Penyesuaian Harga BBM, Pemerintah Kedepankan Aspek Stabilitas

Penulis: Tesa Oktiana Surbakti Pada: Senin, 28 Mar 2016, 17:25 WIB Ekonomi
Penyesuaian Harga BBM, Pemerintah Kedepankan Aspek Stabilitas

MI/Galih Pradipta

PEMERINTAH akan melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar per 1 April 2016. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said memastikan penurunan harga BBM mengutamakan prinsip kestabilan. Dalam artian, jangan sampai penyesuaian harga BBM pada akhirnya memberikan dampak yang memberatkan masyarakat, seperti inflasi yang mendalam.

“Kestabilan harga harus dijaga. Dalam artian pergerakan naik turunnya harga BBM tidak boleh berlebihan, karena harus diingat penurunan BBM juga belum serta merta menurunkan harga. Sedikit sekali impaknya,” tutur Sudirman kepada wartawan saat ditemui di Kantor Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, Senin (28/3).

Berbeda ketika harga BBM naik. Sedikit saja besaran kenaikan, namun dampaknya relatif besar terhadap kenaikan harga bahan pokok hingga biaya distribusi. Sudirman mengakui penurunan harga BBM kali ini terbilang tipis bila dibandingkan penurunan harga minyak dunia yang turun drastis dalam kurun tiga bulan terakhir.

Pemerintah pun juga lebih berhati-hati dalam menentukan formulasi penyesuaian harga BBM yang jatuh di bulan April. Pasalnya, hal itu berdekatan dengan momentum bulan Ramadhan dan Lebaran yang identik menjadi pemicu tajamnya inflasi.

“Situasinya kan sedang menuju bulan Juni. Kita tahu bulan Juni merupakan momentum puasa dan nantinya Lebaran. Sebisa mungkin kita cari formula (penyesuaian harga BBM) yang bisa menjaga stabilitas harga, agar tidak terlalu mempengaruhi kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.

Sebagaimana diketahui, dalam menentukan formula penyesuaian harga BBM, setidaknya pemerintah mengacu pada harga minyak dunia, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan efisiensi mata rantai pasokan.

Dengan kebijakan penyesuaian harga BBM yang dilakukan per tiga bulan sekali, praktis PT Pertamina (persero) yang ditugasi mendistribusikan dan menjual pasokan BBM ke masyarakat memperoleh surplus di tengah pelemahan harga minyak dunia. Sudirman menyatakan surplus tersebut merupakan uang negara namun tetap disimpan BUMN energi yang diwajibkan melaporkan secara berkala. Tercatat, alokasi subsidi untuk BBM dalam APBN 2016 sebesar Rp63,7 triliun yang terdiri dari subsidi minyak tanah dan solar.

“Apakah surplusnya akan disalurkan ke Cadangan Strategis Minyak (Strategic Petroleum Reserve/SPR) atau Dana Ketahanan Energi (DKE), saya rasa belum sampai ke sana (pembahasannya),” cetusnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) IGN Wiratmaja Puja mengamini penyesuaian harga BBM bersubsidi per 1 April 2016 mengedepankan stabilitas. Apalagi, sambung dia, dalam proyeksi pemerintah, harga Mean of Platts Singapore (MOPS) pada periode tiga bulan ke depan, akan merambat naik. Faktor lain yang tak boleh dilupakan, senada dengan Sudirman, tentunya momentum bulan Ramadhan yang jatuh di bulan Juni-Juli.

“Nah kalau kita lakukan penyesuaian lagi (di awal Juli 2016) dan kita naikkan, itu pasti akan berat. Makanya harus dipertimbangkan bagaimana menstabilkan (harga BBM), biar pas Lebaran harga BBM tidak naik tajam,” jelas Wiratmaja.

Dia menambahkan penyesuaian harga BBM yang dijalankan pemerintah akan diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Ditanyai kapan pengumuman penurunan harga BBM, Wiratmaja mengatakan kemungkinan besar Senin (28/3) malam atau Selasa (29/3) besok.

“Ya kalau gak nanti malam, ya besoknya disampaikan. Saya harus lapor ke Pak Menteri dan nanti dilaporkan ke Pak Presiden,” kata dia. Dia pun enggan membeberkan lebih rinci besaran penurunan harga BBM jenis premium dan solar. Hanya saja dia memberi sinyal penurunan tidak akan lebih dari Rp 1.00 per liter. Menanggapi usulan dari PT Pertamina (persero) terkait penurunan harga BBM bersubsidi sebesar Rp 400 per liter, pihaknya akan mempertimbangkan.(OL-4)

Berita Terkini

Read More

Poling

Sekelompok pendukung calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Kamis (9/5), berencana menggelar aksi mendesak KPU untuk mendiskualifikasi pasangan 01 Joko WIdodo-Ma'ruf Amin. Apakah Anda setuju dengan pengerahan massa untuk memaksakan kehendak kepada KPU?





Berita Populer

Read More