Sabtu 02 April 2016, 05:40 WIB

Bensin dari Minyak Jelantah

(AT/M-3) | Nusantara
Bensin dari Minyak Jelantah

DOK. UGM

 

SEBAGAI mahasiswa, Khoir Eko Pambudi terbiasa dengan uang saku yang pas-pasan. Namun, ia tidak risau kala tidak ada uang untuk mengisi bensin motornya. Eko begitu ia biasa disapa hanya perlu mendapatkan minyak goreng bekas alias minyak jelantah. Mahasiswa Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada (UGM) itu kemudian mengolah jelantah hingga menjadi biogasoline. "Sudah sering saya pakai di sepeda motor saya dan selama ini tidak ada masalah," kata Eko saat ditemui Media Indonesia di Gedung Pusat Antar UGM, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (24/3). Penggunaan minyak jelantah sebagai bahan bakar kendaraan bermotor memang bukan baru. Di Bogor, bus Trans-Pakuan yang dikelola pemerintah kota sejak 2007 menggunakan minyak jelantah sebagai biodiesel. Namun, penggunaan jelantah sebagai biogasoline memang jarang terdengar. Penggunaan minyak jelantah yang dilakukan Eko tidak sembarangan, tapi lewat penelitian bersama dua mahasiswa UGM lainnya, Abdul Afif dan Endri Geovani. Mereka dibimbing Guru Besar UGM Prof Karna Wijaya. "Idenya bagus, walaupun sudah cukup banyak yang juga menelitinya," ujar Karna soal penelitian tersebut. Bukti keunggulan penelitian itu bisa dilihat dari banyaknya penghargaan dari dalam dan luar negeri yang telah diterima tim tersebut, antara lain medali emas dari World Invetion Intellectual Property Association (WIIPA), medali emas dari Indonesian Invention and Innovation Promotion Association (Innopa), medali perunggu dari Malaysian Technology Expo (MTE) 2016, dan penghargaan khusus dari Toronto International Society of Innovation & Advanced Skills (TISIAS) Kanada. "Kami berharap nantinya bisa mengurangi limbah jelantah dan menghasilkan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan," tambah Eko.

Ada biodiesel juga
Abdul Afif Almuflih menceritakan minyak jelantah yang mereka gunakan untuk penelitian didapat dari pedagang makanan di sekitar mereka.
"Kadang diberi gratis, tetapi kadang kami barter dengan minyak goreng baru," kata dia. Pembuatan BBM dari minyak jelantah, tambah Abdul, memanfaatkan reaksi hydrocracking atau penguraian ikatan karbon yang diikuti saturasi molekul hidrogen. Pertama-tama, timnya membuat katalis dari tanah liat atau bentonit terpilar alumina (Al) yang diaktifkan dengan logam kadmium (Cd) sebagai media konversi minyak jelantah. Setelah itu, minyak jelantah yang diletakkan di sebuah wadah dipanaskan dalam tanur listrik hingga menguap dan mengalir melewati katalis. Hasil dari reaksi tersebut, yang berupa campuran biogasoline dan biodiesel, akan menetes ke wadah yang lain. Untuk memisahkan antara biogasoline dan biodiesel, lanjut dia, masih harus dilakukan proses distilasi. "Satu liter minyak jelantah bisa menghasilkan sekitar 420 ml campuran biogasoline dan biodiesel," jelas Abdul. Dalam campuran 420 ml biogasoline dan biodiesel itu, 42% merupakan biogasoline (240 ml) dan 29% merupakan biodiesel (180 ml biodiesel).

Eko memperkirakan biogasoline yang dihasilkan dari penelitiannya tersebut bernilai oktan (RON) 92 atau 93. Namun, lanjut dia, hal tersebut harus diteliti lebih lanjut. Endri Geovani menambahkan, katalis yang dikembangkan sengaja dibuat dari tanah liat agar juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat dan digunakan secara berulang-ulang. Masyarakat pun diharapkan dapat memproduksi biogasoline atau biodiesel dari minyak jelantah maupun dari minyak goreng. Endri berharap di masa depan, penelitiannya tersebut dapat dimanfaatkan dan diaplikasikan secara massal. Dengan dimikian, Indonesia sebagai pemilik ladang kelapa sawit yang terluas dapat memanfaatkannya sehingga bisa mengurangi penggunaan bahan bakar dari fosil. Di masa depan, energi terbarukan semakin dibutuhkan seiring dengan menipisnya energi fossil dan kadar karbondioksida yang tinggi yang dihasilkannya.

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More