sumur bor yang hanya menghabiskan dana Rp2,5 juta per sumur.

Duta Besar Norwegia untuk Indonesia Stig Traavik menilai langkah antisipasi Indonesia tersebut perlu mendapat apresiasi. Ia menganggap ke­seriusan pemerintah Indonesia dalam melakukan implementasi pencegahan membuktikan komitmen yang diucapkan dalam Konferensi Perubahan Iklim di Paris tahun lalu. “Akan tetapi saya tidak yakin tahun ini kita bisa bebas api, mungkin itu bisa terealisasi dua atau tiga tahun lagi,” ungkap Traavik. (H-5)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More