Selasa 26 April 2016, 09:34 WIB

Abdul Khoir Mengaku Andi Taufan Berkelit

Abdul Khoir Mengaku Andi Taufan Berkelit

Antara/Wahyu Putro A

 

LUPA, tidak pernah, dan tidak tahu. Kata-kata tersebut mewarnai sidang dan selalu diucapkan tiga saksi yang juga anggota Komisi V DPR, yakni Andi Taufan Tiro, Alamuddin Rois, dan Muhammad Toha (kini anggota Komisi III).

Mereka bersaksi dalam sidang dengan terdakwa Direktur Utama PT Windhu Tunggal Utama, Abdul Khoir, di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Dalam dakwaan Khoir, proyek pembangunan ruas jalan Wayabula-Sofi, Maluku, dan proyek peningkatan jalan ruas yang sama berasal dari program aspirasi milik Andi. "Tahu pembangunan jalan Rp30 miliar? Tahu proyek jalan di Maluku Rp70 miliar?" tanya hakim Faisal kepada Andi. "Tidak tahu, Yang Mulia," jawab politikus Partai Amanat Nasional tersebut.

Hakim Faisal kembali menanyakan kebenaran keterangan Andi. Namun, Andi kukuh dengan jawabannya. "Dibuktikan saja Yang Mulia. Saya (beragama) Islam, tadi telah disumpah mengatakan dengan benar, saya tahu hukumannya," cetus Andi.

Ia pun mengaku tidak pernah mengenal Khoir, Kepala BPJN IX Amran Mustary, dan perantara pemberi suap, yakni mantan anggota DPRD Maluku Utara, Imran Djumadil. Andi menyatakan mengenal staf ahli anggota Komisi V DPR Jailani, tetapi tidak pernah menerima suap dari Khoir.

Khoir menampik. Ia mengaku telah empat kali bertemu Andi. Seluruhnya di kantor Andi, di Gedung DPR. Pada pertemuan pertama, ia diperkenalkan dengan Amran dan Imran oleh Andi.

Di pertemuan terakhir 10 November 2015, Khoir memberikan uang S$206.718 (sekitar Rp2 miliar) secara langsung kepada Andi dengan ditemani Imran. Dalam dakwaan, total uang yang diterima Andi Rp7,4 miliar yang diberikan secara langsung maupun melalui Jailani dan Imran.

Jurus berkelit juga dikeluarkan Muhammad Toha. Ia berulang kali menyatakan tidak pernah bertemu Khoir untuk memperkenalkan anggota Komisi V dari Fraksi PKB lainnya, Musa Zainuddin, terkait dengan kelanjutan proyek program aspirasi darinya.

Saat jaksa KPK Abdul Basir menanyakan apakah Toha keberatan karena usul programnya diberikan ke Musa, Toha menyatakan tidak. Basir lalu menunjukkan foto percakapan Toha dengan mantan anggota Komisi V DPR Damayanti Wisnu Putranti. "Maksudnya apa kata-kata 'di atas bajing....an' itu?," tanya jaksa.

"Mungkin saya marah itu karena mungkin saya diganti jadi kapoksi. Saya tidak tahu bagaimana cara-cara mereka (lobi) ke pimpinan (fraksi), cara-cara yang tidak benar," ucap Toha.

KPK menetapkan lima tersangka dalam kasus suap proyek jalan di Maluku dan Maluku Utara itu. Mereka ialah Khoir, Damayanti, anggota Komisi V DPR Fraksi Partai Golkar Budi Supriyanto, serta asisten Damayanti, Desy A Edwin dan Julia Prasetyarini. Kemarin, KPK kembali menggeledah Kantor BPJN Wilayah Maluku dan Maluku Utara terkait dengan kasus itu. (Nyu/HJ/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More