Kamis 07 April 2016, 17:16 WIB

Polda Sulteng Siapkan Srategi Khusus Untuk Santoso Cs

M Taufan SP | Nusantara
Polda Sulteng Siapkan Srategi Khusus Untuk Santoso Cs

ANTARA

 

KEPOLISIAN Daerah (Polda) Sulawesi Tengah, telah menyiapkan beberapa strategi khusus guna menangkap dengan segera kelompok sipil bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang sudah terkepung dan kekurangan makanan di hutan pegunungan Poso.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Sulteng, Ajun Komisaris Besar Hari Suprapto mengatakan strategi tersebut tidak untuk kepentingan diekspos lebih detail. Tetapi paling tidak, lanjutnya, masyarakat bisa sedikit mengetahui kalau tim gabungan TNI dan Polri yang ada saat ini melakukan operasi tidak main-main dalam hal perburuan gembong sipil bersenjata yang paling dicari di Tanah Air tersebut.

"Pertama operasi semakin diintensifkan. Termasuk pula razia di pintu masuk dan keluar Poso diperketat. Begitupula razia di pintu masuk dan keluar Kecamatan Lore Bersaudara yang saat ini menjadi pusat perburuan," kata Hari di Palu, Kamis (7/4).

Dia memastikan operasi akan terus berjalan dengan baik dan sesuai rencana karena dipimpin langsung oleh Kapolda Sulteng Brigadir
Jenderal Rudi Sufahriadi dan petinggi TNI dari Korem 132 Tadulako.

"Mereka terus mengecek kesiapan dan aktivitas pasukan di lokasi. Bahkan pagi tadi mereka mengecek sejumlah pos-pos yang telah dibuat untuk menyekat pergerakan dari Santoso dan seluruh pengikutnya," ungkap Hari.

Polri maupun TNI kembali memastikan kalau tidak akan menambah pasukan dalam operasi. Pun demikian proses pergantian pasukan dilakukan.

"Kalau untuk pergantian pasukan ada. Tetapi untuk penambahan tidak ada, karena jumlah pasukan 2.000-an lebih itu sudah dianggap cukup. Karena nyatanya, kelompok tersebut semakin terjepit dan tinggal menunggu tertangkap saja," imbuh Hari.

Sepanjang Operasi Tinombala yang dimulai 10 Januari hingga saat ini, TNI dan Polri sudah berhasil menangkap hidup dua anggota MIT. Mereka
ditangkap karena melarikan diri dari kelomponya karena merasa sudah tidak sejalan lagi.

Selain dua yang ditangkap hidup, sepanjang operasi tersebut juga terdata 10 anggota MIT tewas dalam beberapa kali terlibat kontak senjata. Dari jumlah itu, empat di antaranya merupakan warga negara asing (WNA) asal Suku Uighur, Xinjiang, Tiongkok. Mereka teridentifikasi sebagai Farouk alias Magalasi, Nuretin alias Abdul, Joko alias Turang Ismail, dan Tiger.

Dalam operasi itu pula aparat juga mengamankan pelbagai barang bukti diantaranya, dua senjata api laras panjang jenis ruger dan jungle, dua
senjata api laras pendek jenis revolver dan VN, amunisi pelbagai kaliber, 44 buah bom rakitan jenis lontong, dan sejumlah barang bukti lainnya, seperti alkom, peta, kompas, charger solar sel, logistik, serta barang-barang lain berjumlah lebih dari 100 item.

Berdasarkan rilis DPO yang dikeluarkan Polda Sulteng, jumlah kelompok tersebut saat ini tinggal 29 orang. Jumlah itu sudah termasuk tiga amir MIT yakni, Santoso alias Abu Wardah, Basri alias Bagong, dan Ali Kalora. Dari jumlah itu juga sudah termasuk dua WNA asal Uighur, Xinjiang, Tiongkok, dan tiga perempuan asal Bima, Nusa Tenggara Barat. (OL-2)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More