Selasa 26 April 2016, 09:21 WIB

Berharap Hadiah Vonis Tiga Tahun Saja

Berharap Hadiah Vonis Tiga Tahun Saja

Antara/Wahyu Putro A

 

DUA tumpuk bungkusan kotak disusun di atas bangku kayu panjang. Sebuah kue tart persegi empat berwarna cokelat kehitaman dikeluarkan dari salah satu bungkusan. Tiga lilin kecil ditancapkan di bagian atas kue.

Lilin dinyalakan, pria berbatik dan dua perempuan bernyanyi, "Happy birthday to you, happy birthday to you..." kata ketiganya sembari bertepuk tangan.

Nyanyian ketiganya disambut senyum merekah dari wajah Rinelda Bandaso, perempuan kelahiran Rantepao, Kabupaten Toraja Utara, 18 April 1977. Ine, demikian sapaan akrab Rinelda, tengah merayakan usianya yang telah menginjak 39 tahun.

Ia menautkan jari-jari kedua tangannya di depan dana, berdoa, seraya menutup mata, lalu meniup lilin. Dalam doanya, Rinelda berharap vonis hakim tidak lebih dari 3 tahun.

"Supaya vonis cukup 3 tahun saja, tapi rasanya tidak mungkin," ungkap Rinelda memelas, seusai sidang pembacaan tuntutan jaksa KPK terhadap dirinya, di Pengadilan Tipikor Jakarta, kemarin.

Jaksa KPK menuntut Rinelda selama 5 tahun penjara dikurangi masa tahanan dan denda Rp200 juta subsider 2 bulan kurungan. Rinelda memang merayakan ulang tahunnya ke-39 di tengah jeratan kasus suap pembangunan proyek pembangkit listrik Kabupaten Deiyai, Papua.

Asisten pribadi mantan anggota Komisi VII DPR Dewie Yasin Limpo itu didakwa menerima suap S$177.700 dari Kepala Dinas nonaktif ESDM Kabupaten Deiyai Irenius Adii dan pemilik PT Abdi Bumi Cendrawasih Setiady.

Rinelda mengaku terkejut dengan perayaan ulang tahunnya itu. Matanya tampak berkaca-kaca karena ia tidak menyangka kuasa hukumnya begitu peduli terhadapnya. "Kuenya dari kuasa hukum, saya enggak punya uang buat beli," ujar Rinelda.

Rinelda memang tidak seperti terdakwa korupsi lainnya yang menyewa pengacara kelas wahid dengan bayaran yang 'wah' untuk membantu bebas dari dakwaan. Kuasa hukum yang membelanya merupakan bantuan dari KPK karena Rinelda mengaku tidak punya uang untuk menyewa jasa pengacara. Gaji yang ia terima sebagai asisten pribadi hanya Rp2 juta per bulan dari seharusnya Rp5 juta.

Menurut jaksa, Rinelda terbukti melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan Dewie dan staf ahli Dewie, Bambang Wahyuhadi. Selain uang S$177.700, Rinelda didakwa menerima S$1.000 sebagai imbalan.

Hal yang meringankan, menurut pandangan jaksa, Rinelda bersikap kooperatif, berterus terang, membantu mengungkap pihak lain. Ia ditetapkan sebagai justice collaborator oleh pimpinan KPK pada 15 Desember 2015.

Ketua Majelis Hakim Baslin Sinaga memberi waktu bagi Rinelda dan kuasa hukumnya menyiapkan pembelaan. Sidang akan dilanjutkan pada Senin (2/5). "Kami berikan waktu satu minggu," tutup hakim Baslin. (Erandhi H Saputra/P-1)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More