Sabtu 02 April 2016, 05:36 WIB

Menjaga Keragaman di Laut Perbatasan

Siti retno Wulandari | Nusantara
Menjaga Keragaman di Laut Perbatasan

ANTARA/SAHRUL MANDA TIKUPADANG

 

JARING rawai (longline) sepanjang 1 kilometer pernah dilihat Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Agus Dermawan di wilayah laut daerah Berau, Kalimantan Timur. Tangkapannya bukan hanya ikan, melainkan juga ratusan penyu yang terjebak. Memang tak melulu untuk dikonsumsi. Akan tetapi, penyu yang lama terjebak dan terlilit jaring akan mati meskipun dikembalikan lagi ke laut. Hewan yang hidup sejak 400 juta tahun lalu itu rupanya tidak hanya berdiam di lautan Indonesia, tepatnya wilayah Laut Sulawesi, tetapi juga bermigrasi hingga negara Malaysia dan Filipina. Karena itu, untuk menjaga perkembangan populasi dan daya hidupnya, pemerintah ketiga negara sepakat membuat kerja sama Sulu Sulawesi Marine Ecoregion (SSME) yang sudah dibicarakan sejak 2001. Pembicaraan tersebut kemudian melahirkan nota kesepahaman pada 2004, kemudian Indonesia menotifikasi pada 2006 menjadi agenda pemerintah ketiga negara. Untuk menjalankan program SSME yang menyangkut hajat hidup tiga negara, dibentuk badan koordinasi Three National Committee (TNC) yang diketuai secara bergiliran. Pada Februari tahun ini, program SSME berakhir dan tidak diperpanjang. Di sisi lain, ketiga negara tetap memiliki kepedulian untuk menjaga kawasan perbatasan yang kaya akan sumber daya alam tidak hilang. Untuk meneruskan pengelolaan keanekaragaman sumber daya laut di wilayah itu, ketiga negara sepakat mengalihkan koordinasi kepada Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Securities (CTI-CFF). Badan ini dibentuk pada 2009 dan terdiri dari enam negara anggota. Selain Indonesia, Malaysia, dan Filipina, anggota lainnya ialah Papua Nugini, Timor Leste, dan Solomon.

Dengan begitu, badan ini memiliki wilayah kerja yang lebih luas dari SSME. Di bawah CTI-CFF, program pengelolaan bentang laut Sulu-Sulawesi berubah nama menjadi Sulu-Sulawesi Seascape Countries (SSSC). "Kami menjadi payung bagi ketiga negara ini agar kegiatannya tetap berjalan. Untuk jalan itu pun kan perlu adanya pendanaan, sementara mereka kan enggak bisa melakukan pencarian, kamilah yang bertindak sebagai badan koordinator untuk mencari sumber dana tersebut," ujar Executive Director Regional Secretariat of Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries, and Food Securities (CTI-CFF), Widi A Pratikto, di Jakarta, Senin (28/3). Meski koordinasi dan pencarian dana menjadi tanggung jawab CTI-CFF, rencana kegiatan dan aksi tidak merupakan wewenang tiap-tiap negara. Jika terjadi perbedaan pendapat, persoalan dapat dilaporkan kepada CTI-CFF dan akan difasilitasi untuk proses penyelesaiannya. Program SSSC mendapat dana dari GIZ yang disalurkan melalui GIZ di ketiga negara tersebut dengan nilai dana hibah sekitar 7 juta euro. "Kami meminta kepada GIZ agar kegiatan ini tidak semata-mata milik tiga negara saja, tetapi juga melibatkan tiga negara lain yang dinaungi CTI-CFF. Nantinya bentang laut Sulu-Sulawesi menjadi bagian dari CTI-CFF," tukas Widi.

Penyu
Terkait dengan keanekaragaman hayati di bentang laut Sulu-Sulawesi, Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (PRL) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Brahmantya Satyamurti, mengungkapkan keunggulan hayati wilayah tersebut juga diiringi tantangan pengelolaan yang tinggi. "Seperti kerusakan dan perubahan habitat, polusi, perubahan iklim, juga penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan," ujar Brahmantya Satyamurti di kantornya, Rabu(30/3). Perihal Penyu, imbuh Brahmantya, hanya merupakan salah satu fokus kegiatan yang dilakukan ketiga negara. Karena itu, wilayah hidupnya yang menjangkau ketiga negara tersebut, masing-masing harus melakukan aksi penjagaan pada hewan yang umur hidupnya bisa mencapai 100 tahun itu. Hal tersebut diketahui melalui pengamatan dan penelitian yang dilakukan selama 10 tahun. Pemerintah Indonesia melalui KKP, melakukan pemasangan label dan transmiter untuk melihat pergerakan penyu melalui citra satelit. Aksi lainnya akan bergerak menuju masyarakat di kawasan konservasi, mulai dari edukasi terkait alat tangkap ramah lingkungan, pengayaan pengetahuan tentang tempat pemijahan ikan dan juga makhluk laut lainnya, hingga penjagaan hidup terumbu karang.

Sayang, soal hasil nyata, perihal pelabelan penyu dan upaya penjagaan jalur lintas, Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut KKP, Agus Dermawan, mengaku tidak bisa memastikan angkanya. "Kalau bicara segitiga terumbu karang, ya di wilayah ini surganya, luas bentang laut ini mencapai 1 juta kilometer persegi. Terkait penyu, kalau bertelur di Malaysia ya enggak bisa dianggap punya kita. Dulu di sepanjang pantai daerah Padang banyak yang menjual telur penyu, sekarang sudah enggak ada," ungkap Agus. (M-3)

Berita Terkini

Read More

Poling

Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi menimbulkan polemik di tengah masyarakat. Setujukah Anda dengan kebijakan zonasi tersebut?





Berita Populer

Read More